BI Kesulitan Tenangkan Rupiah, Bursa Goyang

Saham Tambang dan Otomotif Ikutan Jeblok Tuh

Jumat, 01 Juni 2012, 08:21 WIB
BI Kesulitan Tenangkan Rupiah, Bursa Goyang
ilustrasi/ist
RMOL.Bank Indonesia (BI) diminta tidak menjadi penonton atas kejatuhan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mencapai lebih dari 2 persen. Rontoknya indeks bursa salah satunya diduga akibat pelemahan rupiah.

Ketika sesi pembukaan tran­saksi kemarin, indeks sempat turun 38,61 poin (0,99 persen) ke level 3879,265. Pergerakan IHSG terus di jalur merah dan menjauhi level 3.900.

Pada penutupan per­da­gangan sesi I, indeks bahkan anjlok 103,484 poin (2,64 persen) ke level 3.814,432. Sementara In­deks LQ45 melemah 17,913 poin (2,7 persen) ke level 646,043.

Pada sesi penutupan, IHSG ter­gerus 85,092 poin (2,17 persen) ke level 3.832,824. Bur­sa-bursa di Asia kom­pak jatuh di zona me­rah, koreksi­nya makin sore makin dalam.

“BI tidak terlihat aksinya (me­nahan rupiah-red) agar pasar saham te­nang,” kritik Ke­pala Riset MNC Securities Edwin Sebayang di Jakarta, kemarin.

Dia mengatakan, salah satu fak­tor krusial pemicu aksi jual ma­sif (panic selling) adalah ke­tika Jumat lalu tiba-tiba rupiah melemah terhadap dolarAS. Sayangnya, aksi konkret BI ti­dak terlihat sehingga membuat in­vestor pa­nik.  Saat ini rupiah diperdagang­kan pada level Rp 9.605 dan Rp 9.565.

“Kata kuncinya bagai­ma­na mengembalikan dolar ke level Rp 9.200-9.300. Kalau itu ter­jadi, niscaya IHSG kembali positf,” urai Edwin.

Selain pelemahan rupiah, me­nurut Edwin, kejatuhan indeks juga dipicu tergerusnya bursa re­gional mengantisipasi per­soalan perbankan Spanyol dan naiknya biaya pinjaman. Hal ini tercermin dari naiknya imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Spanyol mendekati 7 persen. “Ini dikha­watirkan merembet ke Italia,” analisis Edwin.

Dalam transaksi valuta asing (valas) kemarin, rupiah berada di posisi Rp 9.575 per dolar AS. Ada­pun pada pagi ini rupiah ber­ada di level Rp 9.550 atau me­nguat 50,00 poin (0,52 persen) dari perdagangan sebelumnya Rp 9.600. Saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Gudang Garam (GGRM) turun Rp 4.400 ke Rp 54.100, Astra Inter­nasional (ASII) turun Rp 1.700 ke Rp 64.300, Bukit Asam (PTBA) turun Rp 950 ke Rp 15.000 dan Indomobil (IMAS) turun Rp 900 ke Rp 16.050.

Sebelumnya, BI yakin kebija­kan instrumen Term Deposit (TD) valas akan membantu paso­kan valas ke pasar domestik. Ke­bi­jakan Bank Sentral ini diyakini akan menormalkan posisi rupiah.

“Rangkaian kebijakan berikut­nya akan keluar terkait penguat­an pasar uang dan operasi mo­neter. TD valas itu baru satu dari yang berikutnya,” ujar Direktur Ekse­kutif Perencanaan Strategis dan Hubungan Masya­rakat BI Dody Budi Waluyo.

BI tidak menjelaskan apa saja kebijakan yang disiapkan nanti­nya. BI optimistis kebijakan ins­tru­men TD valas akan memban­tu pasokan valas ke pasar do­mestik. Kebijakan tersebut juga terkait dengan kewajiban Devisa Hasil Ekspor (DHE) masuk ke per­bankan domestik.

“Ini bukan karena respons reaktif dari pele­mahan nilai tukar rupiah belaka­ngan ini. Kami kan ada kebija­kan DHE, yang perlu fasilitas atau outlet pendukung di pasar valas,” kata Dody

Eko­nom senior Indef Didik J Rach­bini meminta pemerintah me­waspadai kondisi neraca pem­ba­yaran (transaksi berjalan). Jika kondisi tidak dipantau, maka akan berpengaruh pada nilai tu­kar rupiah terhadap dolar AS.

Menurut Didik, besarnya im­por barang saat ini pasti akan ber­pengaruh terhadap permintaan do­lar AS. “Persoalannya, apakah pasar uang di dalam ne­geri cukup mampu menye­diakan per­sediaan valas seperti dolar AS ters­ebut,” katanya. [Harian Rakyat Merdeka]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA