Tak heran, target diprediksi akan sulit dicapai. Tahun lalu, Bulog Kalsel juga kesulitan mengejar target serapan pengadaan beras petani lokal. Dari target yang sama, terealisasi hanya sekitar tujuh ribu ton.
Kepala Bidang OPP Bulog Kalsel Sulais menjelaskan, target serapan pet5ani lokal tahun lalu gagal tercapai salah satunya karena faktor kondisi alam yang mempengaruhi panen petani.
Selain itu, masih tingginya harga jual para petani padi. Sedangkan harga beli Bulog masih di bawah.
"Kami memang ada program pembelian beras lokal dengan standar harga sampai ke gudang Bulog maksimal Rp 7.300 per Kg. Namun kami masih sulit untuk menyerap beras-beras itu karena harganya masih di atas standar Bulog," tambahnya.
Sulais memaparkan, hingga saat ini, daerah yang paling banyak diserap beras petani lokalnya di sub divre Barabai dengan total 3.771.240 ton. Di sub divre ini target hingga akhir tahun sejumlah 21.490.000 ton.
Sedangkan daerah kedua yang juga banyak menyerap ada di Divre Kalsel yang saat ini sudah terserap 1.731.870 ton dari target 12.785.000 ton.
Untuk Kansilog seperti GSP Jelapat dan GDT Batulicin serapan masih sangat minim yang hingga saat ini hanya 40.005 ton dari jumlah target 725 ribu ton. "Tahun lalu target tak tercapai karena sebagian besar daerah sentra produksi padi mengalami gagal panen karena anomali cuaca," terangnya mengutip dari Jpnn (Jumat, 15/7).
Ketahanan stok beras di Kalsel, imbuh Sulais, bertahan hingga enam bulan ke depan. Pasalnya, Bulog juga melakukan penambahan stok dengan mendatangkan beras dari pulau Jawa dan Sumatera hingga luar negeri seperti Thailand.
[wid]
BERITA TERKAIT: