Direktur Utama PT KAI IgÂnatius Jonan mengaku, pihaknya akan segera menarik kereta ekoÂnomi yang kondisinya sudah tiÂdak layak dan uzur.
“Kita akan tarik kereta ekonoÂmi yang tidak layak jalan lagi. Ini untuk mencegah terjadinya moÂÂgok,†kata Jonan usai peÂnanÂdaÂtanganan pemberian kuota BBM subsidi untuk KAI dari Badan Pengawas Kegiatan Hilir Minyak dan Gas (BPH Migas) di Jakarta, kemarin.
Menurut Jonan, penarikan keÂreÂta-kereta yang tidak layak itu terÂkait banyaknya kejadian. MiÂsalÂnya, kemarin, ada lagi kereta ekoÂnomi yang mogok di Tanjung BaÂrat, Pasar Minggu sehingga meÂngganggu operasi kereta lain.
Selain usianya yang sudah uzur, kata Jonan, sparepart (suku cadang) untuk kereta itu sudah tidak ada lagi. Karena itu, KAI akan membeli kereta-kereta baru.
Untuk 2012, Jonan mengaku akan membeli kereta api dari JeÂpang sebanyak 160 unit. Saat ini sudah masuk sebanyak 60 unit.
Dia menargetkan kereta terseÂbut bisa digunakan tahun depan. “Anggaran untuk pengadaan keÂreta api itu Rp 150 miliar. MuÂrah kan,†katanya.
Selain itu, Jonan juga meÂnarÂgetkan semua kereta listrik harus meÂnggunakan Air Conditioner (AC). Untuk tarifnya akan diseÂsuaiÂkan dengan subsidi yang diÂberikan pemerintah. “Kita siap memberikan tarif murah, tapi PSO (public service obligation) juga haÂrus disesuaiÂkan,†cetusnya.
Menurutnya, saat ini penumÂpang kereta api bisa mencapai 500 ribu orang per hari.
Manajer Humas Daop I KAI Mateta RijaÂlulhaq menambahÂkan, kejadian moÂgok kereta api kelas ekonomi maÂsih akan terus terjadi karena konÂdisi keretanya sudah tua.
Menurut dia, kereta-kereta keÂlas ekonomi sekarang meruÂpakan buatan 1974. Jadi dalam meÂlaÂkukan perawatannya susah seÂtengah mati. Karena itu, keÂbeÂraÂdaan kereta ini sulit diperÂtaÂhanÂkan karena akan menggangÂgu yang lain. “Sudah harus diÂisÂtiÂraÂhatkan,†katanya.
Ketua Forum Transportasi PerÂkeretaapian Masyarakat TransÂporÂtasi Indonesia Djoko SetijoÂwarno mengatakan, saat ini ada 348 atau 47 persen kereta ekoÂnoÂmi yang suÂdah uzur. Rata-rata usianya sudah di atas 30 tahun. BahÂkan sebanyak 308 unit usiaÂnya sudah di atas 40 tahun.
“Kondisi ini jelas akan berÂdampak pada operasi KAI dan memÂbahayakan keseÂlamatan. Kereta yang sudah uzur itu lebih baik dikandangin saja,†katanya.
Karena itu, Djoko meminta peÂmerintah segera mengganti kereta api kelas ekonomi yang sudah tidak layak lagi. Pasalnya, pengaÂdaan kereta kelas ekonomi meÂrupakan keÂwaÂjiban pemerintah.
Dia juga meminta pemerintah dan DPR meningkatkan subsidi untuk KAI. Apalagi anggaran subÂÂsidi yang diberikan pemeÂrinÂtah tahun ini hanya Rp 700 miliar dari usulan Rp 1,2 triliun.
“DaÂripada uang subsidi untuk kenÂdaraan pribadi, lebih baik diÂguÂnakan unÂtuk pengembangan transÂportasi bebas macet ini,†usulnya.
Dapat Jatah BBM Subsidi
BPH MiÂgas akhirnya membeÂrikan kuota BBM subsidi kepada KAI sebesar 169,9 ribu kiloliter untuk 2012. “Mulai tahun ini, kita berikan PT KAI BBM subsidi seperti kendaÂraan angkut lainÂnya,†kata Kepala BPH Migas Andy Noorsaman Sommeng.
Menurut Andy, pemberian BBM subsidi untuk KAI sesuai dengan Surat Keputusan BPH Migas No. 005/PS0/BPHMIGAS/KOM/2012 tentang penetapan kuota BBM jenis tertentu untuk PT KAI tahun 2012.
Selain itu, kata dia, penerapan itu juga sesuai dengan Peraturan Presiden No.15 tahun 2012 tenÂtang harga jual eceran dan konÂsumen pengguna jenis bahan baÂkar minyak tertentu.
Menurut Andy, selama ini KAI menggunakan BBM non subsidi untuk kereta barang dan penumÂpangnya. Padahal, kereta api adaÂlah angkutan yang banyak diguÂnakan masyarakat. Karena itu, pihaknya memberikan BBM subÂsidi. “Penumpang kereta api jumÂlahnya saat ini mencapai 200 juta orang per tahun,†kata Andy.
Dengan diberikannya BBM subÂsidi, diharapkan KAI dapat meÂÂningÂkatkan pendapatan peruÂsahaan dan pelayanan keÂpada penggunaÂnya. Selain itu, kereta api dapat berÂsaing deÂngan kenÂdaraan angÂkutan darat lainnya, khususnya angkutan barang.
Andy juga meminta KAI melaÂkukan pengawasan dalam menÂjaga kuota BBM subsidi. PasalÂnya, kuota yang ditetapkan dalam AngÂgaran Pendapatan dan BelanÂja Negara Perubahan (APBNP) hanya 40 juta kiloliter. [Harian Rakyat Merdeka]
< SEBELUMNYA
BERIKUTNYA >
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: