Berita

Ketua Umum Gerakan Muda (Gema) Nasional Eko Saputra. (Foto: Istimewa)

Hukum

KPK Diminta Tidak Tebang Pilih Usut Kasus Korupsi Kementerian ATR/BPN

SENIN, 28 SEPTEMBER 2026 | 23:48 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk mengusut secara menyeluruh seluruh pihak yang memiliki keterkaitan dengan perkara dugaan korupsi pengurusan Hak Guna Bangunan (HGB) dan pemecahan lahan milik PT Summarecon Agung Tbk  di lingkungan Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN)  

Hal itu disampaikan Ketua Umum Gerakan Muda (Gema) Nasional Eko Saputra yang meminta KPK tidak hanya berhenti pada pihak-pihak yang telah diamankan dan ditetapkan dalam perkara, tetapi juga menelusuri setiap komunikasi, transaksi, hubungan, serta informasi yang berpotensi memiliki kaitan dengan konstruksi perkara.

“Kami meminta KPK menelusuri secara serius apakah ada keterkaitan Ranny Fahd dengan perkara OTT Bogor. Kalau memang ada informasi, komunikasi, transaksi, atau fakta lain yang relevan, semuanya harus diklarifikasi melalui proses hukum,” tegas Eko dalam keterangan yang diterima redaksi di Jakarta, Senin, 28 September 2026.


Ranny merupakan istri Fahd El Fouz alias Fahd A Rafiq yang sudah ditetapkan tersangka KPK. Legislator Golkar dari Dapil Kota Depok dan Bekasi ini diduga ikut terjaring dalam OTT KPK.  

Menurut Gema Nasional, proses penegakan hukum harus dilakukan berdasarkan alat bukti dan tidak boleh dibangun berdasarkan spekulasi. Karena itu, apabila terdapat indikasi yang mengarah kepada pihak tertentu, KPK harus melakukan pendalaman secara profesional dan transparan.

“Kami tidak sedang memvonis siapa pun. Kami hanya meminta KPK membuka dan menguji semua fakta yang berkaitan dengan perkara ini. Jika tidak ada keterlibatan, tentu harus diberikan kepastian hukum. Tetapi apabila penyidik menemukan bukti yang memenuhi unsur tindak pidana, maka siapa pun harus diproses sesuai hukum,” ujar Eko.

Ia juga meminta KPK menelusuri kemungkinan adanya aliran dana, komunikasi antar-pihak, pertemuan, serta hubungan bisnis maupun nonbisnis yang relevan dengan perkara tersebut.

“Tidak boleh ada tebang pilih. Semua harus terang berdasarkan bukti. Publik berhak mendapatkan penjelasan yang transparan mengenai siapa saja yang memiliki keterkaitan dalam perkara OTT Bogor,” jelasnya.

Eko menegaskan bahwa pihaknya mendukung proses pemberantasan korupsi yang dilakukan secara profesional, independen, transparan, dan berlandaskan hukum.

“Kami mendukung KPK membongkar perkara ini sampai tuntas. Jangan ada yang dilindungi, tetapi jangan pula ada orang yang dikorbankan tanpa bukti,” pungkas dia.

Perkara ini bermula dari OTT KPK pada Senin 14 September 2026 yang mengamankan 19 orang di wilayah Jabodetabek. Dari operasi tersebut, KPK menyita barang bukti elektronik dan uang tunai sekitar Rp106,3 miliar.

KPK kemudian menetapkan delapan tersangka, termasuk Dirjen PPTR Kementerian ATR/BPN Lampri, Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Bogor I Sontang Coin Manurung, Direktur Utama PT Summarecon Agung Tbk Adrianto Pitojo Adi, serta sejumlah pihak swasta.

Dalam konstruksi perkara, dugaan suap berkaitan dengan pengurusan pembukaan blokir dan pemecahan HGB atas tanah yang dikelola Summarecon di Kabupaten Bogor. KPK menduga terdapat permintaan fee Rp2 miliar yang kemudian disepakati sebesar Rp1,5 miliar. Dari jumlah tersebut, Rp200 juta diduga diserahkan kepada Sontang untuk pengurusan pembukaan blokir dan pemecahan HGB.

Selain perkara Summarecon, KPK juga mendalami dugaan penerimaan lain yang berkaitan dengan pengurusan pertanahan serta mutasi dan promosi jabatan. Penyidik masih menelusuri asal-usul, peruntukan, dan aliran sejumlah uang yang ditemukan dalam rangkaian penyidikan perkara tersebut.


Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

UPDATE

Menteri P2MI Didesak Terbitkan Aturan Transisi SIUKAK-SIP3MI

Selasa, 29 September 2026 | 03:59

Ombudsman Diminta Tindaklanjuti Secara Terbuka Temuan di Lapas Cibinong

Selasa, 29 September 2026 | 03:43

KPK Diminta Periksa Petinggi Summarecon Terkait Aliran Uang ke Pejabat

Selasa, 29 September 2026 | 03:23

28.620 Manajer KDKMP Terima SK, Penempatan Diserahkan ke Agrinas

Selasa, 29 September 2026 | 02:55

Dunia Butuh Penguatan Multilateralisme di Tengah Geopolitik yang Tak Pasti

Selasa, 29 September 2026 | 02:25

PHE Ajak Mahasiswa Kenali Industri Hulu Migas Lewat Upstream Youth Champs 2026

Selasa, 29 September 2026 | 01:56

Polisi Pastikan Bupati Gowa Sitti Husniah Dicekal ke Luar Negeri

Selasa, 29 September 2026 | 01:26

Menhan Sjafrie Serahkan 12 Ranpur Amfibi AAV M-35 Buatan AS ke Marinir

Selasa, 29 September 2026 | 00:47

BEI Buka Short Selling Mulai 1 Oktober, Begini Cara Kerja dan Risikonya

Selasa, 29 September 2026 | 00:20

KPK Diminta Tidak Tebang Pilih Usut Kasus Korupsi Kementerian ATR/BPN

Senin, 28 September 2026 | 23:48

Selengkapnya