Peritel Mulai Keluhkan Kenaikan Harga Komoditas Akibat Impor

Jumat, 29 Juni 2012, 08:30 WIB
Peritel Mulai Keluhkan Kenaikan Harga Komoditas Akibat Impor
ilustrasi/ist
RMOL.Harga komoditas hortikultura merangkak tajam, mencapai 20 persen mulai awal pekan ini. Hal itu disinyalir akibat aturan di­tu­tup­­nya pintu impor hortikultura Pelabuhan Tanjung Priok sejak 19 Juni 2012. Sejumlah peritel mo­dern maupun pedagang di pa­sar tradional telah menaikkan harga beberapa komoditas sayur dan buah impor.

Head of Corporate Communi­cation PT Carrefour Indonesia Satria Hamid Ahmadi mengata­kan, produk hortikultura impor yang sudah naik 20 persen. Antara lain, bawang putih yang saat ini harganya tembus Rp 20 ribu-25 ribu per kilogram (kg). Tak ha­nya itu, harga wortel naik men­jadi Rp 7.500-10.500 per kg.

“Bawang putih kita ambil dari Cina. Sedangkan sayuran selain wortel, kita masih bergan­tung pada ba­wang bombai dari New Zea­land,” ujarnya kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Wakil Sekjen Asosiasi Pengu­saha Ritel Indonesia (Aprindo) ini menilai, penutupan pintu impor hortikultura menuju empat pela­buhan, yakni Tanjung Perak Sura­baya, Belawan Medan, Ma­kassar dan Soekarno-Hatta, cu­kup berim­bas signifikan pada peri­tel modern seperti Carrefour. Sebab, saat ini porsi komoditas hortikultura ma­sih mendominasi dari total pen­jualan. “Hortikul­tura impor men­capai 60 persen dibandingkan lokal. Yang lokal kami tetap pu­nya, namun terham­bat kon­tinu­itas dan kualitas,” ungkap­nya.

Dampak lain dari pengetatan pintu masuk impor hortikultura adalah kekhawatiran harga ko­moditas melambung tinggi sei­ring momen puasa dan Lebaran. “Menjelang momentum puasa dan Lebaran, kenaikan harganya bisa 40-50 persen,” jelasnya.

Chief Operating Director PT Hero Supermarket Tbk (HERO) Edi­son Manalu mengakui, pem­batasan impor hortikultura ber­dampak ke peritel modern. “Kita menjual barang impor karena seg­­men kami menengah atas. Sebab, perfor­mance dan kuali­tas memang lebih baik. Meski demi­kian, kami tetap gandeng part­ner lokal, mes­kipun kon­tinui­tas­nya sulit,” je­lasnya.

Namun, hingga sekarang, lan­jut Edison, pihaknya masih be­lum menaikkan harga hortikul­tura lantaran mengimpor dari be­berapa negara yang masih diper­bolehkan untuk memasukkan komoditas internasional.

Komoditas hortikultura di pa­sar tradisonal juga mengalami kenaikan harga. Misalnya, jeruk mandarin yang sebelumnya Rp 12.000, saat ini bisa mencapai Rp 24.000 atau bahkan Rp 25.000 per kg. Kemudian harga wortel impor, melonjak dari Rp 10.000 menjadi Rp 22.000 per kg.

“Barangnya sekarang ini nggak ada,” ujar seorang pedagang buah di Pasar Kramat Jati, Jakarta.

Asyrof, pemilik PT Agri Manis Persada, distributor buah asal Tangerang, juga mulai pusing memenuhi pasokan buah bagi lima gerainya. [Harian Rakyat Merdeka]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA