Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) menargetkan, dana pemÂbebasan tanah dari Badan LayaÂnan Umum (BLU) untuk 22 ruas tol, selama periode Juni-DesemÂber 2012 dapat terealisasi sebeÂsar Rp 2,4 triliun. Pendanaan itu, akan diambil dari sisa dana BLU yang saat ini masih berkisar Rp 3,35 triliun.
Rencananya, pengÂguÂliran dana terbesar akan dialoÂkasikan untuk ruas Jakarta, BoÂgor, Depok, TaÂngerang dan Bekasi (JabodetaÂbek) senilai Rp 1,27 triliun, lalu Trans Jawa Rp 666,78 miliar dan non Trans Jawa Rp 308,21 miliar.
Kepala BPJT Achmad Gani Gazaly mengatakan, target terseÂbut ditujukan untuk operasional sebagian ruas pada 2014 mendaÂtang. “Untuk mencapai target itu, sekarang kita sedang percepat proÂses sosialisasi dan pengukuran di lapangan, agar pembayaran biÂsa segera dilakukan. Kami haÂrapÂkan bisa sesuai jadwal,†ujarÂnya usai rapat dengar pendaÂpat deÂngan DPR, Kamis (28/6).
Target tersebut sebenarnya cuÂkup berat mengingat sepanjang semester pertama tahun ini BLU BPJT hanya menyalurkan dana bergulir sekitar Rp 135,2 miliar, untuk ruas Cikampek-Palimanan, Kertosono-Mojokerto, Surabaya-Mojokerto, Ciawi-Sukabumi, JORR W2 Utara, Depok-Antasari dan Kunciran-Serpong.
Lambannya proses penyerapan itu, antara lain karena belum adaÂnya peraturan pelaksanaan dari Undang-Undang Nomor 2 tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah bagi Pembangunan untuk KeÂpentingan Umum. Selain itu, juga karena belum adanya kesepakaÂtan harga dengan pemilik tanah dalam proses pelaksanaan muÂsyaÂwarah dan nilai appraisal suÂdah kadaluarsa sehingga tidak sesuai dengan harga saat uang ganti rugi akan dibayarkan.
Gani menjelaskan, dengan terÂcairkannya BLU hingga akhir tahun nanti, artinya sisa dana BLU yang ada di BPJT mencapai Rp 950 miliar. Padahal, rencanaÂnya mereka akan kembali mengÂguÂlirkan dana BLU tahun depan senilai Rp 5,6 triliun. Artinya, peÂngusaha jalan tol masih memÂbutuhkan Rp 4,65 triliun tambaÂhan anggaran untuk memenuhi target tersebut.
“Kekurangan itu akan diambil dari rencana peÂngemÂbalian pinjaÂman investor seÂkitar Rp 4,95 triÂliun dan tamÂbahan dari APBN (Anggaran Pendapatan Belanja Negara) Rp 900 miliar pada akhir Desember 2012,†tambahnya.
Adapun total dana kelolaan di kas BLU hingga saat ini menÂcapai Rp 6,15 triliun. Sejak 2008 hingga Juni 2012, dana yang suÂdah disalurkan untuk pengaÂdaan tanah sebesar Rp 2,8 triliun.
Menurut Achmad, dana berguÂlir yang sudah disalurkan BLU hingga semester pertama tahun ini mencakup pengembalian pinÂjaman atau dana talangan pemÂbeÂbasan lahan yang diberikan oleh Pusat Investasi Pemerintah sebeÂsar Rp 1,434 triliun.
Kalangan pengusaha yang terÂgabung dalam Asosiasi Tol IndoÂnesia (ATI) menyatakan, hingga saat ini belum banyak ruas jalan tol yang tanahnya sudah terÂbebas di atas 75 persen mengÂingat maÂsih sulitnya mengatasi kendala pengadaan lahan di laÂpangan.
“Kalau dari total kebutuÂhan seluruh jalan tol dengan yang telah disalurkan masih kecil, belum ada 10 persen. Kesalahan bukan dari perbankan, tapi peÂmeÂrintah dalam mengelola inÂvestasi jalan tol, utamanya kenÂdala di tanah,†ujar Ketua ATI Fatchur Rachman.
Pihaknya memperkirakan penÂcairan kredit untuk pembanguan infrastruktur jalan tol hingga saat ini belum mencapai 10 persen bila dibandingkan total kebuÂtuhÂÂan yang diperlukan. SeÂjak diÂtanÂdatanganinya 23 amanÂdeÂmen Perjanjian Pengusahaan Jalan Tol (PPJT) pada 2011, beÂlum ada penarÂikan kredit yang signiÂfikan untuk pembangunan jalan tol.
Pasalnya, pinjaman baru dapat dikucurkan setelah adanya peÂnanÂdatanganan perjanjian kredit antara Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) dengan sindikasi perÂbankan. Pelaksanaanya baru dapat dilakukan enam bulan setelah pembebasan tanah menÂcapai 100 persen atau sekurang-kurangnya 75 persen dari total kebutuhan.
Kalaupun ada yang telah menÂdapatkan pencairan kredit, hanya jalan tol yang sudah mulai proses konstruksi. Itu pun masih sangat minim. [Harian Rakyat Merdeka]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: