Direktur Utama PT Pelni Elfien Guntoro mengatakan, saat penandatanganan nota kesepahaman (
Memorandum of Understanding/MoU) antara Pelni dan Meyer setahun lalu, disepakati harga 70 juta Euro per unitnya.
"Setelah kita cek, kalau diÂoperasikan secara komersial di Indonesia, kita hanya sanggup 50 juta Euro per unit," kata Elfien di Kantor Kementerian Koordinator bidang KemaritiÂman, Jakarta, kemarin.
Dilanjutkannya, kapal terseÂbut akan digunakan untuk mengÂganti unit-unit kapal lama yang dinilai sudah tidak efisien dan tidak ekonomis.
Selain itu, Pelni berharap kapal yang digunakan juga bisa memiliki fungsi pengangkutan barang selain mengangkut penumpang (multi purpose).
"Kita akan gunakan untuk meÂlayani rute utama yaitu Jakarta-Makassar-Bau Bau-Ambon-Sorong," lanjut Elfien.
Menurutnya, Pelni bisa saja membeli kapal tersebut kalau tarif pelayaran yang dibebankan ke pelanggan lebih tinggi dari saat ini.
"Sementara ini usulan mereka paling sedikit harganya 70 juta euro. Memang kapalnya bagus. Terlalu bagus bahkan, ibaratnya seperti mobil Mercedes Benz dipakai angkot kan kapalnya harusnya bukan kapal itu," ujarnya.
Jika negosiasi menemui jalan buntu, Pelni bisa saja memÂbatalkan kerja sama tersebut dan mencari pemasok lain yang lebih murah.
Selain itu, ada kemungkinan Pelni bekerja sama dengan peruÂsahaan galangan kapal lokal jika industri dalam negeri terbilang mampu.
"Kami coba cari galangan dari negara lain atau kerja sama dengan dalam negeri supaya kapal yang diperoleh masih memenuhi standar spesifikasi segala macam, tapi tetap feasible dioperasikan di Indonesia," pungkas Elfien.
Gengsi BersinergiPengamat BUMN Ferdinand Hutahaean menilai, selama ini sinergi BUMN yang digembar-gemborkan Menteri BUMN Rini Soemarno belum berjalan dengan baik.
"Kita memiliki industri transÂportasi yang besar seperti PT Inka untuk kereta api, PT Pal, maupun Dok Perkapalan, ini harusnya bisa disinergikan. Nyatanya, masih banyak BUMN yang pesan produk transportasi dari luar negeri," kata Ferdinand kepada
Rakyat Merdeka. Padahal, kalau kapal laut maupun kereta api dibeli melaÂlui BUMN atau perusahaan lokal, harga yang didapatkan bisa lebih murah dan kualitas yang didapatkan sama baiknya dengan produk buatan luar negeri.
"BUMN saat ini sepertinya masih gengsi bersinergi. Bahkan di beberapa lini bisnis, mereka malah bersaing antar sesama perusahaan pelat merah. Kalau begini, bukannya makin besar, justru malah kompetitor dari pihak swasta yang ambil unÂtung," tegas Ferdinand.
Sebagai informasi, Pelni dan Meyer Werft menandatangani MoU pada 18 April 2016 silam untuk pengembangan baru dan pengadaan kapal ferry yang dihadiri oleh Presiden Joko Widodo.
Saat ini, Pelni memiliki 28 unit kapal penumpang dan empat unit kapal barang yang melayani 91 pelabuhan yang tersebar di seluruh Indonesia. ***
BERITA TERKAIT: