Perusahaan minyak dan gas pelat merah ini akan mengembangkan PLTP Karaha di Jawa Barat, PLTP Ulubelu 3 dan 4 di Lampung, serta PLTP Lumut Balai 1 dan 2 di Sumatera Selatan, setelah PLTP Kamojang. Rencananya, Pertamina akan meminjam dana tambahan untuk pembiayaan proyek-proyek dan ekspansi bisnis tersebut.
Diungkapkan Direktur Utama PT Pertamina Dwi Soetjipto, PLTP Karaha akan menghasilkan pasokan listrik sebesar 1x30 MW, sedang PLTP Ulubelu 3 dan 4 menghasilkan 2x55 MW, serta PLTP Lumut Balai 1 dan 2 menghasilkan 2x55 MW.
"Pengembangan energi panas bumi adalah salah satu prioritas perusahaan di masa depan untuk mewujudkan kedaulatan energi. Ketiga PLTP yang dikembangkan saat ini mampu menghasilkan tambahan pasokan listrik 505 MW di 2019," kata Dwi.
Selain tiga proyek tersebut, Pertamina, kata Dwi, juga sedang membangun proyek PLTP Lahendong 5 dan 6 dengan kapasitas 2x20 MW dan pembangkit skala kecil Lahendong berkapasitas 2x5 MW di Sulawesi Utara.
Pembangunan juga dilakukan pada PLTP Sibayak berkapasitas 1x5 MW di Sumatera Utara, PLTP Hululais 1 dan 2 berkapasitas 2x55 MW di Bengkulu dan PLTP Sungai Penuh 1 berkapasitas 1x55 MW di Jambi.
"Proyek-proyek tersebut, akan mulai beroperasi komersial secara bertahap, mulai 2015 hingga 2019," tegas Dwi.
Untuk pembiayaan proyek-proyek dan ekspansi bisnis tersebut, Pertamina membutuhkan tambahan dana yang akan didapatkan dari penambahan utang perseroan. Namun Dwi belum mau merinci besaran utang yang akan ditambah Pertamina dalam waktu dekat.
Ia mengatakan, total aset Pertamina saat ini mencapai 50,3 miliar dolar Amerika, atau sekitar Rp 650 triliun. Sedangkan nilai utang mencapai 16,6 miliar dolar AS atau sekitar Rp 215 trilun. Perincian dari utang tersebut adalah utang jangka pendek 4,9 miliar dolar AS (Rp 63,7 miliar), utang jangka panjang sebesar 3 miliar dolar AS, setara Rp 39 triliun dan utang melalui penerbitan obligasi mencapai 8,3 miliar dolar AS atau sekitar Rp 107 triliun.
"Total utang kami 16,6 miliar dolar AS,
debt equity ratio kami sebesar 33,77 persen. Ini masih seimbang, dan baik untuk perkembangan bisnis kami," kata Dwi.
Selain pengembangan PLTP, Pertamina akan menambah kapasitas fasilitas pengelolahan minyak mentah (kilang), sedangkan di sisi hulu akan meningkatkan cadangan migas.
"50 persen bahan bakar minyak kita impor. Oleh karena itu, kami dorong tambahan kapasitas. Ini butuh investasi besar, posisi produksi Pertamina 23 persen dari produksi nasional. Padahal, negara lain di atas 50 persen. Pertamina akan meningkatkan perannya di
up stream," jelasnya.
Vice President Corporate Communication Pertamina Wianda Pusponegoro mengatakan, tambahan modal melalui pinjaman memang dibutuhkan perseroan untuk melanjutkan ekspansi bisnis.
Selain itu, Pertamina juga akan meneruskan program efisiensi menyusul masih rendahnya harga minyak dunia.
"Hingga akhir Mei 2015, Pertamina telah menghemat 172 juta dolar Amerika atau sekitar Rp 2,2 triliun melalui pelaksanaan breakthrough project yang dijalankan perusahaan tahun ini. Hasil efisiensi ini bisa disisihkan untuk biaya lain," kata Wianda kepada kepada
Rakyat Merdeka.
Untuk itu, upaya-upaya efisiensi kata Wianda, menjadi penting untuk terus-menerus dilakukan. "Kami optimistis bisa melakukan efisiensi hingga akhir tahun sehingga bisa meningkatkan kapasitas bisnis di segala lini ke depannya, baik di sektor minyak maupun gas," tutup Wianda. ***
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google