Informasi yang diterima RakÂyat Merdeka menyebutkan, seÂmula Kepala BP Migas R Priyono akan melantik Johanes WidjaÂnarko yang kini menjabat Deputi Umum BP Migas menjadi Wakil Kepala BP Migas. SeÂmentara posisi Deputi Umum akan diisi Gerhard Rumenggar.
Sedangkan Deputi Operasional yang sebeÂlumnya diisi Rudi RuÂbiandini akan ditempati Gde PraÂdnyana (kini Kepala Humas dan Sekuriti Formalitas BP MiÂgas). Lalu Wawan SubaÂwan akan diÂplot menÂjadi Deputi PeÂngenÂdaÂlian Keuangan BP Migas mengÂganÂtikan Akhmad Syahroza.
Namun, pelantikan ini urung dilakukan menyusul adanya proÂÂtes dari Jero Wacik karena proses tersebut tidak melewati Badan Pertimbangan Jabatan dan KeÂpangkatan (Baperjakat) di KeÂmenÂterian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Salah satu staf Humas BP MiÂgas Adhitya Cahya Utama via SMS hanya mengÂinformasikan pelantiÂkan deputi baru ditunda sampai batas waktu yang belum bisa diÂtentukan. Dia tak meÂnyeÂbutkan alasan penunÂdaan tersebut.
Tahun lalu, pengangkatan deÂputi BP Migas sempat meÂnimÂÂbulkan kegaduhan. KekiÂsruÂhan peÂnetapan jajaran deputi itu diÂkhaÂÂwatirkan mengganggu kiÂnerja badan itu. Tentu hal ini menÂÂjadi konÂtrakÂproduktif di teÂngah upaya peÂmeÂÂrintah untuk mengÂgenjot target proÂduksi miÂnyak mentah siap jual (lifting).
Dalam AnggaÂran PenÂdaÂpatan BeÂlanja Negara PerubaÂhan (APBN-P) 2012 pemerintah meÂnetapkan target lifting miÂnyak 930 ribu barel per hari.
Dalam perombakan jajaran deÂputi ini, otoritas berwenang ÂmesÂÂÂtiÂÂnya mempertimbangkan komÂÂÂpetensi, profesionalitas dan keÂÂbutuhan yang diperlukan lemÂbaga seperti BP Migas. KaÂrena itu, jaÂjaran deputi seharusÂnya diisi figur-figur yang meÂmiliki rekam jejak dan pengalaÂman yang terÂbukti menÂjaÂlankan dan mengenÂdalikan industri perminyaÂkan.
Atas dasar itu, pengamat perÂminyakan Pri Agung RakhÂmanto menilai, jabatan deputi BP MiÂgas lebih tepat jika diisi orang-orang Indonesia yang telah menÂduduki posisi kunci di peruÂsaÂhaan migas, seÂperti di PertaÂmina atau konÂtraktor kontrak kerja sama lain. Bukan malah diisi jajaran birokÂrat yang bisa memÂbuat baÂdan lembaga itu kian biroÂÂkratis dan menghambat peÂningkatan proÂdukÂsi.
Dia mengingatkan, penempatÂan figur yang tidak sesuai juga daÂpat meÂmunculkan kesan perÂtimÂbaÂngan yang diÂkedeÂpanÂkan adaÂlah keÂpentingan tertentu dan buÂkan untuk perbaikan sektor hulu miÂgas. Pada akhirÂnya, peÂrombaÂkan deÂputi tanpa mengeÂdepankan komÂpetensi berÂpotensi menurunÂkan kinerja badan peÂlakÂsana itu sehingga peningÂkatan proÂduksi akan sulit dihaÂrapkan bisa terwuÂjud.
Anggota Komisi VII DPR Agus Sulistiyono menegaskan, kinerja BP Migas tetap harus diawasi seÂcara ketat, terutama daÂlam soal target produksi miÂnyak yang siap jual (lifting) dan pengelolaan cost recovery. [Harian Rakyat Merdeka]
< SEBELUMNYA
BERIKUTNYA >
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: