RMOL. Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) diminta segera melakukan penataan aset yang tidak produktif milik perusahaan pelat merah untuk menambah penerimaan negera. Pasalnya, banyak aset yang sudah dicuri.
Bekas Sekretaris Menteri BUMN Said Didu mengatakan, pencurian aset BUMN sudah saÂngat mengkhawatirkan. Aset yang paling banyak diambil adalah milik PT Kereta Api Indonesia (KAI), PT PerkeÂbunan Nusantara (PTPN) dan PT Pertamina.
“Terutama pertamÂbaÂngan dan perkebunan,†katanya keÂpada Rakyat Merdeka, kemarin.
Menurutnya, modus pengamÂbilaliÂhan itu adalah dijual oleh pensiunan perusahaan yang berÂsangkutan, dikuasai bekas kerja sama operasi dan penerbitan izin baru oleh pemerintah daerah. BahÂkan, penjualan dan pengÂamÂbilaÂliÂhan aset BUMN sudah terÂorÂgaÂnisir. Banyak perusahaan yang tiÂdak berdaya menghaÂdapi hal itu.
Said meminta agar pengamÂbiÂlalihan aset tersebut dimasukan seÂbagai kejahatan korupsi. PaÂsalÂnya, itu merugikan negara dan melanggar hukum. Untuk meÂnganÂtisipasi itu, dia berharap kerÂja sama dengan Komisi PemÂbeÂrantasan Korupsi (KPK) daÂlam penataan aset dilanjutkan.
“Kerja sama itu membuahkan hasil deÂngan banyaknya aset yang kemÂbali lagi,†katanya.
Ketua Persatuan Insinyur InÂdonesia (PII) itu juga meminta agar menteri BUMN menindak direksi BUMN yang tidak serius menyeÂlesaikan masalah sengkeÂta aset. Sebab, saat ini banyak diÂrekÂsi yang lepas tangan.
Menteri BUMN Dahlan Iskan dalam satu kesempatan mengataÂkan, saat ini masih ada sekitar Rp 2.500 triliun aset BUMN yang tiÂdak produktif. Aset nganggur itu berasal dari perusahaan BUMN serta anak usah berupa tanah dan gedung yang tidak terpakai. “Aset tidak produktif itu menÂcapai Rp 2.500 triliun dan yang produktif Rp 1.500 triliun,†kata Dahlan.
Sekretaris Kementerian BUMN Wahyu Hidayat mengataÂkan, berdasarkan data dari Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) 2011, jumlah aset BUMN sebesar Rp 2.947,2 triliun.
Ia mengaku, saat ini masih baÂnyak aset BUMN yang belum diÂgarap maksimal. Karena itu, piÂhaknya akan kembali melaÂkukan penataan aset perusahaan peÂlat meÂrah di Jawa dan Bali pada 2013. “Kami siapkan angÂgaran Rp 12,5 miliar untuk peÂmetaan,†ujarnya.
Wahyu mengatakan, anggaran pemetaan 2013 mengalami keÂnaikan dibanding 2011 karena banyaknya jumlah aset dan kuaÂlitas kajian.
Menurut dia, program ini keÂlanjutan dari pemetaan 2011. TaÂhun lalu, pemerintah sudah meÂlakukan pemetaan terhadap 42 BUMN di wilayah Sumatera. HaÂsilnya, total aset BUMN ada 46.632 unit senilai Rp 20,46 triÂliun yang terdiri dari tanah, baÂngunan dan alat produksi. “853 unit dari jumlah itu berstatus idle (menganggur),†ungkapnya.
Wahyu juga menyatakan, KeÂmenÂterian BUMN telah meÂneÂtapkan enam BUMN sebagai piÂlot project pemberdayaan aset tidak produktif itu. Keenam peÂrusahaan itu adalah PT PertaÂmina, PT Kereta Api IndoÂnesia (KAI), PT Perkebunan Nusantara (PTPN) II, PTPN VIII, PT PeruÂsahaan Perdagangan Indonesia (PPI) dan Perum Bulog
Dikatakan, dari hasil invenÂtaÂrisasi sementara, terdaÂpat 587 aset berupa tanah dan baÂnguÂnan yang statusnya tidak proÂduktif. Kementerian BUMN meÂminta perusahaan yang berÂsangÂkutan untuk meningkatkan optimalisasi aset yang tidak produktif itu dengan mengemÂbangkan sendiri, dikerjaÂsamaÂkan dengan pihak ketiga (BUMN) atau dijual kepada BUMN lagi.
Kendati begitu, aset BUMN sepanjang 2009-2011 terus meÂngalami peningkatan. Menurut Wahyu, pada 2009 jumlah aset dari 13 sektor BUMN menÂcapai Rp 2.252,6 triliun. SeÂdangkan pada 2010 nilainya bertambah 11,10 persen menjadi Rp 2.502,6 triliun. “Pada 2011, jumlah aset naik 17,75 persen dibanding 2010 jadi Rp 2.947 triliun,†jelasnya
Hal yang sama juga terjadi pada laba BUMN. Menurut Wahyu, laba BUMN pada 2011 mencapai Rp 119,3 triliun atau lebih tinggi 16,54 persen dibanÂding tahun sebelumnya yang hanya Rp 102,3 triliun. [Harian Rakyat Merdeka]
< SEBELUMNYA
BERIKUTNYA >
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.