Rencana tersebut disampaikan dalam keterbukaan informasi EPAC di Bursa Efek Indonesia (BEI).
EPAC selama ini menjalankan bisnis kemasan fleksibel melalui dua metode produksi. MES menangani produksi kemasan konvensional dengan teknologi cetak rotogravure, sementara PT Epac Flexibles Indonesia (EFI) mengoperasikan bisnis kemasan dengan teknologi digital printing.
Pantauan RMOL, dalam keterbukaan informasi tersebut, manajemen menyampaikan operasional MES menjadi beban terhadap kinerja EPAC secara konsolidasi. MES memproduksi kemasan melalui proses konversi bijih plastik hingga menjadi kantong atau pouch, termasuk kemasan untuk merek FMCG dan kantong polos.
“Operasional dari MES menimbulkan beban bagi performa EPAC secara konsolidasi,” tulis manajemen, dikutip redaksi di Jakarta, Jumat 28 Agustus 2026..
Penilaian tersebut terlihat dari perbandingan kinerja aktual EPAC dengan proforma keuangan apabila MES tidak beroperasi. Berdasarkan proforma hingga kuartal II 2026, rugi bersih sekitar Rp2,8 miliar berpotensi berubah menjadi laba bersih sekitar Rp1,7 miliar apabila operasional MES dihentikan sejak awal tahun.
Dalam skenario yang sama, EPAC mencatat Earnings per Share (EPS) sebesar Rp0,51. Sementara itu, dengan menggunakan harga penutupan saham EPAC pada Selasa, 30 Juni 2026 sebesar Rp69, rasio Price to Earnings (PER) tercatat 135,29 kali.
Atas evaluasi tersebut, EPAC akan menghentikan operasional MES secara bertahap dengan batas waktu penyelesaian paling lambat 31 Desember 2026.
“EPAC berencana untuk menghentikan operasional MES,” tulis manajemen.
Manajemen berharap langkah ini dapat meningkatkan efisiensi dan memperbaiki hasil usaha serta kinerja keuangan perseroan pada tahun-tahun mendatang.
“Diharapkan dengan adanya penghentian operasional tersebut, di tahun-tahun selanjutnya, EPAC dapat mengalami peningkatan hasil dan kinerja secara substansial,” tulis manajemen.
BERITA TERKAIT: