Kredit Macet Naik Tipis Mandiri Revisi Target 2012

Ekonom Indef: Warning BI Perlu Diperhatikan Semua Perbankan

Rabu, 18 Juli 2012, 08:01 WIB
Kredit Macet Naik Tipis Mandiri Revisi Target 2012
Bank Man­diri
RMOL.Perbankan mengaku tak cemas dengan prediksi Bank Sentral yang mengkhawatirkan kredit macet (non per­forming loan/NPL) akan mengalami kenikan tahun ini.

Direktur Utama  Bank Man­diri  Zulkifli Zaini menegaskan, pihaknya telah merevisi target pertumbuhan kredit 2012 dari 20 hingga 22 persen menjadi 22 hingga 24 persen.

“Kami akan terus upaya di atas target tersebut,” katanya ke­pada Rakyat Merdeka, kemarin.

Zulkifli pun pede, kredit Bank Man­diri semester I-2012 akan terus tumbuh di atas pasar.

“Ini menunjukkan kehati-ha­tian kami dari pelaku bisnis per­bankan. Pro­fitabilitas kami juga semakin baik, cost of funds dapat terus di­perbaiki karena rasio da­na murah yang meningkat di atas 60 per­sen,” tegasnya.    

Ekonom BNI Ryan Kiryanto menam­bah­kan, urusan NPL men­jadi tang­gung jawab BI dan per­­ban­kan. Untuk itulah, BI dan per­bankan ha­rus memonitor sektor-sektor eko­no­mi yang me­nyum­bang NPL tinggi.

“Bahkan jika perlu diambil lang­kah antisipasi, yaitu me­ngu­rangi kredit di sektor-sektor yang NPL-nya tinggi. Untuk sektor yang NPL-nya rendah, BI dan per­ban­kan bisa memacu kredit,” kata Ryan via SMS kepada Rakyat Merdeka.

Pengamat ekonomi Indef Ah­mad Erani Yus­ti­ka me­nam­bah­kan, kekhawatiran BI terhadap meningkatnya kredit macet akan berbanding lurus dengan tingkat kredit perbankan. Hal ini dika­renakan BI memiliki track re­cord tentang data-data kredit macet perbankan yang selalu me­­ningkat setiap tahunnya. Alhasil, sejak dini BI sudah mem­peri­ngatkan perban­kan un­tuk me­ngon­trol tingkat kenaikan NPL.

“Peringatan BI itu perlu di­per­hatikan semua perbankan di te­ngah kondisi perekonomian In­do­nesia yang bergerak lambat aki­bat ketidak jelasan ekonomi Ero­pa. Meskipun sejauh ini be­lum ada aktivitas perbankan yang meng­­khawatirkan untuk ditin­dak pe­me­rintah,” ujar Era­ni kepada Rak­yat Merdeka, ke­ma­rin.

Sebelumnya, Bank Sentral memprediksi tingkat kredit macet perbankan mengalami kenaikan tipis. Hal ini seiring dengan naik­­nya tingkat kredit perbankan.

Karena itu, Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Halim Alamsyah me­minta perbankan mengontrol tingkat NPL ini. Menurutnya, ke­nai­kan kredit jangan sampai mem­bu­at kuali­tas kredit men­jadi kendor.  

Untuk diketahui, total penya­luran kredit bank umum pada Mei 2012 tercatat mencapai Rp 2.403 triliun. Angka itu tumbuh (month to month) 2,95 persen dari April yakni Rp 2.334 triliun. Diban­dingkan periode yang sama 2011 sebesar Rp 1.898 tri­liun, (year to year) pertumbuhan kredit ter­sebut mencapai 25,6 persen. Ini sesuai dengan target yang dipatok BI untuk per­tum­buhan secara tahunan.

Wajar penyaluran kredit ter­se­but melonjak. Hal itu juga diiringi oleh kenaikan jumlah dana pihak ketiga (DPK) yang berhasil di­jaring bank. Mei, outstanding sim­­­panan yang masuk ke bank mencapai Rp 2.908 triliun. Dana tersebut naik 2,35 persen dari sa­tu bulan sebelumnya dan tum­buh 21,3 persen dari tahun lalu.

Seiring meningkatnya tingkat kredit perbankan nasional, ter­nya­ta tingkat kredit macet alias NPL per­bankan pun mengalami kenaikan.

Mengutip Statistik Perbankan Indonesia (SPI), pada lima bulan tahun ini angka kredit macet mencapai Rp 53,66 triliun. Naik tipis dari sebulan sebe­lum­nya, yakni Rp 53,11 triliun.

“Pertumbuhan kredit sangat cepat, wajar NPL tercatat naik,” kata Halim.

Oleh karena itu, otoritas per­bankan meminta bank agar dapat mengontrol laju NPL yang mulai merangkak naik. Namun, hal itu tanpa diiringi perlambatan pe­nya­luran kredit. [Harian Rakyat Merdeka]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA