Investasi Cold Storage Tembus Rp 80 Triliun

Kebutuhan Makanan Segar Meningkat

Rabu, 02 Agustus 2017, 09:12 WIB
Investasi Cold Storage Tembus Rp 80 Triliun
Foto/Net
rmol news logo Potensi bisnis alat penyimpan makanan segar dengan teknologi pendinginan alias cold storage di Indonesia sangat besar. Bahkan trennya cenderung meningkat. Pengusaha kudu memanfaat­kannya.

Chairman Asosiasi Rantai Pendingin Indonesia (ARPI), Hasanuddin Yasni menjelas­kan, alasan prospektif bisnis cold storage yang besar adalah dampak dari kebutuhan makanan segar di kota besar. "Perusahaaan harus siap membuat produk yang lebih inovatif dan optimal untuk memenuhi permintaan pasar," kata Hasanuddin di Jakarta, kemarin.

Dia melihat kebutuhan pro­dusen makanan segar akan cold storage kebanyakan ada di kota-kota besar, khususnya Jakarta. "Biasanya posisi kota besar apalagi Jakarta adalah sebagai pusat perdagangan yang menghubungkan kegiatan bisnis makanan segar," jelasnya.

Menurut Hasanuddin, po­tensi cold storage untuk me­nyimpan makanan segar di Indonesia terus meningkat. Bahkan saat ini mencapai angka 60 juta ton per tahun. "Nilai investasinya yang kita catat saja mencapai kisaran Rp 80 triliun," tegasnya.

Ketua Komite Tetap Industri Makanan dan Protein Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Thomas Darmawan menambah­kan, bahwa yang perlu diperha­tikan oleh pengusaha cold stor­age sekarang adalah di sektor perikanan.

"Saya yakin sekali bahwa potensi dari industri perikanan di Indonesia sangat besar," ujar Thomas.

Menurutnya, pelaku-pelaku usaha di sektor perikanan pasti membutuhkan sistem pendingi­nan untuk ikan hasil tangkapan dari kapal nelayan. "Indus­tri makanan sangat berkaitan erat dengan industri pendingin untuk membantu mempertah­ankan kualitas dari makanan," ucapnya.

Thomas juga meyakini bahwa industri cold storage akan mendapat dukungan dari pemerintah. Menurut dia, mesin penyimpanan dengan teknologi pendingin sejalan dengan salah satu program nawa cita Presiden Joko Widodo.

"Sektor makanan dan energy menjadi sektor prioritas di tahun 2017 ini," tuturnya.

Sementara itu, Managing Director Pelita Promo Internusa (PPI) Sofianto Widjaja menu­turkan, salah satu cara untuk mendongkrak bisnis cold stor­age adalah dengan menggelar pameran International Indonesia Seafood & Meat Expo (IISM Jakarta) di Jakarta International Expo, Kemayoran pada 28 September 2017. "Ini menjadi kesempatan bagi para pemain industri terkait untuk memper­luas bisnis para pelaku usaha," jelasnya.

Dia menjelaskan, pameran ini nantinya diadakan bersamaan dengan pameran teknologi Refrigerasi dan HVAC terbesar di Indonesia, Refrigeration & HVAC Indonesia (RHVAC).

"Kami hadir untuk memberi­kan solusi terkait pada industri rantai pendingin, tata udara bangunan dan sektor komersial," kata Sofianto.

Pameran ini akan bekerjasama dengan 148 perusahaan dari 14 negara. Australia, India dan Belanda turut berpartisipasi. "Jumlah pesertanya naik 20 persen," tukasnya. ***

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA