Ketika sesi pembukaan tranÂsaksi kemarin, indeks sempat turun 38,61 poin (0,99 persen) ke level 3879,265. Pergerakan IHSG terus di jalur merah dan menjauhi level 3.900.
Pada penutupan perÂdaÂgangan sesi I, indeks bahkan anjlok 103,484 poin (2,64 persen) ke level 3.814,432. Sementara InÂdeks LQ45 melemah 17,913 poin (2,7 persen) ke level 646,043.
Pada sesi penutupan, IHSG terÂgerus 85,092 poin (2,17 persen) ke level 3.832,824. BurÂsa-bursa di Asia komÂpak jatuh di zona meÂrah, koreksiÂnya makin sore makin dalam.
“BI tidak terlihat aksinya (meÂnahan rupiah-red) agar pasar saham teÂnang,†kritik KeÂpala Riset MNC Securities Edwin Sebayang di Jakarta, kemarin.
Dia mengatakan, salah satu fakÂtor krusial pemicu aksi jual maÂsif (panic selling) adalah keÂtika Jumat lalu tiba-tiba rupiah melemah terhadap dolarAS. Sayangnya, aksi konkret BI tiÂdak terlihat sehingga membuat inÂvestor paÂnik. Saat ini rupiah diperdagangÂkan pada level Rp 9.605 dan Rp 9.565.
“Kata kuncinya bagaiÂmaÂna mengembalikan dolar ke level Rp 9.200-9.300. Kalau itu terÂjadi, niscaya IHSG kembali positf,†urai Edwin.
Selain pelemahan rupiah, meÂnurut Edwin, kejatuhan indeks juga dipicu tergerusnya bursa reÂgional mengantisipasi perÂsoalan perbankan Spanyol dan naiknya biaya pinjaman. Hal ini tercermin dari naiknya imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Spanyol mendekati 7 persen. “Ini dikhaÂwatirkan merembet ke Italia,†analisis Edwin.
Dalam transaksi valuta asing (valas) kemarin, rupiah berada di posisi Rp 9.575 per dolar AS. AdaÂpun pada pagi ini rupiah berÂada di level Rp 9.550 atau meÂnguat 50,00 poin (0,52 persen) dari perdagangan sebelumnya Rp 9.600. Saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Gudang Garam (GGRM) turun Rp 4.400 ke Rp 54.100, Astra InterÂnasional (ASII) turun Rp 1.700 ke Rp 64.300, Bukit Asam (PTBA) turun Rp 950 ke Rp 15.000 dan Indomobil (IMAS) turun Rp 900 ke Rp 16.050.
Sebelumnya, BI yakin kebijaÂkan instrumen Term Deposit (TD) valas akan membantu pasoÂkan valas ke pasar domestik. KeÂbiÂjakan Bank Sentral ini diyakini akan menormalkan posisi rupiah.
“Rangkaian kebijakan berikutÂnya akan keluar terkait penguatÂan pasar uang dan operasi moÂneter. TD valas itu baru satu dari yang berikutnya,†ujar Direktur EkseÂkutif Perencanaan Strategis dan Hubungan MasyaÂrakat BI Dody Budi Waluyo.
BI tidak menjelaskan apa saja kebijakan yang disiapkan nantiÂnya. BI optimistis kebijakan insÂtruÂmen TD valas akan membanÂtu pasokan valas ke pasar doÂmestik. Kebijakan tersebut juga terkait dengan kewajiban Devisa Hasil Ekspor (DHE) masuk ke perÂbankan domestik.
“Ini bukan karena respons reaktif dari peleÂmahan nilai tukar rupiah belakaÂngan ini. Kami kan ada kebijaÂkan DHE, yang perlu fasilitas atau outlet pendukung di pasar valas,†kata Dody
EkoÂnom senior Indef Didik J RachÂbini meminta pemerintah meÂwaspadai kondisi neraca pemÂbaÂyaran (transaksi berjalan). Jika kondisi tidak dipantau, maka akan berpengaruh pada nilai tuÂkar rupiah terhadap dolar AS.
Menurut Didik, besarnya imÂpor barang saat ini pasti akan berÂpengaruh terhadap permintaan doÂlar AS. “Persoalannya, apakah pasar uang di dalam neÂgeri cukup mampu menyeÂdiakan perÂsediaan valas seperti dolar AS tersÂebut,†katanya. [Harian Rakyat Merdeka]
< SEBELUMNYA
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: