Perwakilan China National Oil Offshore Corporation (CNOOC) kemarin menemui Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) membahas rencana tersebut.
“Mereka sudah datang ke kantor saya, sudah mau renegosiasi,†cetus Menteri ESDM Jero Wacik kepada pers di Jakarta, kemarin.
Wacik menerangkan, pemerintah dan CNOOC akan menindaklanjutinya dengan membentuk tim renegosiasi. Targetnya, proses tersebut akan kelar tahun ini.
Ditegaskan, renegosiasi (nego ulang) ini penting karena harga gas Tangguh yang dijual ke China terlalu murah. Saat ini harga gas internasional, jauh di atas harga kontrak ke China.
Harga gas ke Fujian China hanya 3,35 dolar AS per
million metric british thermal units (MMBTU). Padahal, Indonesia saat ini mengeskpor gas ke luar negeri dengan harga sekitar 18 dolar AS per MMBTU. Dan untuk harga jual gas domestik 10 per dolar AS MMBTU.
Wakil Direktur ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro berharap, tim renegosiasi bisa mendapatkan harga penawaran yang tinggi.
“Harga gas internasional saat ini sudah cukup tinggi. Kita harus bisa dapatkan harga yang adil agar penerimaan negara dari sektor gas bisa bertambah,†pintanya.
Dia menyarankan, tim pemerintah diisi berbagai kalangan, tak hanya perwakilan pemerintah. Tujuannya, agar ada perwakilan masyarakat yang mengikuti proses renegoisasi itu agar transparan.
Saat ditanya peluang memenangkan renegosiasi, Komaidi yakin pemerintah Indonesia akan menang. “Kondisinya (harga gasred) memang mendesak untuk dinaikkan,†katanya.
Deputi Pengendalian Komersial Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Widhyawan Prawiraatmadja menjelaskan, sampai kini belum ditentukan berapa besaran kenaikan harga gas Tangguh.
Menurutnya, kunjungan SKK Migas ke Fujian pada Februari lalu baru memperoleh kesepakatan merevisi kontrak harga gas LNG Tangguh.
“Pembahasan harga rencananya baru akan dilakukan bulan Juni mendatang,†katanya.
Widhyawan menuturkan, renegosiasi tidak bisa berlangsung singkat. Sebab, masing-masing pihak memiliki argumentasi yang berbeda. Diharapkan, penetapan harga baru bisa secepatnya diputuskan.
Sebagai informasi, kontrak ekspor LNG Tangguh dengan Fujian pertama kali ditandatangani pada 2002. Saat itu, disepakati harga jual gas sebesar 2,4 dolar AS MMBTU dengan parameter penentuan harga gas dengan patokan atas harga minyak mentah 25 dolar AS per barel.
Tahun 2006, pemerintah Indonesia berhasil melakukan negosiasi ulang. Dari renegosiasi itu disepakati, harga gas Tangguh naik 3,35 dolar AS per MMBTU, dengan patokan atas harga minyak mentah sebesar 38 dolar AS per barel.
Penyesuaian harga gas selama ini sulit karena terjadi kesalahan pada saat pembuatan kontrak kerja sama. Kesepakatan tidak memproyeksi kenaikan harga gas. Sehingga, ketika pemerintah Indonesia ingin mengajukan penyesuaian harga tidak mudah.
Pada 2008, pemerintah Indonesia sempat mengajukan renegosiasi harga ketika harga minyak dunia sempat tembus 100 dolar AS per barel. Namun, usulan tersebut gagal. [Harian Rakyat Merdeka]
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
BERITA TERKAIT: