Ekspor Non Migas Turun Terus

Gempuran Barang Impor ke Pasar Lokal Sulit Dicegah

Jumat, 01 Juni 2012, 08:17 WIB
Ekspor Non Migas Turun Terus
ilustrasi/ist
RMOL.Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menilai pasar da­lam negeri menjadi sasaran empuk impor barang di tengah me­lemahnya perekonomian du­nia. Hal itu dikarenakan kinerja ekspor Indonesia yang menurun sementara impor terus me­ningkat.

Peneliti Program ACTIVE Ka­din Indo­nesia Rasidin Sitepu me­ng­ata­kan, perkembangan impor Indo­nesia dilihat dari kuar­tal­nya me­­ningkat menujukkan pelema­han.

“Impor tinggi berbahaya, jadi persoalan besar. Ketika nilai ru­piah melemah ekspor kita harus­nya naik, tapi ternyata tidak, ka­rena bahan baku semua berasal dari impor,” ujarnya saat diskusi tentang Kinerja Ekspor yang Me­nurun dan Impor yang Me­ning­kat di Jakarta, kemarin.

Untuk itu, pihaknya memperi­ngatkan pemerintah untuk segera mengambil tindakan penyela­ma­tan ekonomi nasional akibat ekspor non migas yang terus me­nurun. Kinerja industri pada tri­wulan I tahun 2012 menunjukkan nilai pertumbuhan ekspor ber­langsung stagnan di kisaran 2,74 persen, sementara impor terus menggempur dan melesat hingga 17,93 persen.

Krisis eko­nomi di Eropa dan Amerika Seri­kat yang berdampak pada menu­runnya ekspor pada akhirnya akan berdampak juga ke Indone­sia sebagai negara pema­sok ba­han mentah ke China.

Total impor meningkat sangat tinggi dengan akibat surplus per­dagangan menjadi lebih rendah. Nilai impor Indonesia per triwu­lan I-2012 mencapai 45,84 miliar dolar AS atau naik 18,18 persen di­banding periode yang sama tahun 2011. Peningkatan impor terbesar disumbang oleh impor migas dengan pertumbu­han 23,39 persen dan impor non­ migas tum­buh 16,47 persen pada periode yang sama. Lima negara importir besar ke Indonesia pada tahun 2011, yaitu China (20,71 per­sen), Jepang (15,6 persen), Si­ngapura (8,86 persen), Thai­land (8,79 persen) dan AS (8,78 persen).

Pertumbuhan industri yang rapuh ditunjang oleh tingginya impor bahan baku dan barang modal dari negara-negara terse­but. Impor bahan baku mencapai 75,23 persen dari total impor dan ba­rang modal mencapai 17,18 persen.

“Tidak dikatakan terbesar se­panjang sejarah ekonomi Indo­ne­sia, tapi akumulasi ternyata im­por terus meningkat,” ujar ang­gota Lem­baga Pengkajian, Pene­litian dan Pengembanan Ekono­mi (LP3E) Kadin Indone­sia Ina Primiana.

Menurutnya, selain karena kri­sis global, beberapa faktor penye­bab penurunan ekspor, yaitu pro­duksi dalam negeri tidak punya daya saing. Barang-barang pro­duksi yang semula dihasilkan di Indonesia kini juga sudah diha­sil­kan oleh negara lain. [Harian Rakyat Merdeka]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA