Semangat Swasembada Daging Sapi Mengendur

Sampai 2026, Kita Masih Ketergantungan Impor

Rabu, 22 Juni 2016, 08:50 WIB
Semangat Swasembada Daging Sapi Mengendur
foto:net
rmol news logo Pemerintah terus menunjukkan sikap realistis, tidak lagi banyak menjanjikan target ambisius. Kali ini di sektor peternakan, Presiden Jokowi menyebutkan swasembada sapi baru bisa dicapai 10 tahun mendatang.

Pernyataan tersebut disam­paikan Presiden saat meninjau pembibitan sapi lokal potong milik PT Karya Anugra Rumpin, di Bogor, kemarin.

"Ini kan memang proses panjang, bukan instan. Memerlukan program jangka panjang. Hitung-hitungan kita, itu akan selesai (program swasembada-red) 9 sampai 10 tahun. Kalau konsisten dan terus-menerus saya kira bisa swasembada daging," kata Jokowi.

Sebelumnya, pemerintah menar­getkan dapat mencapai swasem­bada sapi dalam waktu 5 tahun. Dalam berbagai keterangannya, para menteri terkait menyampai­kan optimisnya untuk mencapai target.

Jokowi mengatakan, lamanya target swasembada disebabkan banyak pembenahan yang harus dilakukan mulai dari hulu sam­pai ke hilir, dari pembibitan sapi sampai rantai pasok.

Dalam proses menuju swasem­bada, Jokowi memastikan akan tetap melakukan impor daging sapi untuk memenuhi kebutuhan konsumsi, selama pasokan dari dalam negeri belum terpenuhi.

Jokowi mengatakan, untuk mencapai target swasembada, pe­merintah akan mengubah program peternakan. Dia ingin program bagi-bagi sapi ke petani, tidak lagi dilakukan, tanpa manajemen pengawasan.

Jokowi mengungkapkan, saat ini pemerintah tengah mematang­kan program pembudidayaan sapi lewat pengembangan produksi sperma unggulan. Nanti, anakan dari hasil pembiakan dari hasil sperma unggulan akan dibagikan ke petani. Tentunya dilengkapi dengan pendampingan. Selain itu, sperma unggulan akan dibagikan, disuntikkan kepada sapi-sapi lokal di berbagai sentra sapi di seluruh wilayah Indonesia.

Untuk merealisasikan pro­gram tersebut, Jokowi mengaku telah menugaskan Kementerian Pertanian (Kementan) dan Ke­menterian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi.

Di tempat yang sama, Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi M Nasir menyatakan siap menyukseskan program swasem­bada sapi. "Saya pribadi berharap inovasi dalam sektor peternakan sapi ini menjadi awal kontribusi iptek dalam mendukung program utama pemerintah dalam ketahanan pangan," ujar Nasir.

Menurut Nasir, adanya sentuhan teknologi pada industri peterna­kan mempunyai peran yang cukup penting. Ia mencontohkan, dalam menghasilkan bibit yang unggul, hewan ternak harus punya genetik garis keturunan yang baik.

Daging Masih Mahal


Berbagai upaya dilakukan pe­merintah untuk menekan harga daging belum mendapatkan hasil memuaskan. Harga komoditas tersebut masih mahal, rata-rata Rp 120 ribu per kilogram (kg) di pasaran.

Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution tidak percaya harga daging masih mahal. "Udah turun juga, itu harga daging yang mana dulu," kata Darmin.

Darmin menuturkan, daging beku impor sudah digelontorkan ke pasar. Harganya dijual Rp 80 ribu per kg. Dia menyarankan masyarakat beralih membeli daging beku impor. Menurutnya, saat ini yang terpenting bukan­lah jenis daging sapi, apakah itu daging sapi beku atau bukan. Namun, saat ini yang terpenting adalah nilai guna dari daging. "Ini sama-sama daging, bisa digunakan untuk daging rendang," jelasnya.

Darmin optimistis harga daging segar akan segera turun seiring banyaknya daging beku di pasaran.

Jokowi meminta, target harga daging Rp 80 ribu per kg terus dikejar. Harga daging sapi di beberapa negara ada yang dijual di kisaran Rp 55 ribu sampai Rp 60 ribu per kg. Seharusnya, harga daging di Indonesia bisa menyentuh di bawah harga Rp 80 ribu kg.

"Harus dikejar terus dan saya kira sekarang ini ada BUMN, swasta, ada 10 yang bergerak di pasar. Pelan-pelan harganya akan ketarik turun. Karena, nyatanya, swasta dan BUMN bisa jual den­gan harga Rp 70 sampai Rp 80 ribu per kg," kata Jokowi.   ***

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA