Hidayat masih mengusahakan agar kenaikan harga gas tidak memberatkan pelaku usaha. UnÂtuk itu, pihaknya mengaku telah berkomunikasi dengan bos PGN Hendi Prio Santoso, guna memÂbicarkan soal kemelut harÂga gas sekaligus jadi peneÂngah atas keÂnaikan harga gas ini.
“Saya kemarin menerima SofÂyan WaÂnandi dengan bebeÂrapa pengurus industri. Saya sudah menghuÂbungi Dirut PGN dan dia sedang berada di London. Dia berjanji minggu ini akan berteÂmu,†kata Hidayat di Jakarta, kemarin.
Diakuinya, secara prinsip, seÂluruh pengusaha menerima keÂnaikan 55 persen harga gas, naÂmun jangan sampai kenaikan terÂsebut mendadak. Sebab, kebiÂjaÂkan tersebut akan menimÂbulkan keruÂwetan rencana bisnis. Tentu peÂningkatan harga gas, yang menÂÂjadi komponen utama beban peruÂsahaan, lanjutnya, membuat para pengusaha kelimpungan. RenÂcana bisnis dapat terÂtanggu.
“Besarannya harus dihitung kemÂbali. Harus terjadi kenaikan yang besar, harus ada tahapan. MisalÂnya tiap 6 bulan sekali. Tiap naik 15 persen, maka busiÂness plan (rencana bisnis) mereÂka bisa jalan,†tutur bekas Ketua Umum KaÂdin ini.
PGN sebagai perusahaan neÂgara yang go public, menurut HiÂdayat, juga harus menjamin keÂterÂsediakan pasokan gas bagi indusÂtri tetap lancar. Jangan samÂpai BUMN bidang gas ini mudah meÂmotong kuota gas unÂtuk inÂdustri di tengah jalan.
“Kami akan menghitung strukÂtur cost yang berpengaruh terhaÂdap penjualan. Saya setuju konÂtrakÂnya harus diperÂbaharui. PGN membuat kontrak gas, tetapi di tengah jalan kuotanya dikuÂrangi 25 persen. Terus nanti kalau meÂreka melebihi kuota dikenakan sanksi 300 persen. Kan itu tidak fair,†imbuhnya.
Sebanyak 31 Asosiasi industri yang tergabung dalam Forum Lintas Asosiasi Industri menoÂlak kenaikan harga gas industri seÂnilai 55 persen. Akibat kebijaÂkan PGN terseÂbut, industri maÂkanan dan minuÂman pun terkena imbas keÂbiÂjakan ini.
Sekjen Gabungan PenguÂsaha Makanan dan MinuÂman SeluÂruh Indonesia (GAPMMI) Franky SiÂbarani meÂnuturkan, dengan keÂnaikan harga gas ini, akan menaiÂkkan biaya produksi maÂkanan dan minuman sebanyak 20-30 persen.
Ketua Umum Asosiasi PenguÂsaha Indonesia (Apindo) SofÂjan Wanandi juga mengatakan, keÂnaiÂkan harga gas yang tiba-tiba akan meÂmaÂtikan peÂrindusÂtrian dalam negeri.
Sebelumnya, Sekretaris PeruÂsahaan PGN Heri Yusup mengaÂtakan, kenaikan harga gas dikaÂreÂnakan harga pembelian gas PGN ke kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) juga mengaÂlami peningÂkatan sejak 1 April 2012.
“Saat ini, kenaikan harga gas mÂasih dalam tahap sosialisasi ke inÂdustri,†katanya. [Harian Rakyat Merdeka]
< SEBELUMNYA
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: