Ketua Umum Gabungan PeÂnguÂsaha Makanan dan MinuÂman Indonesia (Gappmi) Adhi LukÂman mengatakan, pasokan terÂsendat sejak tiga pekan lalu.
“Karena pasokan tersendat, beÂberapa inÂdustri terpaksa mengguÂnakan gula lokal, seperti industri coffee mix dan dodol, yang tidak meÂmerlukan gula berkualitas jerÂnih,†ujarnya di Jakarta, kemarin.
Menurutnya, beberapa industri gula rafinasi beralasan mengaÂlami kerusakan mesin. Sebagian lainnya sedang mengolah gula kasar (raw sugar) eks impor PT Perusahaan Perdagangan IndoneÂsia (PPI) untuk memenuhi gula konÂsumsi di Kawasan Timur IndoÂnesia (KTI).
Kebutuhan gula rafinasi di industri makanan dan minuman selama ini mencapai 200 ribu ton per bulan. Seiring peningkatan perÂmintaan menjelang Ramadhan dan Lebaran, kebutuhan bahan pemanis itu bisa naik 30 persen dari rata-rata kebutuhan bulanan.
Namun, Adhi tidak dapat meÂnyebutkan jumlah gula lokal yang diserap industri makaÂnan dan minuman dari distributor gula lokal. “Yang pasti, secara reÂguÂlasi tidak ada laraÂngan inÂdusÂtri maÂkanan dan minuÂman mengÂguÂnakan gula lokal,†jelasnya.
Ketua Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia (AGRI) Suryo Alam mengatakan, masaÂlah logistik membuat industri gula rafinasi tak mampu memaÂsok hasil proÂduksi ke industri maÂkanan dan minuman dengan lancar.
Menurutnya, kerusakan jalan menuju Pelabuhan BakauÂheni membuat satu pabrik gula rafinasi di Lampung tak optimal meÂmasok gula ke lima pabrik maÂkanan dan minuman di Banten.
“Belum lagi truk yang miÂnim. Buruh angkut juga seÂdikit. SeÂkarang kan masuk panen (tebu), banyak yang tenaga buruh yang dipakai,†ujarnya.
Pabrik gula rafinasi tersebut juga sedang melakukan perawaÂtan mesin sehingga tak bisa berÂproduksi normal. Pada saat yang sama, industri makanan dan miÂnuÂman meminta pengiriman diÂperÂcepat sehingga industri gula tak mampu memenuhi seluruh permintaan. “Mereka sebelumÂnya meminta pengiriman untuk Juli, Agustus dan September, tapi kemudian dimajukan menÂjadi Mei dan Juni. Ini mungkin ada kaitanÂnya dengan produksi maÂmin yang meningkat saat liÂburan sekolah,â€ungkapnya.
Suryo mengatakan, pasokan gula rafinasi ke industri makanan dan minuman menjelang puasa mencapai 300 ribu-350 ribu ton atau hampir 100 persen dari paÂsokan normal sebanyak 180 ribu-200 ribu ton per bulan. “Stok baÂhan baku sejak awal tahun tidak ada masalah. Cuma yang harus diwaspadai adalah seÂtelah LeÂbaÂran. Kalau dipakai leÂbih banyak, bisa-bisa kita kekuÂrangan stok di kuartal terakhir,†jelasnya.
Menurut Suryo, kewajiban beberapa pabrik gula rafinasi mengolah raw sugar eks impor PT PPI tidak mengganggu proÂduksi karena memanfaatkan idle capacity pabrik gula rafinasi. KaÂÂpasitas terpasang delapan paÂbrik gula rafinasi di Indonesia 3,2 juta ton per tahun. Namun, utiÂliÂsasiÂnya hanya 2,1 juta ton seÂhingga sisa kapasitas 1,1 juta ton dapat digunakan untuk meÂngoÂlah raw sugar. [Harian Rakyat Merdeka]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: