RMOL. Wakil Menteri Energi dan SumÂber Daya Mineral (Wamen ESDM) yang baru dilantik, Rudi RuÂbiÂandini optimis bisa meÂningÂkatkan sektor-sektor energi primer dan produksi minyak yang beÂlaÂkangan ini mengalami penurunan.
“Saat ini Indonesia sedang maÂsuk dalam tahap net importir miÂnyak. Saya akan berusaha jangan sampai Indonesia masuk dalam net importir energi lagi,†janji RuÂdi di acara penyambutannya di kantor Kementerian ESDM, Jakarta, kemarin.
Untuk merealisasikan targetÂnya itu, Rudi akan fokus dalam pemÂbangunan sektor infraÂstrukÂtur energi. Melalui pembangunan inÂfrastruktur energi tersebut, konÂdisi net importir bisa dicegah.
Dia berharap, pemenuhan enerÂgi ini diharapkan sudah siap daÂlam jangka waktu 10-20 tahun ke depan dengan mengemÂbangÂkan berbagai energi.
Menurutnya, konsumsi maÂsyaÂrakat terhadap energi minyak dan gas alam saat ini sudah 65 persen. PaÂdahal, cadangan miÂnyak InÂdoÂnesia hanya 0,3 perÂsen, seÂdangÂkan cadangan gas InÂdonesia 1,2 persen. “Padahal InÂdonesia meÂmiliki cadangan panas bumi (geoÂtherÂmal) 40 persen cadangan duÂnia dan sinar mataÂhari yang terus menyinari IndoÂnesia 12 jam per hari,†ujarnya.
Itu sebabnya, lanjut Rudi, diverÂsifikasi energi harus segera dilaÂkukan. Meski dia mengakui untuk melakukan hal tersebut tidaklah mudah, karena harus mengubah energi terbarukan lebih menarik dibanding minyak dan gas.
Untuk itu, Indonesia harus memÂbangun infrastruktur gas guÂna mendekatkan sumber gas ke pengguna gas dalam waktu dekat.
“Saya pastikan, pembangunan itu akan berjalan. Termasuk memÂÂbangun tempat penamÂpuÂngan regasifikasi terapung di Jawa dan Sumatera,†tegasnya.
Namun, sebagai langkah awal, upaya penghematan energi yang dilakukan pemerintah mesti lebih digalakan. Pasalnya, pendapaÂtan per kapita dan jumlah penÂduÂduk Indonesia terus meningkat.
Akibatnya, kebutuhan energi Indonesia juga terus meningkat. Kebutuhan energi yang meningÂkat itu jangan sampai melebihi keÂmampuan Anggaran PendaÂpatan dan Belanja Negara (APBN). Oleh karena itu, penghematan mutlak dilakukan.
Penghematan yang dimaksud, yakni gas yang diekspor sebaÂnyak 53 persen dan kebutuhan dalam negeri 47 persen. Hal itu terjadi di saat belum mampu meÂnyerap gas, baik karena infraÂstruktur maupun harga yang belum kompetitif. [Harian Rakyat Merdeka]
< SEBELUMNYA
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.