RMOL. Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas) mencatat tingkat pencurian minyak di Indonesia sangat tinggi.
Deputi Umum BP Migas J WiÂdjoÂnarko mengatakan, gangÂguan keamanan pada fasilitas inÂdustri hulu migas akan langsung berÂdampak pada kegiatan ekÂsplorasi dan eksploitasi migas di IndoÂnesia. Kondisi itu menyeÂbabÂkan kehilangan pendapatan neÂgara riÂbuan dolar AS per harinya.
Dia mengatakan, gangguan non teknis itu bisa berupa penÂcurian (minyak bumi, pipa beÂsi, valve), sabotase (pembloÂkiÂran jaÂlan), premanisme (ancaÂmÂan, peÂÂnyerangan) dan demonsÂtrasi. Hal tersebut merupakan kendala utama tercapainya tarÂget proÂduksi nasional.
Bahkan, dia mencatat, selama seÂlama tiga tahun terakhir gangÂguan non teknis telah meningkat 160 persen, yaitu dari 471 keÂjaÂdian tahun 2009 menjadi 1.234 kejadian pada tahun 2011.
“Gangguan non teknis yang selama ini terjadi telah mengÂakiÂbatkan terhambatnya kegiatan eksplorasi dan eksploitasi di beÂberapa wilayah, yang pada akÂhirnya akan memberikan keÂruÂgian materil terhadap investor dan negara,†kata WiÂdjoÂnarko.
Jika kondisi ini dibiarkan terus menerus, tentu akan memberikan dampak jangka panjang terhadap kestabilan perekonomian. ApaÂlagi, pemerintah tahun ini meÂnarÂgetkan pendapatan dari sektor migas 2012 sebesar Rp 240 triliun.
Kepala Divisi Humas Sekuriti dan Formalitas BP Migas Gde PraÂdnyana mencatat, dari Januari samÂpai April 2012 sudah ada 225 kaÂsus pencurian minyak. SedangÂkan2011 kasus pencurian miÂnyak mentah produksi konÂtraktor kontrak kerja sama (KKS) menÂcapai 420 kasus.
Gde mengatakan, kasus penÂcurian tersebut banyak terjadi di jalur-jalur pipa distribusi minyak mentah di daerah Tempino KaÂbupaten Batanghari, Jambi samÂpai di daerah Plaju, Sumatera.
“Modus yang umum dilakuÂkan para pencuri minyak terseÂbut, yakni sengaja melubangi pipa minyak lalu mentransÂferÂnya ke drum-drum lalu diÂbawa kaÂbur,†jelasnya.
Perusahaan minyak yang seÂring melaporkan terjadinya penÂcurian minyak antara lain PerÂtamina EP, Medco E&P (RiÂmau), ConocoÂPhillips (GrisÂsik) dan UBEP Jambi. “KehiÂlangan miÂnyak yang terÂcatat di 2011 seÂkitar 3.000 barel, tapi kami yaÂkin jumlahnya jauh lebih besar dari angka itu,†kata Gde.
Dia mengakui, gangguan opeÂrasional berkontribusi pada peÂnurunan produksi migas. FakÂtor non teknis menyumbang 60 perÂsen penyebab turunnya proÂduksi. Oleh karena itu, BP Migas meÂngajak semua pihak terkait beÂkerja sama mengurangi gangÂguan operasional yang dihadapi konÂtraktor di lapangan.
Direktur Reforminer Institute Pri Agung Rachmanto mengataÂkan, BP Migas sebagai penangÂgungÂjawab produksi minyak (lifting) harus mengambil langÂkah tegas menghadapi pencuriÂan minyak itu.
Pasalnya, setiap kehilangan minyak mentah berarti berkuÂrangnya pendapatan negara dari sektor migas. Karena itu, resÂponsÂnya harus cepat dalam meniÂnÂdaklanjuti temuan tersebut. “GaÂrong (pencuri) minyak bisa bikin target produksi seret,†ujarnya.
Kalau penyebab hilangnya miÂnyak karena kebocoran pipa yang disengaja, BP Migas dan pihak terkait harus segera meÂninÂdakÂlanjuti. Kalau penyebab kehilaÂngan akibat kebocoran pipa yang sudah aus dimakan usia, itu juga harus segera diperbaiki, termaÂsuk opsi mengganti pipa.
Untuk diketahui, tahun ini pemerintah menargetkan proÂdukÂsi minyak nasional mencapai 930 ribu barel per hari. Namun, hingÂga kini angka produksinya masih di rata-rata 900 ribu per barel. Untuk 2013 disepakti lifting minyak dan gas sebesar 2.215-2.320 ribu barel oil equivalen per day (BOEPD), terdiri dari lifting minyak bumi sebesar 890-930 ribu barel per hari dan lifting gas bumi 1.325-1.390 ribu BOEPD. [Harian Rakyat Merdeka]
< SEBELUMNYA
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.