Genjot Ekspor, Kadin Usul Jalan Tembus Kalimantan-Brunei

Sabtu, 02 Juni 2012, 08:05 WIB
Genjot Ekspor, Kadin Usul Jalan Tembus Kalimantan-Brunei
ilustrasi/ist
RMOL.Sebagai upaya meningkatkan hubungan kerja sama ekonomi dengan Brunei Darussalam, po­tensi ekonomi yang ada di wila­yah Kali­mantan harus di­kem­bangkan. Hal ini perlu dilaku­kan mengingat posisi beberapa pro­vinsi di Kali­mantan berba­tasan dengan Bru­nei.

Arus perdaga­ngan dan inves­tasi dinilai akan lebih lancar jika dapat dibangun infrastruktur se­perti jalan yang menembus perba­tasan antara Ka­limantan-Brunei.

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Suryo Bambang Sulisto (SBS) mengatakan, dalam upaya me­ning­katkan perdagangan dan in­vestasi dengan Brunei, diper­lukan pengembangan strategi dan pola pikir khusus. Menurutnya, per­ha­tian perlu dipusatkan pada peran Brunei sebagai negara ke­cil tetapi kaya terhadap pemba­ngu­nan di daerah Kalimantan.

“Kalimantan merupakan wila­yah dengan kekayaan sumber da­ya alam yang masih membu­tuh­kan investasi untuk pemba­ngu­nan infrastruktur, industri hilir, sarana dan prasarana pari­wasata serta pembangunan ma­nusia. Ke sektor-sektor itulah kita perlu me­narik investasi Brunei,” ujar Sur­yo di Jakarta, kemarin.

Statistik perdagangan dengan Brunei sejak 2007 sampai 2011 menunjukkan trend menurun. Total perdagangan pada 2007 mencapai mencapai 1,9 juta do­lar AS, sedangkan pada 2011 tu­run menjadi 1,1 juta dolar AS.

Sejak tahun 2007 sampai 2011 balance of trade dengan Brunei selalu mengalami defisit bagi In­donesia. Nilai ekspor ke Brunei pada 2011 hanya sebesar 81,6 ju­ta dolar AS yang kesemua­nya terdiri dari non-migas. Se­dang­kan impor minyak dari Bru­nei pada tahun yang sama sebesar 189,4 juta dolar AS.

“Defisit perdagangan dengan Brunei disebabkan karena Indo­nesia lebih banyak impor mi­nyak dari Brunei sedang ekspor non-migas kita ke Brunei sangat ter­batas dalam jenis barang,” ung­kap Suryo.

Arus investasi dan perdaga­ngan, menurutnya, akan lebih lan­car kalau saja dapat dibangun jalan darat menembus perbatasan antara Kalimantan dengan Bru­nei. Pembangunan jalan itu me­rupakan pekerjaan besar meng­ingat alam yang sulit, tetapi In­donesia dengan Brunei perlu me­laksanakan proyek itu dalam rang­ka peningkatan konektivitas ASEAN.

“Kalimantan yang kaya sum­ber energi perlu mengajak Brunei menamkan modal­nya pada sektor pembangkit te­naga listrik. Dalam implementasi MP3EI (Mas­ter­plan Percepatan dan Perluasan Pem­bangunan Ekonomi Indone­sia), Brunei da­pat kita ajak mela­kukan investasi dalam sektor in­dustri pengolahan hasil pertam­bangan dan perkebu­nan. Dalam hal pem­bangunan ma­nusia, Kali­mantan memerlu­kan investasi sarana dan prasara­na kesehatan, pendidikan, air ber­sih dan sete­rusnya,” jelas Suryo.

Peran Kadin Daerah, lanjutnya, sangat strategis untuk diperhati­kan. Untuk itu Komite Brunei per­lu membuat program yang lebih rinci bersama Kadin Daerah di Kalimatan. Selain perdaga­ngan dan investasi, SBS juga me­ngingatkan akan pentingnya pe­luang dalam sektor pariwisata.

“Di Indonesia bagian barat kita mempunyai Pulau Batam dan Ke­pulauan Riau sebagai indus­trial zone untuk melayani dan me­man­faatkan potensi Singa­pura. De­ngan pola pikir yang serupa, apa­kah tidak mungkin untuk meme­rankan Kalimatan sebagai econo­mic zone terhadap Brunei dan Ma­laysia yang berada di perbata­san? Saya rasa kita perlu pikirkan hal ini dengan lebih dalam dan se­rius,” tan­dasnya. [Harian Rakyat Merdeka]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA