Koordinator Sekretariat Nasional Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra) Ucok Sky Khadafi menyatakan, munÂculnya berbagai kasus koÂrupsi di Bank Indonesia (BI) kaÂreÂna sistem kerja dan pengawasan di lembaga itu letoy alias lemah.
Ironisnya, program gaji tinggi yang diberikan ke pegawai BI terbukti belum ampuh meÂningÂÂkatkan kinerja Bank Sentral. Dia melanjutkan, fakta juga menyeÂbutkan bahwa BI seolah tak berÂdaya menghadapi berbagai perÂsoalan perbankan di tanah air.
“Sebagai Bank Sentral, BI haÂrus mengetahui setiap transaksi menÂcurigakan yang terjadi di bank lainÂnya. Tapi mereka malah tutup mata dan sengaja memÂbiarÂkan transaksi itu berlanjut. MiÂsalnya kasus Bank CenÂtury yang juga melibatkan BI. Kenapa BI tidak bertindak saat mengetahui ada bailout untuk Bank Century? Itu karena BI juga terlibat,†kata Ucok di JaÂkarta, kemarin, meÂnanggapi hasil survei Soegeng Sarjadi SyndiÂcate (SSS) yang meÂnempatkan BI sebagai lembaga korup peringkat ke delapan.
Ditegaskan Ucok, BI juga beÂlum becus mengawasi setiap tranÂsaksi mencurigakan yang dilakuÂkan sejumlah bank yang berÂnaung di bawah pengawasannya.
“Banyak rekening liar milik satu orang sengaja dibiarkan. BeÂlum lagi rekening gendut milik pejaÂbat dari hasil korupsi yang tiÂdak bisa diblokir. Atau banyakÂnya kaÂsus pencucian uang dari neÂgara lain dan dari para korupÂtor. BahÂkan uang korupsi hasil pengaliÂhan dari rekening ke reÂkening peÂjabat juga tidak pernah diketahui oleh BI meskipun meÂreka sebeÂnarÂnya sangat mengeÂtahui hal itu,†papar Ucok.
Hasil survei SSS mengungkapÂkan, DPR dinobatkan sebagai lembaga terkorup oleh 47 persen dari 2.192 responden. Survei ini diÂlakukan di 163 kabupaten kota di 33 provinsi. Di baÂwah DPR, ada kantor pajak yang dinilai 21,4 paling korup. Urutan ketiga, Kepolisian yang dipilih oleh 11,3 persen responden.
“Partai politik juga dianggap korup oleh 3,9 persen responden, Kejaksaan Agung sebesar 3,6 perÂsen, layanan birokrasi, sebesar 3,1 persen. Di sisi lain lembaga Kehakiman juga dianggap korup oleh 2,6 persen, BI seÂbesar 1, 2 persen dan MK 1 persen,†kata Koordinator SSS, Muhammad Dahlan di Jakarta, Rabu (6/6).
Berdasarkan data Indonesia Corruption Watch (ICW), ada sekitar 10 pejabat teras BI yang perÂnah tersangkut skandal koÂrupsi. Antara lain bekas Deputi Gubernur Senior BI Miranda GoelÂÂtom, bekas Gubernur BI Syahril Sabirin, bekas Direktur BI Heru Supraptomo,bekas DiÂrekÂtur BI Paul Sutopo dan bekas Direktur BI Hendro Budiyanto.
KemuÂdian, pada tahun 2009, bekas GuÂbernur BI Burhanuddin Abdullah juga tersangkut kasus korupsi. Ada juga bekas Deputi Gubernur BI Aulia Pohan, bekas Deputi Gubernur BI Maman Soemantri, bekas Deputi GuÂberÂnur BI BunÂbunan Hutapea, beÂkas Deputi GuÂbernur BI Aslim Tadjuddin. Juga bekas Direktur Hukum BI Oey Hoey Tiong serta bekas KeÂpala Biro BI Rusli SiÂmanÂjuntak.
Pengamat ekoÂnomi Aviliani mengemukakan SDM di BI keÂrap dipengaruhi oleh kebijakan politik dan ikut bermainnya para pengusaha yang ingin agar BI membela kepenÂtingan mereka dalam persaingan antar bank.
“BI juga sangat diÂpengaruhi oleh orang-orang poliÂtik. PadaÂhal, SDM BI itu sangat profesioÂnal dalam bekerja. Tapi keproÂfeÂsionalan mereka kadang tak berÂdaya mengÂhadapi tekanan poliÂtik,†tanÂdasnya. DPR tahun ini meÂnyetujui anggaran operÂasioÂnal Rp 5,23 triliun dan angÂgaran peneÂrimaan operasioÂnal Rp 27,37 triliun.
Dalam berbagai kesempatan, KeÂpala Biro Humas Bank IndoÂnesia Difi A Johansyah mengaku sudah melakukan penyelidikan internal terkait laporan adanya duÂgaan aliÂran dana dari bekas peÂmilik Bank Century, Robert Tantular keÂpada Deputi Gubernur BI Budi Mulya. Di Rapat Dewan Gubernur, kata Difi, Budi Mulya mengaku aliran dana itu dilaÂkuÂkan dalam hubungan priÂbadi. TiÂdak ada huÂbunganÂnya dengan FaÂsilitas PendaÂnaan Jangka PenÂdek (FPJP). [Harian Rakyat Merdeka]
< SEBELUMNYA
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: