Gubernur BI Darmin NaÂsuÂtion mengakui, rasio pinjaman bank terhadap pendapatan naÂsioÂnal di Indonesia paling renÂdah diÂbandingkan dengan China atau neÂgara ASEAN lainnya. Rasio pinÂjaman bank di IndoÂnesia terÂhadap penÂdapatan naÂsioÂnal haÂnya menÂcapai 29 perÂsen. BaÂyangkan deÂngan China yang mencapai 140 persen.
Untuk itu, pihaknya getol meÂngawasi serta membedah cost of fund (biaya dana) yang menÂjadi salah satu komponen peÂneÂtapan suku bunga perbankan. Ini juga diakui terkait dengan peÂngaÂwaÂsan efisiensi sektor keuangan dan perÂbankan yang masih renÂdah.
Pihaknya memahami rendahÂnya pinjaman bank ke pengusaha seperti Usaha Kecil dan MeÂneÂngah (UKM) karena tingginya suÂÂku bunga pinjaman. SemenÂtara di saat bersamaan, perÂbanÂkan enggan menurunkan suku bunga karena takut nasabah (deÂposan) kelas kakap akan lari.
“Kalau yang mengancam kaÂbur simÂpanannya sekelas Rp 1 miliar masih bisa diabaikan. Tapi kalau Rp 5 triliun ke atas, meÂreka (diÂrekÂsi bank) pasti keÂder juga. KaÂrena itu, para depoÂsan kakap terÂseÂbut kerap meÂminÂta bunga di atas bunga norÂmal. Misalnya kaÂlau individu meÂnerima dua perÂsen, deposan kakap ini ya 5 perÂsen lah,†cetus Darmin di acara silaÂturahmi deÂngan pimpinan media massa di Jakarta, Selasa malam (12/6).
Akibatnya, kata bekas Dirjen Pajak Kemenkeu ini, beban bunga pinjaman yang seÂmestinya bisa diturunkan, terÂpaksa diÂtanggung semua penguÂsaÂha, terÂmasuk UKM.
“Kan ini tidak fair. Karena itu, saya sudah berÂkordinasi dengan Lembaga PenÂjamin SimÂpanan (LPS) agar bisa membedakan jaÂminan bagi deÂposan kakap atau gurem,†imbuhnya.
Sebelumnya, Darmin juga meÂngakui, bank yang menyimpan obÂligasi rekapitalisasi cenderung malas menyalurkan kredit karena terÂbuai dengan keuntungan kuÂpon yang diberikan pemeÂrintah. PaÂdahal, obligasi rekap itu memÂbebani mereka, terutama bank-bank BUMN. Mereka menjadi kuÂrang kompetitif dibandingkan bank yang tanpa obligasi rekap cukup besar di dalam neracanya.
Menurut peneliti ekonomi LIPI, Latif Adam, perbankan akan berÂhitung lebih jauh jika haÂrus meÂnurunkan suku bunga kreÂdit, yang sekaligus diikuti peÂnurunan bunga deposito. “PaÂsalÂnya, nasaÂbah kaÂkap akan menÂcari alternatif lain yang mengÂunÂtungÂkan jika bank menurunkan suku bunga deposito. Hal ini yang dikhaÂwatirkan oleh bank,†jelas Latif.
Sebelumnya, PT Jamsostek dan PT Jasa Raharja membantah meÂminta suku bunga deposito tinggi pada bank-bank BUMN. “JamÂsostek tidak pernah meÂminta tingÂkat bunga tinggi,†bantah Direktur KeÂuangan JamÂsostek Elvin G MasÂsaÂsya.
Dia menyatakan, JamÂsosÂtek juga tidak pernah berÂneÂgoÂsiasi deÂngan bank-bank BUMN unÂtuk tidak menurunkan suku bunga deposito. Menurutnya, saat ini daÂna nasabah di perbankan seÂkitar Rp 2.400 triliun, sedangkan dana deposito Jamsostek hanya Rp 30 triliun. “Jadi sangat tidak masuk akal jika Jamsostek dapat meÂnekan bank untuk tidak meÂnurunkan suku bunga,†tuturnya.
SPihak BI menguÂngÂkapkan, suku bunga deposito dan kredit industri perbankan terus meÂnunÂjukkan penurunan. Rata-rata suku bunga deposito 1 bulan pada ApÂril 2012 turun hingga 24 basis points (bps). Sedangkan suÂku bunga kredit turun tipis 8 bps.
“Penurunan suku bunga perÂbankÂan masih terus berlanjut. RaÂta-rata suku bunga deposito 1 bulan pada April 2012 turun 24 bps dari bulan seÂbeÂlumÂnya menÂjadi 5,42 persen. Sejalan dengan penurunan suku bunga simÂpanan, rata-rata suku bunga kredit juga turun sebesar 8 bps dari 12,59 persen pada Maret 2012 menjadi 12,51 perÂsen pada April 2012,†jelas BI daÂlam publikasi Laporan TinÂjauan Kebijakan Moneter BI buÂlan Juni 2012. [Harian Rakyat Merdeka]
< SEBELUMNYA
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: