Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Franky Sibarani mengatakan, harÂga gas 12 kg Rp 70.200 sudah cukup moderat. Pelaku usaha keÂcil dan menengah (UKM) mampu menjangkau harga tersebut.
“Kami terus terang sangat keÂberatan kalau gas elpiji naik samÂpai 30 persen. Kalau itu terjadi, tentu akan menyulitkan dunia usaha,†kata Franky kepada
RakÂyat Merdeka, kemarin.
Menurutnya, sekalipun terÂpaksa naik, kenaikan paling ideal tidak lebih dari 10 persen.
Franky meminta, Pertamina menÂstabilkan harga gas. Karena sejak isu harga gas 12 kg bakal naik, banyak sekali pihak yang mengambil kesempatan mengeÂruk keuntungan. Banyak ditemuÂkan harga gas 12 kg di lapangan lebih mahal dari biasanya.
“Jangan sampai pembatalan keÂnaikan harÂga tidak mempengaÂruÂhi harga gas di sejumlah tempat yang suÂdah telanjur naik. Kami ingin harga gas di lapangan saÂma. Pemerintah harus memÂperketat pengawasan,†tegas Franky.
Seperti diketahui, harga gas 12 kg sempat menembus Rp 90 ribu per tabung saat isu rencana keÂnaikan berembus. Harga itu tidak jauh dengan rencana Pertamina menaikan harga 12 kg menjadi Rp 96.500 per tabung.
Franky juga meminta, pemeÂrinÂtah membenahi kebijakan sekÂtor energi. Sebab, selama ini gas hasil produksi dalam negeri lebih banyak diekspor. Dia ingin pemeÂnuhan kuota kebutuhan daÂlam negeri ditambah sehingga diÂharapkan bisa membantu meneÂkan harga gas.
Deputi Bidang Statistik DistriÂbusi dan Jasa Badan Pusat StaÂtisÂtik (BPS) Sasmito Hadi WiboÂwo menilai, keputusan PertaÂmina menunda kenaikan harga gas elpiji 12 kg membantu meÂnekan inflasi.
“Penundaan kenaikan itu berÂdampak pada tidak terjadinya inÂflasi pada bulan Maret 2013,†kata Sasmito di Jakarta, kemarin.
Sasmito memprediksi, jika harÂga gas jadi naik, bisa memÂberiÂkan tekanan inflasi 0,5 perÂsen. Sebab, komoditas gas masuk kaÂtegori yang dibutuhkan masyaÂrakat. Terutama untuk konsumsi rumah tangga.
Vice President Corporate ComÂmunication Pertamina Ali MunÂdakir masih berharap harga gas 12 kg tetap bisa segera dinaikan.
“Mudah-mudahan tahun ini keÂnaikan tatap bisa terealisasi dan dalam waktu yang tidak terÂlaÂlu lama,†harapnya.
Ali mengatakan, kini pihakÂnya sedang melakukan evaluasi atas penundaan kenaikan harga gas 12 kg. Salah satunya mengÂhitung keÂruÂgian perusahaan.
DiungkapÂkan Ali, selama peÂrioÂde Januari-Februari, PerÂtaÂmiÂna suÂdah mengaÂlami keÂrugian hingga Rp 850 miliar.
Ali menerangkan alasan pihakÂnya akhirnya menunda kenaikan harga gas 12 kg.
Menurutnya, PerÂÂÂtamina sebagai BUMN sebeÂnarÂnya punya hak 100 persen unÂtuk memutuskan kenaikan harga gas elpji 12 kg. Namun, piÂhaknya memahami perhatian pemerintah yang melihat dari berÂbagai aspek.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero WaÂcik sebelumnya meminta PertaÂmina tidak terus meributkan keÂÂruÂgian yang dialaminya menÂjual gas 12 kg.
Wacik menyarankan, PertaÂmina melakukan subsidi silang. “Pertamina kan memiliki seÂjumÂlah usaha. Untuk sektor usaha yang untung, pendapaÂtanÂnya diÂgunaÂkan untuk menutupi keÂrugian,†saran Wacik. [Harian Rakyat Merdeka]
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google