"Harusnya
harga wajar BRPT di bursa sekitar Rp 6.000 per saham," ujar Kepala
Riset MNC Securities Edwin Sebayang kepada wartawan, Rabu (26/4).
Menurut
dia, langkah korporasi BRPT mengakuisisi mayoritas saham ‎Star Energy
Group Holdings Pte Ltd (SEGHL) akan menjadikan bisnis BRPT lebih kuat.
Dengan begitu sumber pendapatan ke perseroan menjadi lebih beragam,
yakni dari sektor pembangkit listrik panas bumi dan petrokimia.
Belum
lagi, perseroan juga akan menjaminkan 850 juta saham PT Chandra Asri
Petrochemical Tbk (TPIA) untuk mendapatkan pinjaman sekitar 300 juta
dolar AS dari sindikasi bank.‎
"Secara
profit semakin bagus. Karena revenue akan semakin besar, dan net profit
akan semakin besar karena akan ‎semakin bagus," katanya.
Sebagaimana
diketahui, BRPT telah memperoleh fasilitas pinjaman sebesar USD250 juta
dari Bangkok Bank Public Company Limited.‎ Perjanjian fasilitas
pinjaman tersebut telah ditandatangani kedua pihak pada 24 Maret 2017.‎
‎
Saat
ini, BRPT merupakan pemegang saham pengendali di TPIA, yang selama ini
menjadi penopang utama kinerja bisnis dan saham perseroan.‎
Sebagaimana diketahui, tiap tahunnya Chandra Asri memperoleh kinerja
yang positif. Pada tahun 2016, laba bersih TPIA mencapai 300 juta dolar
AS, atau naik seribu persen dari posisi laba 26,33 juta dolar AS.
‎
Menurut
Edwin, ketika BRPT, Star Energy dan TPIA bergabung menjadi satu untuk
fokus dalam mengelola geothermal, maka bisa membangun pembangkit listrik
di Indonesia dari sumber alternatif, selain yang sudah ada saat ini. ‎
Analis
senior dari Binaartha Sekuritas Reza Priyambada berpendapat
transformasi bisnis yang dilakukan Barito akan sukses jikalau melihat
BRPT mengakuisisi Star Energy.
"Dari
perkayuan ke sumber daya alam dia ke arah bahan dasar karet sintetis.
Dengan masuknya Star Energy akan masuk bisnis energi. Maka menambah
added value. Saham Star Energy ke BRPT maka akan lebih solid," terang
Reza.
Ke depan, kata
Reza, pelaku pasar tetap optimis dengan kinerja saham BRPT. Namun, lebih
optimis ketika Star Energy meraih nilai kontrak yang nyata untuk
dijalankan pada tahun ini maupun yang akan datang.
"Dengan
masuknya Star Energy, maka target harga beli untuk pelaku pasar di hari
ini sebesar Rp 4.000 per saham. Ini kan pasar diperkirakan akan
merespon baik, setelah tuntas akuisisi," ‎pungkas Reza.‎ [dem]