“PLN jangan lagi mengulang keÂsalahan dengan memilih TPPI yang tidak layak. Dulu, kami suÂdah ingatkan soal ini,†warning anggota Komisi VII DPR dari Fraksi Partai Golkar Bobby A Rizaldi di Gedung Parlemen Jakarta, kemarin.
Hal itu dikatakan menanggapi rencana PLN meÂlakÂsanakan tenÂder pengadaan solar sebesar 250.000 kiloliter per taÂhun untuk kebutuhan Pembangkit Listrik Tenaga Uap dan Gas (PLTGU) BeÂlawan, MeÂdan. Bobby meÂngaÂtakan, PLN harus meÂlihat keÂnyaÂtaan selama ini bahÂwa kreÂdibilitas peÂmasok saÂngat meÂnenÂtukan keterÂsediaan bahan bakar untuk pemÂbangkit listrik.
Dalam hal ini, kredibilitas PerÂtamina sebagai pemasok baÂhan bakar bagi PLN sudah teruji dan karenanya dapat diandalkan.
Menurut Bobby, selain BUMN, Pertamina adalah perusahaan deÂngan reputasi tinggi menÂdisÂtriÂbusikan BBM ke seluruh InÂdoÂnesia. “Dengan demikian, sudah selayaknya PLN memÂpriÂoritasÂkan Pertamina memasok solar ke Belawan,â€cetusnya.
Hal senada dikatakan AngÂgota Komisi VII DPR dari Fraksi PKB Agus Sulistiyono yang meÂnilai, PLN mestinya mengÂutaÂmakan Pertamina sebagai seÂsaÂma perusahaan negara. Di samÂping itu, lanjutnya, PerÂtamina lah yang selama ini menjadi back up jika terjadi kegagalan pasok BBM ke suatu pembangkit PLN.
“Jadi, bukan malah memÂpriÂoÂritaskan perusahaan swasta. ApaÂlagi perusahaan asing yang keÂmungkinan besar akan meÂmaÂsok ke Belawan,†katanya.
Agus mengatakan, PLN bisa meÂmakai harga solar TPPI untuk Belawan kepada Pertamina, seÂhingga tetap sesuai dengan upaÂya efisiensi.
PLN melaksanakan tender peÂngadaan BBM jenis high speed diesel (HSD) atau solar untuk PLTGU Belawan sebanyak 250.000 kiloliter per tahun.
Kontrak berjangka waktu tiga tahun yakni 2012-2014, sehingga total pasokan sebanyak 750.000 kiloliter.
Dengan harga solar sebesar Rp 8.500 per liter, maka nilai kontrak diperkirakan mencapai Rp 5,4 triliun. Tender tersebut diÂlakukan menyusul kegagalan TPPI meÂmaÂsok kebutuhan solar Belawan.
Sebelumnya, peruÂsahaan gaÂgal memasok karena tidak berÂopeÂrasinya kilangnya di Tuban, Jatim menyusul kesulitan keÂuangan. Per 4 Mei 2012, PLN sudah meÂÂmuÂÂtus kontrak paÂsokÂan 300.000 kiÂloliter HSD per tahun dari TPPI ke PLTGU Belawan, Medan.
Sebagai gantinya, PLN semenÂtara ini mengalihkan stok Shell yang murah, sebesar 300.000 kiÂloliter ke Belawan. Atas kegaÂgalÂan paÂsokan tersebut, PLN telah menÂcairkan uang jaminan TPPI senilai Rp 50 miliar.
Kepala Divisi BBM dan Gas PLN Suryadi Mardjoeki menÂjelaskan, pihaknya sudah meÂmutus kontrak pasokan solar sebanyak 300.000 kiloliter per taÂhun hingga 2014 yang dilaÂkukan TPPI ke PLTGU Belawan.
“Mereka (TPPI) sudah meÂnyaÂtakan tidak sanggup memasok ke Belawan, karena kilangnya tidak beroperasi,†kata Suryadi.
Sebagai gantinya, PLN meÂngaÂlihÂkan pasokan solar PLTGU Belawan yang TPPI ke Shell.
Terkait hal tersebut, PLN meÂngenakan sanksi denda kepada TPPI. Besaran denda sudah terÂcantum dalam kontrak, yakni seÂlisih harga beli solar yang leÂbih mahal. Namun, Suryadi meÂnamÂbahkan, TPPI tetap meÂmasok solar ke PLTGU Tambak Lorok, Semarang.
Menurut Suryadi, kegagalan TPPI memasok BBM jenis solar kepada PLN karena terhentinya operasi kilang TPPI. Seperti diÂketahui, kilang TPPI berhenti berÂoperasi karena restrukturisasi utang TPPI dengan Pertamina belum selesai. TPPI memiliki utang pengiriman produk dan delayed payment note kepada Pertamina sebesar 546,2 juta doÂlar AS. [Harian Rakyat Merdeka]
< SEBELUMNYA
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: