Ketua ATSI: Efisiensi di Industri Telko Ibarat Bernafas

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/'></a>
LAPORAN:
  • Minggu, 06 Agustus 2017, 14:41 WIB
Ketua ATSI: Efisiensi di Industri Telko Ibarat Bernafas
Ilustrasi/Net
rmol news logo Efisiensi di industri teknologi informasi dan telekomunikasi tidak bisa dihindari. Pasalnya, efisiensi suatu tuntutan yang terjadi dalam proses bisnis yang terus berulang.

Demikian disampaikan Ketua Umum Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI) Merza Fachys dalam keterangan persnya di Jakarta, Minggu(6/8).

Pernyataan Merza tersebut mengomentari tren di industri teknologi informasi global yang cenderung mengurangi jumlah pekerja digantikan teknologi yang makin canggih serta pergeseran preferensi konsumen yang kian dinamis.

"Ibaratnya kalau nafasnya berat, sudah saatnya cari tempelan dengan nafas yang masih panjang. Kalau tidak, ya diambil alih oleh mereka yang nafasnya masing panjang," katanya.

Merza menilai, seluruh pihak perlu mawas diri dalam menilai perusahaan apakah masih bisa bernafas panjang atau tidak.

"Sehingga bisa benar-benar diketahui, perlu tidaknya konsolidasi di masa seperti ini," ujar Merza.

Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara pernah memberi sinyal agar operator telekomunikasi berkonsolidasi. Sebab kerugian terus diderita oleh operator telko, khususnya yang baru bergabung di sektor tersebut.

"Untuk menyelamatkan mereka, saya bantu cutting loss, kalau rugi berhenti sampai situ saja tapi namanya ego, ya sudah makan saja itu ego," kata pria yang akrab dipanggil Chief RA itu, belum lama ini.

Secara terpisah, praktisi industri teknologi informasi dan komunikasi (TIK) Hermawan Sutanto menilai efisiensi yang berujung pada PHK di industri TIK bisa dimaklumi. Sebab pada dasarnya ranah usaha itu menuntut perubahan secara berkelanjutan. Imbasnya terkadang menimpa tenaga kerja.

Hermawan melihat efisiensi merupakan cara tersendiri dari pelaku industri, terutama untuk berinvestasi di bidang yang lebih sesuai dengan prediksi di masa depan. Ada trend yang berubah dan waktu perubahannya tak menentu di industri TIK.

Berbeda dengan industri minyak dan gas yang hanya berubah ketika mencari sumber daya baru, saat yang lama sudah menipis atau habis.

Namun, menurut dia, kebijakan efisiensi dan PHK itu tak akan berlaku umum. Ada bidang lain yang diisi dari keputusan untuk memecat tenaga kerja.

Buktinya, kata Hermawan, perusahaan teknologi yang bertahan tetap membuka lapangan pekerjaan baru. Mereka fokus mengisi ruang untuk trend yang menjanjikan di masa mendatang. Misalnya saja yang saat ini digandrungi yakni bisnis server cloud.[wid]



Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA