“Masalah kelangkaan di daerah kita yakin bisa selesaikan masalah itu akhir Mei (bulan ini),†ujar Kepala BPH Migas Andy Noorsaman Sommeng saat ditanya DPR soal penyelesaian kelangkaan BBM subsidi, Rabu malam (23/5).
Untuk mengantisipasi kelangÂkaan di daerah, kata dia, pemeÂrintah akan segera mengucurkan kuota yang sebelumnya ditahan 2,5 juta kiloliter (KL) untuk progÂram penghematan.
Untuk diketahui, dalam APBN 2012 pemerintah menetapkan kuota BBM sebesar 40 juta KL. Tapi 2,5 juta KL ditahan karena saat itu pemerintah beÂrencana meÂlakukan kebijakan pengÂheÂmatan BBM. Dalam APBN PeÂrubahan (APBNP), DPR dan peÂmeÂrintah sepakat unÂtuk memÂbuka cadangan 2,5 juta KL itu.
Kendati begitu, Andy mengaÂku kuota BBM subsidi yang diÂtetapÂkan tahun ini sebesar 40 juta KL lebih rendah dari realiÂsasi konÂsumsi 2011 sebesar 41,5 juta KL. Padahal, pertumÂbuhan ekoÂnomi terus meningkat.
“Kita usaÂhakan tidak ada keÂlangkaan lagi. Yang 2,5 juta kiÂloliter kita bagikan,†janjinya.
Untuk daerah Kalimantan yang mengalami kelangkaan paling paÂrah, Andy menyatakan, pihakÂnya sudah menambah paÂsokan BBM subsidi 5 persen dari kuoÂtaÂnya taÂhun ini. Namun, peÂnamÂbaÂhan itu hanya untuk preÂmium karena caÂdangan solar tiÂdak ada di cadangÂan 2,5 juta KL itu.
“Kita akan usahakan ada penÂjualan solar non subsidi di sana, dengan memberikan kemuÂdahan badan usaha untuk menjual solar non subsidi,†ujar Andy.
BPH Migas juga memperkiraÂkan kuota premium akan habis pada 24 November 2012. SeÂdangÂkan solar akan habis pada 9 DeÂsember. Sampai akhir tahun, konÂsumsi premium diperkirakan menÂcapai 27,4 juta KL atau berlebih 12,3 persen dibanding kuota APBNP 2012 sebesar 24,4 juta KL.
Untuk solar akan mencapai 15 juta KL atau over 8,3 persen dibanÂding kuota sebesar 13,9 juta KL. Perkiraan tersebut berdasarÂkan realisasi Januari-April 2012 dan kecenderungan realisasi per bulan 2011.
Andy meminta gubernur tidak hanya meminta tambahan kuota, tapi juga melakukan pengawasÂan dan pengaturan.
Anggota Komisi VII DPR Gusti Iskandar Sukma Alamsyah meÂminta pemerintah segera meÂnyeÂlesaikan kelangkaan BBM di daeÂrah, terutama Kalimantan yang kelangkaannya makin parah.
“Tambahan yang 5 persen itu harus segera direalisasikan bulan ini untuk mengurangi antrean. Tapi, tambahan itu masih kurang jika dibanding realisasi konsumÂsi tahun lalu,†kata Gusti.
Namun, kata dia, jika kondisi tersebut dibiarkan akan berÂdamÂpak buruk bagi ekonomi, dikhaÂwatirkan akan menciptakan keÂrusuhan di pom bensin. MenuÂrutÂnya, peningkatan konsumsi dipeÂngaruhi rencana pemerintah meÂnaikkan harga BBM April lalu tapi tak disetujui DPR. Saat itu, banyak orang yang panic buying.
Hasil keputusan rapat Komisi VII DPR dengan BPH Migas, lemÂbaga itu diminta melakukan penyeÂsuaian kuota BBM subsidi sesuai dengan APBNP dan pertimÂbangan khusus yang bisa diperÂtanggung jawabkan untuk meÂmenuhi kebutuhan masyarakat.
Komisi VII DPR juga meÂminÂta BPH Migas dan Pertamina segera mengatasi kelangkaan daÂlam waktu waktu yang sesingÂkat-singÂkatnya dan paling lamÂbat akhir Mei.
Pom Bensin Ogah Disalahin
Ketua Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswana Migas) Eri PurnoÂmohadi meminta pemerintah segera menambah pasokan unÂtuk daerah-daerah yang meÂngaÂlami kelangkaan. Sebab, seÂkaÂrang banyak pihak yang menyaÂlahkan pom bensin. BahÂkan, ada yang bilang ada keÂboÂcoran dari pom bensin.
“Padahal, tugas kami hanya menjual selama dipasok dan SPBU tidak pindah-pindah sehingÂga peÂngawasannya mudah,†katanya.
Eri mengatakan, kelangkaan premium di daerah terjadi karena BPH Migas dalam menentukan kuota daerah tidak sesuai dengan kebutuhan dan pertumbuhan jumÂlah kenÂdaÂraÂannya. Jika pemÂbagian kuotaÂnya disesuaikan dengan perÂtumbuhan jumlah kenÂdaraan, maka kelangÂkaan tiÂdak akan terjadi. [Harian Rakyat Merdeka]
< SEBELUMNYA
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.