Penanganan Limbah & Sampah Pesisir Belum Memuaskan

Selasa, 03 Juli 2012, 08:23 WIB
Penanganan Limbah & Sampah Pesisir Belum Memuaskan
ilustrasi

RMOL. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengimbau semua warga pesisir pantai men­jaga kebersihan di wilayahnya. Pasalnya, kebersihan wilayah pe­sisir pantai dan air laut menjadi penting, karena salah satu objek wisata yang sering dijadikan sumber penghasilan masyarakat.

“Kebersihan laut menjadi fak­tor utama. Kebersihan tidak ha­nya untuk daya tarik mas­ya­rakat, tetapi juga kesehatan laut. Te­rumbu karang sehat, ikan pun melimpah, kesehatan masyara­kat pesisir pun akan terjaga,” ujar Direktur Pesisir dan Lautan KKP Eko Rubianto menirukan ucapan Direktur Jenderal Ke­lau­t­an, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (KP3K) KKP Sudirman Saad saat acara Penyadaran Mas­yarakat Dalam Upaya Pe­nanggulangan Pen­cemaran Sum­ber Daya Pe­sisir dan Laut di Desa Karang­song, Indramayu, Jawa Barat, Sabtu (30/6).

Eko Rubianto mewakili Su­dirman Saad yang tidak hadir di acara tersebut. Menurutnya, ba­nyaknya upaya penang­gu­la­ngan limbah dan sampah di wilayah pesisir yang telah dilaku­kan di beberapa wilayah dengan mem­berikan bantuan, sampai kini belum menunjukkan keber­ha­silan yang menggembirakan.

Hal ini karena belum diim­bangi dengan pemahaman dan kesadaran masyarakat. Apalagi dengan adanya isu global climate change yang mengakibatkan kenaikan permukaan air laut, rob (banjir) dan lainnya.

Salah satu kepedulian yang harus dilakukan masyarakat pesisir adalah penanggulangan sampah dengan membiasakan penerapan konsep 4 R yakni, Reduce (pengurangan), Reuse (pemanfaatan kembali), Rec­y­cle (mendaur ulang) dan Re­plant (penanaman).

Untuk itu, KKP melakukan sosialisasi kepada masyarakat melalui berbagai media edukasi seperti buku tulis yang berisikan pentingnya menjaga lingkungan, kemudian komik yang berisi pesan kebersihan pantai, poster dan pamflet serta pagelaran bu­daya seni drama Wira Darma.

Sebanyak 20.000 bibit mang­rove (hutan bakau) juga di­berikan kepada kelompok pe­nge­lola mang­rove desa Karang­song Tim­bul Jaya, guna mela­kukan pe­nyela­ma­tan pesisir di Indramayu.

Penyelamatan wilayah pesisir dengan penanaman mangrove merupakan suatu keharusan. Jika tidak segera direhabilitasi, akan berdampak pada terganggunya ekosistem kawasan pesisir. Se­dangkan dampak negatif dalam jangka jangka panjang dan lebih luas akan dirasakan masyarakat.

Untuk anggaran dalam sosia­lisasi penyadaran masyarakat di Indramayu, Eko mengungkap­kan tak ada anggaran khusus. Ke­­banyakan dana justru dike­luarkan pemerintah daerah yang memang ditargetkan dalam Ge­rakan Ber­sih Pantai dan Laut yang dila­kukan KKP.

“Program penyadaran ini se­be­narnya lebih banyak Pemda yang menganggarkan karena desen­tra­lisasi yang sudah ada. Justru 90 per­sen dana dari mas­yarakat sen­dir,” ungkap Eko.

Eko menyebutkan, secara kese­luruhan total dana yang di­ang­garkan untuk kebersihan wilayah pesisir dan laut tiap tahunnya bisa mencapai miliaran rupiah. Dana ini terdiri dari bantuan langsung yang diberikan kepada setiap desa sekitar Rp 400 juta per tahunnya.

Bupati Indramayu Ana Sofana menyambut baik program pe­nyadaran masyarakat terhadap kebersihan wilayah pesisir pantai yang digagas KKP. Apalagi de­ngan adanya desentralisasi, mem­berikan kesempatan bagi dirinya untuk mengelola wilayah pesisir pantai guna kesejahteraan ma­syarakat.

“Dengan pantai yang bersih, sumber daya yang bisa diman­faatkan semakin banyak, se­hing­ga pantai mampu menjadi peno­pang perekonomian masyarakat di daerah,” kata Ana. [Harian Rakyat Merdeka]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA