Berdasarkan data World Bank, harga gandum U.S. Hard Red Winter (HRW) naik sekitar 27,4 persen, dari rata-rata 243,3 Dolar AS per ton pada 2025 menjadi sekitar 310 Dolar AS per ton pada Juli 2026.
Direktur Eksekutif Asosiasi Produsen Tepung Terigu Indonesia (APTINDO) Ratna Sari Loppies mengatakan, kenaikan harga gandum dunia tidak dapat dihindari dan turut diperberat oleh pergerakan nilai tukar Rupiah.
“Harga gandum dunia naik, tidak bisa dihindari juga dengan kenaikan exchange rate,” kata Ratna kepada
RMOL di Jakarta, Senin 24 Agustus 2026.
Menurut Ratna, faktor iklim menjadi salah satu tantangan yang memengaruhi produksi gandum di sejumlah negara pemasok. Kondisi cuaca ekstrem bahkan menyebabkan gagal panen sehingga produksi gandum mengalami penurunan.
“Urusan iklim juga memengaruhi produksi gandum di beberapa negara seperti AS. Produksi turun akibat gagal panen karena iklim ekstrem,” ujarnya.
Penurunan produksi tersebut berpotensi memperketat pasokan gandum di pasar global dan mendorong kenaikan harga komoditas. Bagi industri tepung terigu dalam negeri, kondisi ini menjadi tantangan karena bahan baku gandum sebagian besar masih berasal dari impor.
Meski demikian APTINDO memastikan penyesuaian harga tepung terigu akan dilakukan secara bertahap agar tidak langsung membebani konsumen.
“Harga terigu dijaga agar kenaikan bertahap,” tegas Ratna.
APTINDO juga menyiapkan diversifikasi sumber pasokan untuk mengantisipasi gangguan pasokan dari negara tertentu. Pasokan gandum dari Ukraina, misalnya, dapat dialihkan dari negara lain seperti Australia, Amerika Serikat, Argentina, dan Bulgaria.
“Pasokan dari Ukraine bisa di-source dari negara lain, Australia, AS, Argentina, Bulgaria, dan lain-lain,” pungkasnya.
BERITA TERKAIT: