Kementerian BUMN Didorong Terapkan Asas Cabotase

Senin, 18 Juni 2012, 09:10 WIB
Kementerian BUMN Didorong Terapkan Asas Cabotase
Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN)

RMOL. Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) didorong me­lak­sanakan asas cabotage. Uta­manya dalam menggunakan pro­duk dalam negeri bagi ke­pen­tingan nasional.

Pelaksanaan asas cabotage diyakini akan mendorong per­eko­nomian nasional dalam meng­hadapi berbagai gejolak pereko­nomian global.

Hal itu diungkapkan Menko Per­ekonomian Hatta Rajasa me­nanggapi rencana PT Angkutan Sungai Danau dan Penye­be­rangan (ASDP) Indonesia Ferry membeli kapal Feri bekas dari Inggris.

“Kalau dari sisi kebijakan, kita membuat kapal di dalam negeri karena ada Inpres Nomor 5 tahun 2005 tentang asas cabotage. Di da­lamnya itu ada galangan kapal kita sendiri yang digunakan untuk membangun kapal,” ujar dia.

Menurut Hatta, pelaksanaan asas cabotage mampu mening­kat­­kan perekonomian dan me­ning­katkan daya saing industri nasional. Saat ini, terdapat empat galangan kapal domestik yang 100 persen sahamnya dikuasai negara, yaitu PT PAL Indonesia, PT Dok dan Perkapalan Sura­baya, PT Dok Kodja Bahari dan PT IKI Makassar.

“Seharusnya BUMN gunakan­lah BUMN incorporate. PT PAL itu kan punya BUMN juga, jadi se­harusnya digunakan,” katanya.

Kepala Bagian Humas dan Pro­tokoler Kementerian BUMN Faisal Halimi mengatakan, pem­belian enam kapal bekas oleh PT ASDP adalah hal yang wajar. Meng­ingat, jumlah moda trans­portasi laut (kapal roro) yang ada saat ini di sejumlah pelabuhan penye­berangan belum mampu me­menuhi kebutuhan.

“Rencana pembelian ini sebe­narnya sudah kami ketahui sejak lama. Bahkan, direksi sudah me­ngunjungi sejumlah negara untuk melihat-lihat kapal,” kata Faisal kepada Rakyat Merdeka.

Hasilnya, kata dia, diketahui bahwa proses pembuatan kapal ba­ru memerlukan waktu yang tidak sebentar. Lamanya pem­buatan ka­pal bisa sampai hitungan tahun.

“Selain kapal milik pemerintah yang kerap harus naik dok, kapal milik swasta juga kerap naik dok guna menjalani perbaikan. Nah, jika kondisinya demikian, tak heran antrean panjang di pela­buhan akibat kurangnya armada laut,” jelas Faisal.

Dari enam kapal yang dibeli ASDP, lanjut Faisal, satu kapal di antaranya sudah berlayar dari Inggris menuju Indonesia. Kapal tersebut diperkirakan akan ber­sandar pada 15 Juli.

“Tiga lagi akan dikirim akhir tahun. Sedangkan dua masih da­lam proses penawaran. Semua kapal-kapal masih berusia muda dan masih sangat layak di­ope­rasikan,” ujarnya. [Harian Rakyat Merdeka]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA