Karena itu, Direktur Utama Pelni Jussabella Sahea mengatakan, nahkoda diminta memperlambat jalannya kapal untuk menghemat biaya. “Sekarang kita sudah bisa mengurangi biaya operasional Rp 500 juta per hari, kita kurangi speed, kita pakai RPM ekonomis,†ujarnya.
Jussabella mengatakan, gas akan lebih menghemat pengeluaran karena harganya lebih murah. Pelni yang saat ini mengoperasikan 36 kapal dan asetnya senilai Rp 6 triliun menargetkan peningkatan laba seiring efisiensi dari pos energi.
Tingginya konsumsi BBM selama satu dekade terakhir membuat perseroan akhirnya perlahan-lahan memakai kapal berbahan bakar gas. Pasalnya, keuangan BUMN bidang jasa pelayaran ini terus tergerus dengan tingginya konsumsi BBM.
Menurut Jussabella, KM Ciremai adalah pilot project untuk proyek awal konversi ke gas tahun ini. Kapal ini biasanya melayani angkutan Jakarta-Medan. Dia juga mengungkapkan, biaya memasang converter kit tidak mahal lantaran ditawari kerja sama dengan pemasok gas swasta. Namun, dia enggan menjelaskan skema dan besaran harganya.
“Pilot project konversi gas KM Ciremai kita lakukan tahun ini, diluncurkan Juli. Harapan kita tentunya bisa diikuti kapal-kapal lainnya. Kalau converter kit itu nggak mahal, kita kerja sama dengan penyuplai,†ucapnya.
Dia menjelaskan, converter kit memakai sistem dual fuel, gas dan BBM.
Nantinya porsi gas 70 persen sementara bensol 30 persen. Perusahaan pelat merah yang banyak melayani pelayaran di kawasan Indonesia Timur ini sedianya akan menguji efektivitas penghematan gas di kapal itu.
Jika proyek konversi gas KM Ciremai sukses, Pelni sudah menyiapkan dua kapal lagi yakni KM Sinabung dan KM Rawit untuk menjalankan program konversi.
Selain itu, Jussabella mengaku kerugian yang diderita perusahaan sejak 2001 terjadi seiring maraknya bisnis maskapai murah. Padahal, saat itu perusahaan pelat merah ini membeli 4 kapal baru dengan kapasitas besar yang bisa menampung sekitar 2.000 penumpang. [Harian Rakyat Merdeka]
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google