RMOL. Tingkat inflasi Indonesia Juni 2012 naik sebesar 0,07 persen dibanding bulan sebelumnya atau menjadi 0,62 persen. KoÂnÂdisi ini membuka kemungkinan besar terjadinya kenaikan harga secara besar-besaran jelang puÂasa dan Lebaran. Terutama harÂga barang pokok.
Dari 66 kota di Indonesia, seÂluruhnya mengalami inflasi. Inflasi tertinggi ada di Ambon dengan besaran 2,39 persen. Kemudian diikuti Manokwari 2,05 persen. Sementara inflasi terendah di Bima 0,04 persen.
“Yang mendorong kenaikan inflasi di Juni disebabkan tingÂginya harga cabe merah di 60 kota akibat kurangnya pasokan, karena masih ada hujan,†kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin.
Seperti di kota Padang, keÂnaikan harga cabe bisa mencapai 101 persen. Di Pematang Siantar naik 90 persen dan kota lainnya naik 10-80 persen.
Selain itu, lanjut dia, kenaikan inflasi disebabkan harga bawang putih yang juga mengalami keÂnaikan. Penyebab kenaikan harga itu masih sama seperti sebelum-sebelumnya, yakni akibat kuÂrangnya pasokan barang dan adanya impor dari China. KeÂnaikan harga bawang putih terjadi di 63 kota. Kenaikan harganya bisa mencapai 10-67 persen.
Tidak hanya itu, Daging ayam ras juga naik di 56 kota dan mendorong inflasi. Begitu juga dengan harga gula pasir, dan elpiji 3 kilogram yang sempat langka pasokannya.
Emas perhiasan juga naik di 51 kota. Tertinggi terjadi di MaÂkassar dan Sorong 4 persen, lalu Padang dan Tarakan 3 persen.
Sedangkan penghambat inflasi, menurut Suryamin, adalah miÂnyak goreng yang harganya turun di 45 kota. Harga pertamax yang terus turun juga menjadi faktor penghambat inflasi. Namun beÂgitu, inflasi inti masih di bawah umum dan menujukkan gamÂbaran yang bagus.
“Inflasi tahunan atau biasa disebut year on year inflasi Indonesia masih mencapai 4,53 persen. Sedangkan inflasi tahun berjalan alias year to date (JaÂnuari-Juni 2012) mencapai 1,79 peÂrsen. Inflasi ini masih di bawah umum yang menujukkan gamÂbaran masih bagus,†jelas Suryamin.
BPS juga menyampaikan neraÂca perdagangan Indonesia mengÂalami defisit selama dua bulan berturut-turut setelah April. Meski begitu, secara total JanuÂari-Mei 2012, neraca perdaÂgaÂngan Indonesia masih surplus 1,52 miliar dolar AS.
Berdasarkan data BPS, ekspor Mei 2012 mencapai 16,72 miliar dolar AS atau turun 8,55 persen dibanding Mei 2011. Namun, dibandingkan April naik 3,41 persen. Ekspor migas naik 1,33 persen menjadi 3,61 miliar dolar AS dan non migas naik 4 persen menjadi 13,12 miliar dolar AS.
Suryamin menyebutkan, total ekspor Januari-Mei mencapai 81,42 miliar dolar AS atau naik 1,48 persen, sementara ekspor non migas 64,26 miliar dolar AS naik 0,04 persen dibanding peÂriode yang sama tahun lalu.
Komoditas ekspor terbesar adalah bahan bakar mineral senilai 11,79 miliar dolar AS, kemudian lemak dan minyak hewan nabati 8,81 miliar dolar AS. [Harian Rakyat Merdeka]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.