Produsen Otomotif Girang Diberi Insentif

Proses Alih Teknologi Kendaraan Harus Dipaksa

Kamis, 14 Juni 2012, 08:20 WIB
Produsen Otomotif Girang Diberi Insentif
ilustrasi/ist
RMOL.Pemerintah akhirnya mem­be­baskan importasi mesin, untuk pe­ngembangan mobil murah dan akrab lingkungan (low cost and green car/LCGC) yang mulai ber­laku Juli 2012. Keputusan tersebut ter­tuang dalam Peratur­an Menteri Ke­uangan (Permen­keu) Nomor 76/PMK.011/2012.

“Produsen otomotif nasional menyambut baik keluarnya in­sen­­tif bea masuk program LCGC. Namun, pada prinsipnya, harga akhir produk LCGC harus kom­pe­titif sesuai dengan rencana awal,” kata Ketua III Gabungan In­dustri Kendaraan Bermotor In­do­nesia (Gaikindo) Johnny Dar­ma­wan di Jakarta, kemarin.

Menurut Johnny, segala per­atur­an yang terkait dengan pro­gram LCGC perlu dikeluar­kan se­cara komprehensif. Kon­di­si ter­sebut berkaitan erat dengan kal­kulasi para produsen otomotif.

“Aspek harga harus menjadi pertimbangan yang serius agar LCGC bisa diterima pasar. Ka­rena itu, rencana pemerintah mem­berikan fasilitas pajak ba­rang mewah harus segera diper­jelas,” paparnya.

Sedangkan CEO PT Astra In­ter­national Tbk Peugeot Sales Ope­rations Cons­tantinus Her­li­joso mengatakan, Permenkeu No.76/2012 harus diperjelas, de­ngan menerbitkan petunjuk pe­lak­sanaan, karena menyangkut bebe­rapa aspek detail tentang pos tarif mesin yang akan dibe­bas­kan.

“Pembebasan bea masuk me­sin dan bagiannya yang saya ta­hu ba­ru sebagian. Lantas, bagai­mana de­ngan sejumlah kompo­nen yang belum dibebaskan tapi ber­hu­bungan erat dengan prog­ram LCGC? Pebisnis butuh kete­rang­an lebih terperinci di dalam juklak,” katanya.

Pemerintah juga di­de­sak me­maksa kalangan in­dustri otomotif guna melakukan alih tek­nologi. Seperti di Malaysia yang berhasil “me­maksa” Mit­su­bishi mem­bantu mereka mem­buat mobil nasional merk Proton.

Ketua Komite Inovasi Na­sio­nal (KIN) Zuhal mengaku pri­hatin atas ketidakberdayaan pe­merintah mendesak investor asing melakukan alih teknologi di sekt­or industri. Bahkan, dia me­nu­ding, saat ini pemerintah tidak pernah memikirkan adanya alih teknologi guna menciptakan pro­duk lokal yang mampu men­du­nia. “Itu tercermin jelas dari ba­nyak­nya investasi yang meng­gunakan ber­bagai macam tekno­logi tapi tidak mengajari Indo­ne­sia,” tuding Juhal. [Harian Rakyat Merdeka]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA