Anggota Komisi VII DPR Dito Ganinduto mengatakan, DPR belum menerima proposal permintaan tambahan kuota baÂhan bakar minyak (BBM) berÂsubsidi dari pemerintah. Saat ini, pihaknya baru mendapat perÂminÂÂtaan tambahan kuota BBM subsidi dari KaliÂmanÂtan.
“Permintaan dari empat guÂbernur di Kalimantan kepada DPR belum lama ini, mungkin membuat langkah pemerintah meminta tambahan kuota BBM bersubsidi semakin kuat,†ujarÂnya kepada Rakyat Merdeka di Jakarta, kemarin.
Menurut kader Partai Golkar ini, kewenangan pengajuan peÂnamÂbahan kuota BBM bersubsidi tersebut ada di pemerintah pusat. Mengenai berapa besar jumlah peÂnambahannya serta ke mana saÂja akan didistribusikan.
“Saya dengar minta tambah kuota seÂkitar 2,5 juta kiloliter, naÂmun didistribusikan ke mana saja kan belum jelas. Karena itu perlu ada penjelasan yang detil dari pemerintah,†ungkapnya.
Dito menjelaskan, keputusan menyetujui atau tidak penamÂbaÂhan kuota BBM bersubsidi tidak mudah. Menurutnya, saat ini teÂtap pada keputusan kuota 40 juta kiloliter (KL) BBM bersubsidi seÂperti yang sudah ditetapkan.
“Mengenai memberi tambahan kuota atau tidak harus melalui meÂkanisme, tidak bisa asal meÂnyetujui. Karena menambah kuoÂta berarti menambah subsidi. SubÂsidi kita bisa membengkak, kalau defisit lebih dari 3 persen bisa membahayakan,†tandasnya.
Menurut Direktur MarÂketing dan Trading PertaÂmina Hanung Budya Yuktyanta, kuota premiÂum untuk Bali saja seÂbanyak 510 KL dan solar seÂbesar 926 KL. Hingga April 2012, kuotanya sudah jebol 11 persen. Jika tidak ada penamÂbahan kuota, jatah BBM berÂsubÂsidi untuk Bali haÂbis November.
“Untuk itu, penÂting menguraÂngi beban negara. Caranya, tenÂtu mengÂgunakan pertamax, terÂuÂtama untuk kenÂdaraan meÂwah,†ujarnya saat peresmian Stasiun Pengisian Bahan bakar Khusus (SPBBK) di DenÂpasar, Bali, akhir pekan lalu.
Sedangkan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESÂDM) Jero Wacik segera meÂngajukan tambahan kuota BBM bersubsidi untuk tahun ini kepada DPR, seÂjalan dengan permintaan bebeÂrapa pemerintah daerah.
“Kan kuota (BBM bersubsidi) yang diberikan itu 40 juta kiloÂliter. Saya yakin kurang. Saya teÂtap minta (tambahan) ke DPR, apalagi empat gubernur sudah minta tambahan jatah. Itu kan memÂperkuat saya untuk minta ke DPR,†ujar Wacik.
Anggota Komisi VII DPR dari Golkar Satya W Yudha mengaÂtakan, niat peÂmeÂrintah minta peÂnambahan kuota BBM subsidi meÂlanggar Undang-Undang (UU) APBN 2012. Menurutnya, pemeÂrintah seharusnya bisa menekan besaran angka kuota BBM subÂsidi. Di antaranya dengan memÂbeÂrantas penyeludupan dan peÂnimÂbunan BBM bersubsidi.
Langkah tersebut, menurut SatÂya, penting dilakukan karena diÂduga penyeludupan BBM yang terjadi saat ini sangat besar dan belum bisa diungkap pemerintah.
“DPR, BPH Migas dan PemeÂrintah akan mencari formula unÂtuk menutup titik-titik kebocorÂan sehingga lonjakan kuota BBM bersubsdidi bisa ditekan,†tegas Satya. [Harian Rakyat Merdeka]
< SEBELUMNYA
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: