Special Rate Deposan Kakap Ganggu Stabilitas Moneter

Darmin: Mereka Kuasai 62 Persen Deposito Perbankan

Jumat, 25 Mei 2012, 09:00 WIB
Special Rate Deposan Kakap Ganggu Stabilitas Moneter
Bank Indonesia (BI)

RMOL. Bank Indonesia (BI) menilai, suku bunga deposito perbankan terbentuk secara tidak efisien karena struktur pasar pendanaan bank yang oligopolistik.

Gubernur BI Darmin Na­su­tion menjelaskan, dengan struk­tur pasar oligopolistik, pemilik dana besar sangat berpe­ngaruh da­lam penentuan suku bunga deposito. Pasalnya, pe­mi­lik dana besar tersebut, termasuk institusi penghimpun dana jangka pan­jang, yang se­harusnya melakukan investasi pa­da instru­men jangka panjang seperti pasar obligasi.

“Ini terbukti dari survei yang dilakukan BI Maret lalu,” kata Darmin saat menyampaikan sam­butan dalam acara bedah buku Integrasi Ekonomi ASEAN di Jakarta, Rabu malam (23/5).

 Dari hasil survei terhadap 71 bank, jumlah nasabah dengan deposito di atas Rp 2 miliar me­mang hanya 3 persen. Namun, se­cara nominal, nasabah yang jum­lahnya hanya 3 persen ini me­­nguasai 62 persen dari total no­minal deposito perbankan. Se­mentara sekitar 36 persen dari total nasabah di 71 bank itu men­dapat imbal hasil di atas suku bu­nga penjaminan atau special rate.

“Ini sudah men­jadi fenomena laten karena 67 bank atau 97 persen mem­berikan special rate, yang berlangsung sudah cukup lama. Bahkan, 33 bank atau 47 persen memberikan special rate 200 basis poin (bps) di atas BI rata,” terang Darmin.

Struktur suku bunga deposito yang terbentuk pun tampak tidak rasional, sehingga konsep tipe value of money tidak berlaku, ka­rena tidak terdapat perbedaan yang berarti antara tingkat suku bunga satu bulan dibandingkan dengan 12 bulan.

”Implikasinya, struktur dana pihak ketiga per­bankan terkon­sen­­trasi 77 persen pada deposito satu bulan dan me­nyebabkan penyalur­an dana per­bankan juga terkon­sentrasi ke pem­biayaan jangka pen­dek,” ujarnya.

Lembaga perbankan baik yang besar maupun kecil terus ber­usaha menurunkan bunga de­po­sito agar biaya dana mereka me­ngecil. Namun, secara kese­lu­ruhan, bunga deposito masih di atas bunga wajar Lembaga Pen­jamin Simpanan (LPS rate). Bank belum bisa memangkas bunga hingga setara LPS rate untuk mem­pertahankan nasabah.

Pengamat perbankan dari Uni­versitas Gadjah Mada (UGM) Paul Sutaryono berpendapat, dam­pak negatif dari bunga de­po­sito yang tidak efisien ialah bakal terjadinya likuiditas perbankan yang cukup tinggi. “Likuiditas kemungkinan besar bakal terjadi jika suku bunga deposito tidak efisien. Bahkan inflasi pun bisa berpengaruh terhadap suku bunga deposito ini,” katanya kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

 Paul berharap, pemerintah dan BI membentuk suatu komite pe­nga­wasan yang bertugas meng­awasi suku bunga deposito per­bankan. Sebab, saat ini banyak fe­nomena lembaga per­bankan mem­berikan special rate buat de­posan kelas ka­kap. “Hal-hal seperti ini­lah yang bisa mengganggu sta­bilitas moner nasional,” ujarnya.

Secara umum, kata dia, suku bunga yang tidak efisien juga bakal mempengaruhi tingkat aktivitas ekonomi dalam hal ini ialah sa­ham. Dia khawatir, jika suku bu­nga de­posito tidak efisien, akan meram­bah kepada indeks saham per­ban­kan. “Suku bunga tidak di­ra­gukan lagi mempe­nga­ruhi harga saham karena penga­ruhnya terh­a­dap biaya dan mo­dal,” tandasnya.

Bagi investor, kata dia, bunga deposito menguntungkan ka­rena suku bunganya yang relatif lebih tinggi dibandingkan ben­tuk sim­panan lain. Selain itu, bunga de­posito tanpa resiko (risk free). “Sebaiknya suku bu­nga ini ter­ben­tuk secara efisien supaya ti­dak menimbulkan struk­tur pasar pendanaan bank yang oligopoli apalagi sampai mo­nopoli,” ucapnya.

Wakil Direktur Utama Bank Tabungan Negara (BTN) Evi Firmansyah mengakui, pihaknya memberikan bunga deposito sebesar 5,50 persen. Menurut dia, di kalangan bankir ada semacam kesepakatan tidak tertulis bahwa bunga deposito tertinggi adalah BI rate plus 50 bps. “Untuk na­sabah besar kami memberikan bu­nga sebesar 5,75 persen, ka­rena bank lain juga melakukan hal yang sama,” katanya kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Direktur Bank Saudara Denny Novisar Mahmuradi mengklaim, pihaknya sudah menurunkan bunga deposito sejak awal 2012. Dari sekitar 6,5-7 persen menjadi 5,5 persen. “Tiga bulan ini, bunga deposito kami stabil di kisaran 5,5 persen. Kami tak akan turun lagi,” tegasnya kepada Rakyat Merdeka, kemarin.  [Harian Rakyat Merdeka]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA