RMOL. Bank Indonesia (BI) menilai, suku bunga deposito perbankan terbentuk secara tidak efisien karena struktur pasar pendanaan bank yang oligopolistik.
Gubernur BI Darmin NaÂsuÂtion menjelaskan, dengan strukÂtur pasar oligopolistik, pemilik dana besar sangat berpeÂngaruh daÂlam penentuan suku bunga deposito. Pasalnya, peÂmiÂlik dana besar tersebut, termasuk institusi penghimpun dana jangka panÂjang, yang seÂharusnya melakukan investasi paÂda instruÂmen jangka panjang seperti pasar obligasi.
“Ini terbukti dari survei yang dilakukan BI Maret lalu,†kata Darmin saat menyampaikan samÂbutan dalam acara bedah buku Integrasi Ekonomi ASEAN di Jakarta, Rabu malam (23/5).
Dari hasil survei terhadap 71 bank, jumlah nasabah dengan deposito di atas Rp 2 miliar meÂmang hanya 3 persen. Namun, seÂcara nominal, nasabah yang jumÂlahnya hanya 3 persen ini meÂÂnguasai 62 persen dari total noÂminal deposito perbankan. SeÂmentara sekitar 36 persen dari total nasabah di 71 bank itu menÂdapat imbal hasil di atas suku buÂnga penjaminan atau special rate.
“Ini sudah menÂjadi fenomena laten karena 67 bank atau 97 persen memÂberikan special rate, yang berlangsung sudah cukup lama. Bahkan, 33 bank atau 47 persen memberikan special rate 200 basis poin (bps) di atas BI rata,†terang Darmin.
Struktur suku bunga deposito yang terbentuk pun tampak tidak rasional, sehingga konsep tipe value of money tidak berlaku, kaÂrena tidak terdapat perbedaan yang berarti antara tingkat suku bunga satu bulan dibandingkan dengan 12 bulan.
â€Implikasinya, struktur dana pihak ketiga perÂbankan terkonÂsenÂÂtrasi 77 persen pada deposito satu bulan dan meÂnyebabkan penyalurÂan dana perÂbankan juga terkonÂsentrasi ke pemÂbiayaan jangka penÂdek,†ujarnya.
Lembaga perbankan baik yang besar maupun kecil terus berÂusaha menurunkan bunga deÂpoÂsito agar biaya dana mereka meÂngecil. Namun, secara keseÂluÂruhan, bunga deposito masih di atas bunga wajar Lembaga PenÂjamin Simpanan (LPS rate). Bank belum bisa memangkas bunga hingga setara LPS rate untuk memÂpertahankan nasabah.
Pengamat perbankan dari UniÂversitas Gadjah Mada (UGM) Paul Sutaryono berpendapat, damÂpak negatif dari bunga deÂpoÂsito yang tidak efisien ialah bakal terjadinya likuiditas perbankan yang cukup tinggi. “Likuiditas kemungkinan besar bakal terjadi jika suku bunga deposito tidak efisien. Bahkan inflasi pun bisa berpengaruh terhadap suku bunga deposito ini,†katanya kepada Rakyat Merdeka, kemarin.
Paul berharap, pemerintah dan BI membentuk suatu komite peÂngaÂwasan yang bertugas mengÂawasi suku bunga deposito perÂbankan. Sebab, saat ini banyak feÂnomena lembaga perÂbankan memÂberikan special rate buat deÂposan kelas kaÂkap. “Hal-hal seperti iniÂlah yang bisa mengganggu staÂbilitas moner nasional,†ujarnya.
Secara umum, kata dia, suku bunga yang tidak efisien juga bakal mempengaruhi tingkat aktivitas ekonomi dalam hal ini ialah saÂham. Dia khawatir, jika suku buÂnga deÂposito tidak efisien, akan meramÂbah kepada indeks saham perÂbanÂkan. “Suku bunga tidak diÂraÂgukan lagi mempeÂngaÂruhi harga saham karena pengaÂruhnya terhÂaÂdap biaya dan moÂdal,†tandasnya.
Bagi investor, kata dia, bunga deposito menguntungkan kaÂrena suku bunganya yang relatif lebih tinggi dibandingkan benÂtuk simÂpanan lain. Selain itu, bunga deÂposito tanpa resiko (risk free). “Sebaiknya suku buÂnga ini terÂbenÂtuk secara efisien supaya tiÂdak menimbulkan strukÂtur pasar pendanaan bank yang oligopoli apalagi sampai moÂnopoli,†ucapnya.
Wakil Direktur Utama Bank Tabungan Negara (BTN) Evi Firmansyah mengakui, pihaknya memberikan bunga deposito sebesar 5,50 persen. Menurut dia, di kalangan bankir ada semacam kesepakatan tidak tertulis bahwa bunga deposito tertinggi adalah BI rate plus 50 bps. “Untuk naÂsabah besar kami memberikan buÂnga sebesar 5,75 persen, kaÂrena bank lain juga melakukan hal yang sama,†katanya kepada Rakyat Merdeka, kemarin.
Direktur Bank Saudara Denny Novisar Mahmuradi mengklaim, pihaknya sudah menurunkan bunga deposito sejak awal 2012. Dari sekitar 6,5-7 persen menjadi 5,5 persen. “Tiga bulan ini, bunga deposito kami stabil di kisaran 5,5 persen. Kami tak akan turun lagi,†tegasnya kepada Rakyat Merdeka, kemarin. [Harian Rakyat Merdeka]
< SEBELUMNYA
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: