Diprotes Menteri Jero Wacik, Deputi BP Migas Batal Dilantik

Target Lifting Minyak Tetap Harus Diawasi

Jumat, 20 Juli 2012, 08:14 WIB
Diprotes Menteri Jero Wacik, Deputi BP Migas Batal Dilantik
Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas)
RMOL.Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas) tengah jadi so­rotan. Rencana pelantikan de­puti di badan ini kemarin meng­un­dang reaksi keras Menteri ESDM Jero Wacik dan Menteri Pereko­nomian Hatta Rajasa.

Informasi yang diterima Rak­yat Merdeka menyebutkan, se­mula Kepala BP Migas R Priyono akan melantik Johanes Widja­narko yang kini menjabat Deputi Umum BP Migas menjadi Wakil Kepala BP Migas. Se­mentara posisi Deputi Umum akan diisi Gerhard Rumenggar.

Sedangkan Deputi Operasional yang sebe­lumnya diisi Rudi Ru­biandini akan ditempati Gde Pra­dnyana (kini Kepala Humas dan Sekuriti Formalitas BP Mi­gas). Lalu Wawan Suba­wan akan di­plot men­jadi Deputi Pe­ngen­da­lian Keuangan BP Migas meng­gan­tikan Akhmad Syahroza.

Namun, pelantikan ini urung dilakukan menyusul adanya pro­­tes dari Jero Wacik karena proses tersebut tidak melewati Badan Pertimbangan Jabatan dan Ke­pangkatan (Baperjakat) di Ke­men­terian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Salah satu staf Humas BP Mi­gas Adhitya Cahya Utama via SMS hanya meng­informasikan pelanti­kan deputi baru ditunda sampai batas waktu yang belum bisa di­tentukan. Dia tak me­nye­butkan alasan penun­daan tersebut.

Tahun lalu, pengangkatan de­puti BP Migas sempat me­nim­­bulkan kegaduhan. Keki­sru­han pe­netapan jajaran deputi itu di­kha­­watirkan mengganggu ki­nerja badan itu. Tentu hal ini men­­jadi kon­trak­produktif di te­ngah upaya pe­me­­rintah untuk meng­genjot target pro­duksi mi­nyak mentah siap jual (lifting).

Dalam Angga­ran Pen­da­patan Be­lanja Negara Peruba­han (APBN-P) 2012 pemerintah me­netapkan target lifting mi­nyak 930 ribu barel per hari.

Dalam perombakan jajaran de­puti ini, otoritas berwenang ­mes­­­ti­­nya mempertimbangkan kom­­­petensi, profesionalitas dan ke­­butuhan yang diperlukan lem­baga seperti BP Migas. Ka­rena itu, ja­jaran deputi seharus­nya diisi figur-figur yang me­miliki rekam jejak dan pengala­man yang ter­bukti men­ja­lankan dan mengen­dalikan industri perminya­kan.

Atas dasar itu, pengamat per­minyakan Pri Agung Rakh­manto menilai, jabatan deputi BP Mi­gas lebih tepat jika diisi orang-orang Indonesia yang telah men­duduki posisi kunci di peru­sa­haan migas, se­perti di Perta­mina atau kon­traktor kontrak kerja sama lain. Bukan malah diisi jajaran birok­rat yang bisa mem­buat ba­dan lembaga itu kian biro­­kratis dan menghambat pe­ningkatan pro­duk­si.

Dia mengingatkan, penempat­an figur yang tidak sesuai juga da­pat me­munculkan kesan per­tim­ba­ngan yang di­kede­pan­kan ada­lah ke­pentingan tertentu dan bu­kan untuk perbaikan sektor hulu mi­gas. Pada akhir­nya, pe­romba­kan de­puti tanpa menge­depankan kom­petensi ber­potensi menurun­kan kinerja badan pe­lak­sana itu sehingga pening­katan pro­duksi akan sulit diha­rapkan bisa terwu­jud.

Anggota Komisi VII DPR Agus Sulistiyono menegaskan, kinerja BP Migas tetap harus diawasi se­cara ketat, terutama da­lam soal target produksi mi­nyak yang siap jual (lifting) dan pengelolaan cost recovery.  [Harian Rakyat Merdeka]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA