RMOL. Defisit anggaran 2012 diperÂkirakan akan melebihi dari target Anggaran Pendapatan dan BeÂlanja Negara (APBN) sebesar 3 persen. Hal itu dipengaruhi jeÂbolnya kuota bahan bakar miÂnyak (BBM) subsidi.
Wakil Menteri Keuangan (WaÂmenkeu) Mahendra Siregar meÂngatakan, dalam APBN sudah ditetapkan kuota BBM 40 juta kiloliter dan defisit 3 persen.
Menurut dia, hal tersebut akan menjadi pertimbangan pemeÂrintah dalam memutuskan peÂnamÂbahan volume BBM berÂsubÂsidi. Dengan permintaan penamÂbahan tersebut, dapat berakibat meningkatnya defisit anggaran.
“Permintaan tambahan BBM bersubsidi berimplikasi pada pembiayaan subsidinya dan tentu berimplikasi pada peningkatan defisit,†jelasnya.
Mahendra menegaskan, jika pemerintah dan DPR tidak memÂbatasi volume BBM bersubsidi, akan terjadi over quota yang mungkin sudah melebihi defisit anggaran sebesar 3 persen.
“Akan ada pembatasan tersenÂdiri dari pemenuhan ketetapan Undang-Undang,†katanya.
Menurut Mahendra, pengÂheÂmatan BBM bersubsidi yang diÂlakukan pemerintah sebenarnya untuk menjaga ketahanan fiskal dan kondisi stabilitas ekonomi makro. “Tidak perlu ada perÂminÂtaan tambahan, apalagi diÂgelar APBN Perubahan jilid 2,†ujarnya.
Ketua Badan Pemeriksa KeÂuangan (BPK) Hadi Poernomo mencatat, kenaikan pendapatan negara 2011 masih jauh lebih kecil dibanding belanja negara. Itu meÂnyebabkan defisit angÂgaran naik dua kali lipat diÂbanding 2010.
Hadi mengatakan, realisasi penÂdapatan dalam Laporan ReaÂlisasi Anggaran Tahun 2011 terÂcatat Rp 1.211 triliun, sedangkan reaÂlisasi belanja Rp 1.295 triliun. Defisit anggaran 2011 mencapai Rp 84 triliun atau hampir dua kali lipat terhadap defisit 2010 seÂbesar Rp 47 triliun. [Harian Rakyat Merdeka]
< SEBELUMNYA
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.