Kepala Riset MNC Securities Edwin Sebayang mengatakan, saat ini harus diakui bahwa sumÂber pelemahan bursa Indonesia adalah imbas dari loyo dan tidak berÂtenaganya nilai tukar rupiah terÂhadap dolar AS.
“Sentimen neÂgatif justru daÂtang dari dalam neÂgeri, di mana jika Bank Indonesia tidak seceÂpatÂnya mengantisipasi ini, maka dolar AS berpotensi meÂnuju level Rp 10.000,†warning Edwin di Jakarta, kemarin.
IHSG ditutup di atas level psiÂkologis 3.900. Indeks saham doÂmestik tersebut telah bergerak di kisaran 3.896,85-3.917,4 seÂjak keÂmarin pagi. Indeks saham doÂmesÂtik utama tersebut anjlok ke zoÂna merah pada awal perÂdaÂgaÂngan dan kembali stabil di poÂsisi awal tetapi kembali tengÂgeÂlam di zona merah menjelang jeÂda siang.
Sementara, nilai tukar rupiah masih terkoreksi dalam dan ke baÂwah level psikologis Rp 9.600 kemarin siang, yaitu sebesar 197 poin atau 2,09 persen ke Rp 9.644 per dolar AS. Kebijakan baru Bank InÂdonesia (BI) meÂnerÂbitkan term deposit valuta asing (valas) dinilÂai belum bisa memÂpengaruhi staÂbilitas nilai tukar rupiah secara cepat. PeÂngaÂruh kebijakan itu diÂperkirakan baru akan terlihat dua sampai tiga bulan ke depan.
“Kebijakan BI tersebut meruÂpaÂkan langkah positif mengÂamanÂÂkan ketersediaan valas di daÂlam negeri, namun tidak serta merta mempengaruhi instabilitas nilai tukar rupiah dengan cepat. BuÂtuh waktu dua atau tiga bulan ke depan,†kata analis valas yang juga Managing Director ManaÂgement Group Farial Anwar.
Selain itu, respons pasar meÂnangÂgapi kebijakan baru BI terÂsebut akan diterima dengan seÂjumÂlah pertimbangan. Di anÂtaraÂnya, selain pertimbangan daya tarik dari instrumen term deposit yang diberikan, juga kekhawatiran inÂtervensi BI terhadap valas atau uang bank domestik yang akan diÂmanfaatkan BI. [Harian Rakyat Merdeka]
< SEBELUMNYA
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: