Berita

Peluncuran poster film "Rencana Besar untuk Mati dengan Tenang" di Roemah Umara, Bintaro, Jakarta Selatan. (Foto: Istimewa)

Entertainment

Film Rencana Besar untuk Mati dengan Tenang Tayang Jelang Imlek

SABTU, 07 NOVEMBER 2026 | 15:18 WIB | LAPORAN: WIDODO BOGIARTO

Film Rencana Besar untuk Mati dengan Tenang resmi merilis poster bioskop sekaligus mengumumkan jadwal penayangannya di seluruh Indonesia pada 28 Januari 2027. Film drama keluarga yang dibintangi Ferry Salim tersebut dijadwalkan hadir menjelang perayaan Imlek 2027.

Peluncuran poster berlangsung dalam Konferensi Pers di Roemah Umara, Bintaro, Jakarta Selatan. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi awal rangkaian promosi film produksi Matta Cinema Production bersama Ruang Basbeth Bercerita.

"Kami yakini bahwa ini adalah salah satu bentuk dari keinginan kami untuk membuat film-film yang berkualitas, yang bagus secara sinematografi, ceritanya menarik, gambar-gambarnya juga menarik, tetapi juga sekaligus bisa komersial, bisa diterima oleh penonton di Indonesia," kata produser Nugroho Dewanto, dikutip Sabtu 7 Oktober 2026.


Selain merilis poster, Nugroho menyampaikan bahwa pihak produksi telah menyiapkan sejumlah kegiatan promosi untuk menjangkau penonton di berbagai daerah. Film ini juga terpilih sebagai Official Selection Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) dan dijadwalkan kembali ke Yogyakarta pada 30 November 2026, kota tempat film tersebut diproduksi.

Sutradara Ismail Basbeth mengungkap bahwa film ini berangkat dari keinginannya menyuarakan pengalaman komunitas Tionghoa-Indonesia yang kerap menjadi objek pertentangan dalam politik identitas dan wacana publik. Namun, Ismail memilih untuk tidak menjadikan politik identitas sebagai fokus utama, melainkan mengangkat hak paling mendasar setiap manusia, yaitu hak untuk hidup tanpa diskriminasi.

"Bagi saya, pembuatan film ini menjadi sebuah tanggung jawab untuk menyuarakan komunitas Tionghoa-Indonesia, yang kulit, tubuh, budaya, dan suaranya begitu sering menjadi objek pertentangan dalam politik identitas dan wacana publik," kata Ismail.

Gagasan tersebut diwujudkan melalui karakter Encek yang diperankan Ferry Salim. Encek merupakan seorang duda keturunan Tionghoa-Indonesia berusia 76 tahun yang merasa kesepian dan kehilangan arah setelah istrinya meninggal dunia 16 tahun lalu.

Dalam cerita, Encek memutuskan menyiapkan makan malam terakhir bersama anak-anaknya. Saat mempersiapkan pertemuan tersebut, ingatannya kembali pada masa muda dan pertemuan pertamanya dengan sang istri, sebelum kenangan itu membawanya pada trauma kerusuhan Mei 1998.

Ingatan tersebut kemudian membuka kembali pengalaman pahit masa kecil Encek di sebuah panti asuhan Islam. Ia pernah mengalami diskriminasi dan kekerasan di tempat itu sebelum melarikan diri pada usia 15 tahun dan bertahan hidup sebagai kuli angkut di pasar tradisional.

Menjelang akhir hidupnya, Encek memutuskan kembali mengunjungi panti asuhan tempat ia dibesarkan sebagai upaya untuk berdamai dengan masa lalu. Perjalanan tersebut menjadi bagian dari kisah seorang pria yang berusaha menghentikan trauma agar tidak terus diwariskan kepada generasi berikutnya.

Ferry Salim melihat Encek bukan sekadar sosok lelaki tua yang mudah marah atau bersikap egois. Menurutnya, karakter tersebut merupakan seseorang yang telah lama memikul beban kehidupan dan dibentuk oleh berbagai luka yang dialaminya.

"Tokoh Encek ini bukan tokoh seorang laki-laki tua yang selalu marah-marah, egois, tidak peduli dengan lingkungan sekitarnya. Bukan, tapi bagi saya dia adalah seorang laki-laki yang sudah cukup lama dan berat memikul beban hidupnya di dunia ini," kata Ferry.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

UPDATE

Fokusmaker Sentil Azis Narang: Jangan Jual SOKSI untuk Kepentingan Politik Pribadi

Sabtu, 07 November 2026 | 18:26

Airlangga Akui Kasus Penyadapan pada Presiden Ganggu Sentimen Investor

Sabtu, 07 November 2026 | 18:17

Bantah Terlibat Penyadapan Ilegal, Bahlil: Ini Ulah Abuleke

Sabtu, 07 November 2026 | 17:48

ARBI Bakal Gelar Aksi Akbar di Al-Azhar, Ini Lima Tuntutannya

Sabtu, 07 November 2026 | 17:40

HUT ke-73 KPU Dirayakan Sederhana, Refleksi Integritas Bareng Para Mantan

Sabtu, 07 November 2026 | 16:45

Ketum Peradi Profesional: Advokat Bukan Pelengkap Peradilan

Sabtu, 07 November 2026 | 16:08

Menimbang Perpres 107/2026 dan Dampaknya pada Kelancaran Pengadaan Energi

Sabtu, 07 November 2026 | 15:48

Tekanan Jual Mereda, Harga Bitcoin Menguat ke 75.928 Dolar AS

Sabtu, 07 November 2026 | 15:40

Film Rencana Besar untuk Mati dengan Tenang Tayang Jelang Imlek

Sabtu, 07 November 2026 | 15:18

Pangdam XXII/Tambun Bungai Pimpin Pemulangan Jenazah Sertu Anumerta Heri Prasetyo ke Kediri

Sabtu, 07 November 2026 | 15:14

Selengkapnya