Pengamat BUMN MuhamÂmad Said Didu menilai, proses penunjukan direksi oleh Dahlan Iskan tidak ada masalah. Karena tidak ada Undang-Undang yang dilanggar.
“Mengenai apakah pengÂganÂtinya lebih baik dari sebelumnya, saya tidak bisa menÂÂjaÂwab hal terÂsebut,†ujarnya Âpada Rakyat MerÂdeka di Jakarta, Jumat (25/5).
Namun, bekas Komisaris UtaÂma PT Merpati Nusantara AirliÂnes ini menilai, tidak semua perÂgantian manajemen pada perusaÂhaan pelat merah tersebut akan jadi solusi. Masalah di MerÂpati misalnya, menurut Said, bukan terletak pada pimpinanÂnya. Ada banyak hal yang perlu dibenahi.
“Saya kira KeÂmenterian BUMN sudah paham dan meÂngerÂti maÂsalah di Merpati. KaÂrena saya suÂdah sering kemuÂkakan,†ujar beÂkas Sekretaris Menteri BUMN itu.
Ia menjelaskan, ada beberapa cara efektif yang bisa dilakukan Kementerian Negara BUMN seÂbagai usaha mengembangkan pe–rusahaan pelat merah. Langkah pertama, selesaikan masalah-maÂsaÂlah yang krusial. Ada tiga pilar yang harus diselesaikan dalam mengelola BUMN.
“Ini program sejak Menteri NeÂgara BUMN Tanri Abeng. Tidak akan menjadi masalah, karena roadmap-nya sudah ada,†jelas Said.
Kedua, selesaikan BUMN meÂrugi. Bisa diakuisisi atau merger dengan BUMN sehat. Hal itu, menurut Said, bisa dikerjakan sekaligus atau dikemas khusus daÂlam program penataan BUMN.
“Ketiga, menjaga BUMN yang sehat agar bisa terus berkembang. Itu pekerjaan di kantor BUMN. Bukan yang lain-lain,†jelasnya.
Said juga mengingatkan MenÂteri BUMN tidak perlu datang ke Bank Mandiri, Telkom atau BUMN yang sudah leading. MeÂnurutnya, hal itu hanya buang-buang waktu saja. Lebih baik foÂkuskan saja untuk membenahi BUMN yang masih sakit-sakit.
Demikian pula dalam menenÂtuÂkan direksi. Kata Said, Menteri BUMN harus bisa meÂnempatkan orang-orang terbaik. Yang diÂmakÂÂsud terbaik, bukan sekadar proÂfesional. Tapi harus bisa meÂlawan segala bentuk interÂvensi.
“Nah, kalau seluruh BUMN yang sehat dipimpin orang yang terbaik, pekerjaan MenÂteri BUMN bisa dikatakan selesai. SelanÂjutnya, beÂnahi BUMN yang belum baik atau yang maÂsih saÂkit,†tandasÂnya.
Sejak dilantik menjadi Menteri BUMN pada Oktober tahun lalu, Dahlan Iskan langÂsung mengÂganti sejumlah direkÂtur dan koÂmisaris di BUMN. PerÂgantian Direktur Utama PT MerÂpati NuÂsantara Airlines (Merpati) dari Sardjono Jhony TjitrokuÂsumo kepada Rudy SetyopurÂnomo miÂsalÂnya. Dahlan menilai, perganÂtian itu adalah langkah yang teÂpat. Sebab, setiap hari Merpati rugi Rp 2 miliar. “Pergantian itu, untuk memperbaiki kinerja Merpati,†ujar Dahlan.
Lalu Dirut PT TelekomuniÂkasi Indonesia Tbk (Telkom) Rinaldi Firmansyah digantikan Arief Yahya. Arief Yahya, Direktur EnÂterprise and WholeÂsale terpilih melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Telkom.
Di baÂwah kepemimÂpiÂnan RiÂnaldi, kiÂnerja Telkom seÂdang baÂgus-baÂgusnya. PendapaÂtan berÂsih peruÂsahaan telekoÂmuniÂkasi pelat meÂrah itu di tahun 2011 mencapai Rp 10,965 triliun.
Dahlan enggan berkomentar banyak soal pergantian tersebut. Dia hanya berharap agar Arief memÂberikan kinerja yang lebih baik lagi untuk Telkom. “Ini supaya lebih baik lagi. Saya seÂrahÂkan orang untuk menilai,†katanya.
Awal Januari lalu, Frans SuÂnito diberhentikan sebaÂgai DiÂrektur Utama PT Jasa Marga Tbk. Pergantian itu diÂanggap wajar. Apalagi, Frans suÂdah dua periode menjabat. PengÂgantinya, AdityaÂwarman, adalah mantan Direktur Operasi Jasa Marga.
Pergantian juga terjadi di PT Bukit Asam Tbk, PT Wijaya Karya Tbk, PT Pertamina (PerÂsero), PT Rajawali Nusantara IndoÂÂnesia (RNI) dan 14 PT PerÂkebunan Nusantara (PTPN).
Tapi, dari deretan pergantian diÂreksi ini, yang sempat bikin kontroversi adalah pengangkatan Ismed Hasan Putro sebagai DiÂrektur Utama RNI dan MegaÂnanda Daryono sebagai Direktur Utama PTPN III dan calon bos Holding PTPN.
Yang terbaru, Dahlan meromÂbak direksi di PT Kimia Farma. Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST), mengÂangkat Rusdi Rosman menjadi Direktur Utama menggantikan Syamsul Arifin. Rosdi Rosman seÂbelumnya menjabat sebagai Direktur Keuangan perusahaan.
Ketua Komisi VI DPR AirlangÂga Hartarto meminta Dahlan lebih konsentrasi pada proÂses pencaÂpaian target pengÂinteÂgrasian ekoÂnomi AEAN EcoÂnomic CommuÂnity (AEC) 2015 ketimÂbang meÂlakukan peromÂbaÂkan diÂreksi di perusahaan milik negara.
Menurutnya, sejumlah peÂromÂbakan manajemen yang dilaÂkukan di Kementerian BUMN berpoÂtensi menghambat kiÂnerja jajaran direksi selain mengÂÂÂganggu tata kelola peruÂsahaan.
“Dngan mengÂganti jajaran diÂreksi belum tentu perÂsoalan menÂjadi selesai. Kinerja BUMN buÂkan hanya diÂtentukan oleh satu atau dua orang pimÂpinan,†tukas Airlangga. [Harian Rakyat Merdeka]
< SEBELUMNYA
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: