Pada momentum itu, utang luar negeri swasta tengah diÂbayar dan perusahaan asing melaÂkukan setoran dividen ke negara asalnya.
Menurut Difi, faktor utama tetap sentimen negatif Eropa, sehingga nilai tukar dolar meÂÂnguat terhadap mata uang lain di seluruh dunia.
“Sebab ada ekspektasi doÂlar menguat, membuat invesÂtor memborong dolar. Tapi, yang punya dolar tidak mau meleÂpasnya,†ujar Difi di JaÂkarta, kemarin.
Selain intervensi dan renÂcana menerbitkan Term DepoÂsit (TD) valas dua minggu lagi, BI tetap melakukan upaÂya meÂredam fluktuasi rupiah. CaraÂnya, melalui interÂvensi di pasar Surat Utang Negara (SUN) dan melakukan penÂdeÂkaÂtan moral (moral suaÂsion) kepada pelaku pasar uang bahwa BI tetap menjaga likuiditas valas.
“Kalau SUN saya tidak tahu persis berapa banyak. Yang jeÂlas, cadangan devisa kita kuat. Ini kan masalahnya kaÂrena sentiÂmen negatif,†tukas Difi.
Dikatakan, investor asing yang melepas SUN-nya lari ke dolar untuk menghindari risiko kurs. Sedangkan capital outÂflow terjadi karena harga aset keuangan di Indonesia yang memang sudah tinggi.
Selain itu, fund manager asing melakukan rebalanÂcing terhaÂdap portofolio karena riÂsiko nilai tukar di tingÂÂkat gloÂbal.
“Aset keuangan kita sebeÂlumÂnya diperdagangkan di range yang tipis, jadi kurang menarik untuk trading. Itu bisa terlihat di chart Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG),†ungkap Difi.
Pemerintah optimistis peleÂmahan rupiah tidak sampai membuat pasar khawatir meÂnanamkan modalÂnya di Tanah Air karena koÂkohnya fundaÂmental ekonomi dan cadangÂan devisa yang memadai.
Menko Perekonomian HatÂta Rajasa mengatakan, perÂekonoÂmian Indonesia meÂmang tidak bisa terlepas dari situasi global yang sedang tiÂdak dalam konÂdisi yang baik.
Memburuknya situasi EroÂpa, krisis utang dan instaÂbiÂlitas politik Yunani, serta keÂsuÂÂlitan likuiditas di perÂbankÂan Eropa, memang harus diÂwasÂpaÂdai.
Di sisi lain, katanya, terÂjadi penguatan dolar AS karena ekoÂnomi Amerika tumbuh poÂsitif. “Pelemahan rupiah ini kita harap bersifat temporer, karena tidak berkaiÂtan sama sekali dengan fundaÂmental ekonomi kita,†ujar Hatta.
Menurut Difi, cadangan deÂvisa Indonesia saat ini sangat kuat, yakni 114 miliar dolar AS-115 miliar dolar AS. CaÂdangan devisa yang memadai diharapkan dapat menimÂbulÂkan kepercayaan pasar terÂhaÂdap Indonesia.
Pengamat Pasar Modal DanÂdossi Matram mengatakakan, melemahnya dolar terhadap rupiah sering kali terkait deÂÂngan kondisi pasar modal. Ini diÂkarenakan, ketika investor asing menarik modalnya yang ‘parkir’ di Indonesia, maka meÂnyebabkan dolar yang jadi mata uang dunia menjadi agak terbatas. Selain itu, menekan permintaan dolar di pasar yang mengakibatkan dolar menguat terhadap rupiah.
Ia tak yakin rupiah meÂnemÂbus Rp 10 ribu. “BuÂkanlah hal mudah bagi rupiah untuk meÂnembus Rp 10 ribu per doÂlar AS,†analisa Dandossi. [Harian Rakyat Merdeka]
< SEBELUMNYA
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: