Pengusaha Girang Harga Gas Epiji 12 Kg Batal Naik

Sabtu, 09 Maret 2013, 08:35 WIB
Pengusaha Girang Harga Gas Epiji 12 Kg Batal Naik
ilustrasi, Gas Epiji 12 kg
rmol news logo .Keputusan  Pertamina menunda rencana menaikkan harga gas elpiji 12 kilogram (kg) disambut gembira dunia usaha. Selanjutnya perusahaan pelat merah tersebut diminta melakukan stabilisasi harga.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Franky Sibarani mengatakan, har­ga gas 12 kg Rp 70.200 sudah cukup moderat.  Pelaku usaha ke­cil dan menengah (UKM) mampu menjangkau harga tersebut. 

“Kami terus terang sangat ke­beratan kalau gas elpiji naik sam­pai 30 persen. Kalau itu terjadi, tentu akan menyulitkan dunia usaha,” kata Franky kepada Rak­yat Merdeka, kemarin.  

Menurutnya, sekalipun ter­paksa naik, kenaikan paling ideal tidak lebih dari 10 persen.

Franky meminta, Pertamina  men­stabilkan harga gas. Karena sejak isu harga gas 12 kg bakal naik, banyak sekali pihak yang mengambil kesempatan menge­ruk keuntungan. Banyak ditemu­kan harga gas 12 kg di lapangan  lebih mahal dari biasanya.

“Jangan sampai pembatalan ke­naikan har­ga tidak mempenga­ru­hi harga gas di sejumlah tempat yang su­dah telanjur naik. Kami ingin harga gas di lapangan sa­ma. Pemerintah harus mem­perketat pengawasan,” tegas Franky.

Seperti diketahui, harga gas 12 kg sempat menembus Rp 90 ribu per tabung saat isu rencana ke­naikan berembus. Harga itu tidak jauh dengan rencana Pertamina menaikan harga 12 kg menjadi Rp 96.500 per tabung.

Franky juga meminta, peme­rin­tah membenahi kebijakan sek­tor energi. Sebab, selama ini gas hasil produksi dalam negeri lebih banyak diekspor. Dia ingin peme­nuhan kuota kebutuhan da­lam negeri ditambah sehingga di­harapkan bisa membantu mene­kan harga gas.

Deputi Bidang Statistik Distri­busi dan Jasa  Badan Pusat Sta­tis­tik (BPS) Sasmito Hadi Wibo­wo menilai, keputusan Perta­mina menunda kenaikan harga gas elpiji 12 kg membantu me­nekan inflasi.

“Penundaan kenaikan itu ber­dampak pada tidak terjadinya in­flasi pada bulan Maret 2013,” kata Sasmito di Jakarta, kemarin.

Sasmito memprediksi, jika har­ga gas jadi naik, bisa mem­beri­kan tekanan inflasi 0,5 per­sen. Sebab, komoditas gas masuk ka­tegori yang dibutuhkan masya­rakat. Terutama untuk konsumsi rumah tangga.

Vice President Corporate Com­munication Pertamina Ali Mun­dakir masih berharap harga gas 12 kg tetap bisa segera dinaikan.

“Mudah-mudahan tahun ini ke­naikan tatap bisa terealisasi dan dalam waktu yang tidak ter­la­lu lama,” harapnya.

Ali mengatakan, kini pihak­nya sedang melakukan evaluasi atas penundaan kenaikan harga gas 12 kg. Salah satunya meng­hitung ke­ru­gian perusahaan.

Diungkap­kan Ali, selama pe­rio­de Januari-Februari, Per­ta­mi­na su­dah menga­lami ke­rugian hingga Rp 850 miliar.

Ali menerangkan alasan pihak­nya akhirnya menunda kenaikan harga gas 12 kg.

Menurutnya, Per­­­tamina sebagai BUMN sebe­nar­nya punya hak 100 persen un­tuk memutuskan kenaikan harga gas elpji 12 kg. Namun, pi­haknya memahami perhatian pemerintah yang melihat dari ber­bagai aspek.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wa­cik sebelumnya meminta Perta­mina tidak terus meributkan ke­­ru­gian yang dialaminya men­jual gas 12 kg.

Wacik menyarankan, Perta­mina melakukan subsidi silang. “Pertamina kan memiliki se­jum­lah usaha. Untuk sektor usaha yang untung, pendapa­tan­nya di­guna­kan untuk menutupi ke­rugian,” saran Wacik. [Harian Rakyat Merdeka]


Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA