"Dengan kondisi (Terminal Tanjung Priok) seperti sekarang sungguh tidak manusiawi," kata pengamat tansportasi Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Djoko Setijowarno.
Kumuh, kotor, dan jorok. Kesan ini sepertinya menjadi pemandangan biasa terminal tersebut. Padahal ia perhatikan di depannya sudah ada Stasiun Tanjung Priok yang bersih dan nyaman.
Penumpang yang akan mudik tidak mendapat kepastian waktu berangkat. Juga tidak ada ruang tunggu penumpang. Tenda yang dibangun justru dipakai untuk parkir sepeda motor. Sementara calon pemudik duduk lesehan di tempat yang panas.
Kondisi ini diperparah hirupan knalpot bus yang menghadap kumpulan pemudik menunggu.
"Sungguh tidak sehat," ujarnya prihatin.
Tahun depan, menurut dia, bangunan terminal hendaknya sudah direnovasi sesuai dengan PP Nomor 74 tahun 2014 tentang Angkutan Jalan.
"Jika tahun depan masih dibiarkan seperti ini, jangan harap warga makin berminat naik transportasi umum. Bahkan bisa ditinggalkan menggunakan kendaraan pribadi yang tentunya menambah macet jalan, kuras BBM, nambah polusi," terangnya.
Belum lagi menyoal tarif bus di terminal tersebut yang juga dinilainya harus ditertibkan. "Ada bus jurusan Jakarta-Madura menjual tiket senilai Rp 600 ribu per penunpang. Ini setara dengan tiket kereta eksekutif dan pesawat terbang," bebernya.
[wid]
BERITA TERKAIT: