BI Akui Perusahaan Asing Borong Valas

Rupiah Sulit Tembus Rp 10.000

Sabtu, 02 Juni 2012, 08:10 WIB
BI Akui Perusahaan Asing Borong Valas
ilustrasi/ist
RMOL.Bank Indonesia (BI) beru­sa­ha meredam kepanikan pe­laku pasar menyusul anjlok­nya nilai tukar rupiah terha­dap dolar AS. Direktur Grup Departe­men Pe­rencanaan Stra­tegis dan Hu­mas BI Difi Ahmad Johansyah menyata­kan, pelemahan rupiah terjadi karena kebu­tuhan dolar AS me­mang sedang besar karena siklus pertenga­han tahun.

Pada momentum itu, utang luar negeri swasta tengah di­bayar dan perusahaan asing mela­kukan setoran dividen ke negara asalnya.

Menurut Difi, faktor utama tetap sentimen negatif Eropa, sehingga nilai tukar dolar me­­nguat terhadap mata uang lain di seluruh dunia.

“Sebab ada ekspektasi do­lar menguat, membuat inves­tor memborong dolar. Tapi, yang punya dolar tidak mau mele­pasnya,” ujar Difi di Ja­karta, kemarin.

Selain intervensi dan ren­cana menerbitkan Term Depo­sit (TD) valas dua minggu lagi, BI tetap melakukan upa­ya me­redam fluktuasi rupiah. Cara­nya, melalui inter­vensi di pasar Surat Utang Negara (SUN) dan melakukan pen­de­ka­tan moral (moral sua­sion) kepada pelaku pasar uang bahwa BI tetap menjaga likuiditas valas.

“Kalau SUN saya tidak tahu persis berapa banyak. Yang je­las, cadangan devisa kita kuat. Ini kan masalahnya ka­rena senti­men negatif,” tukas Difi.

Dikatakan, investor asing yang melepas SUN-nya lari ke dolar untuk menghindari risiko kurs. Sedangkan capital out­flow terjadi karena harga aset keuangan di Indonesia yang memang sudah tinggi.

Selain itu, fund manager asing melakukan rebalan­cing terha­dap portofolio karena ri­siko nilai tukar di ting­­kat glo­bal.

“Aset keuangan kita sebe­lum­nya diperdagangkan di range yang tipis, jadi kurang menarik untuk trading. Itu bisa terlihat di chart Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG),” ungkap Difi.

Pemerintah optimistis pele­mahan rupiah tidak sampai membuat pasar khawatir me­nanamkan modal­nya di Tanah Air karena ko­kohnya funda­mental ekonomi dan cadang­an devisa yang memadai.

Menko Perekonomian Hat­ta Rajasa mengatakan, per­ekono­mian Indonesia me­mang tidak bisa terlepas dari situasi global yang sedang ti­dak dalam kon­disi yang baik.

Memburuknya situasi Ero­pa, krisis utang dan insta­bi­litas politik Yunani, serta ke­su­­litan likuiditas di per­bank­an Eropa, memang harus di­was­pa­dai.

Di sisi lain, katanya, ter­jadi penguatan dolar AS karena eko­nomi Amerika tumbuh po­sitif. “Pelemahan rupiah ini kita harap bersifat temporer, karena tidak berkai­tan sama sekali dengan funda­mental ekonomi kita,” ujar Hatta.

Menurut Difi, cadangan de­visa Indonesia saat ini sangat kuat, yakni 114 miliar dolar AS-115 miliar dolar AS. Ca­dangan devisa yang memadai diharapkan dapat menim­bul­kan kepercayaan pasar ter­ha­dap Indonesia.

Pengamat Pasar Modal Dan­dossi Matram mengatakakan, melemahnya dolar terhadap rupiah sering kali terkait de­­ngan kondisi pasar modal. Ini di­karenakan, ketika investor asing menarik modalnya yang ‘parkir’ di Indonesia, maka me­nyebabkan dolar yang jadi mata uang dunia menjadi agak terbatas. Selain itu, menekan permintaan dolar di pasar yang mengakibatkan dolar menguat terhadap rupiah.

Ia tak yakin rupiah me­nem­bus Rp 10 ribu. “Bu­kanlah hal mudah bagi rupiah untuk me­nembus Rp 10 ribu per do­lar AS,” analisa Dandossi. [Harian Rakyat Merdeka]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA