Hal tersebut disampaikan oleh Presiden Direktur Astra International, Rudy Chen, dalam acara Astra Media Day 2026 di Menara Astra, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, Rabu 23 September 2026.
"Pada semester pertama 2026, Grup mencatat peningkatan kontribusi dari bisnis otomotif dan jasa keuangan," ujar Rudy.
Ia merinci bahwa sektor otomotif dan jasa keuangan masing-masing membukukan pertumbuhan laba bersih sebesar 9 persen dan 6 persen. Kendati demikian, kinerja dari lini solusi pertambangan dan alat berat tercatat lebih rendah.
Pada Mei 2026 lalu, lanjut Rudy, Astra telah mengumumkan strategi korporasi baru yang bertujuan untuk memberikan imbal hasil pemegang saham yang stabil dan berkelanjutan.
"Strategi tersebut mencakup fokus pada tiga core businesses Grup, yaitu otomotif, jasa keuangan, dan solusi pertambangan & alat berat; kerangka alokasi modal yang lebih disiplin, termasuk dividen dan share buyback; serta komitmen untuk bertransformasi melalui penyelarasan kepemimpinan," ungkapnya.
Selain itu, Astra mengumumkan program pembelian kembali (buyback) saham baru senilai hingga Rp8 triliun untuk jangka waktu 12 bulan ke depan, yang telah memperoleh persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 17 Juli 2026.
"Selain itu, PT United Tractors Tbk (UT) juga mengumumkan program pembelian kembali saham baru hingga Rp2 triliun untuk tiga bulan ke depan. Sebelumnya, sejak November 2025, Astra dan UT telah menyelesaikan program share buyback dengan total nilai Rp7,4 triliun hingga akhir Juni 2026. Astra juga telah menjalankan penyelarasan insentif manajemen melalui program MSOP," tambahnya.
Sementara itu, pendapatan bersih konsolidasian Grup pada semester pertama tahun 2026 tercatat sebesar Rp157,9 triliun, atau turun 3 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Adapun laba bersih, tidak termasuk pos non-berulang (non-recurring items), turun 7 persen menjadi Rp14,9 triliun.
Meskipun hampir seluruh lini bisnis mencatatkan kinerja yang baik, performa Grup secara keseluruhan terimbas oleh melemahnya kontribusi dari bisnis solusi pertambangan dan alat berat. Hal ini mencerminkan minimnya kontribusi dari divisi pertambangan emas, penurunan penjualan alat berat, serta penurunan volume pada divisi jasa penambangan dan batu bara.
Perseroan juga mencatat pos non-berulang sebesar Rp2,4 triliun, yang sebagian besar terdiri atas penyesuaian nilai wajar atas investasi ekuitas dan penurunan nilai (impairment). Dengan memperhitungkan komponen tersebut, laba bersih Grup tercatat sebesar Rp12,5 triliun, atau turun 19% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
BERITA TERKAIT: