YAMAN, adalah sebuah 'kolase' bak karya seni rupa! Di atasnya ada unsur: kertas, kain, kayu, kaca, dan bijian. Hingga terbentuk komposisi seni baru. Yaman, satu karya seni!
Men-tamsil-kan unsur 'kolase' sebagai: Arab Saudi, AS, Iran, UAE, Pemerintah Yaman (dukungan Arab Saudi), Houthi (dukungan Iran), Separatis Selatan (dukungan UAE). Yaman merupakan satu peta geopolitik strategis.
Kemenangan demi kemenangan yang dicapai proxy Iran, Houthi dalam seminggu terakhir, mengejutkan. Pulau demi pulau dekat garis pantai Laut Merah, telah diduduki. Arab Saudi mengalami kecemasan teramat sangat.
Menguasai ribuan kilometer sepanjang pantai Laut Merah, secara harfiah,
proxy Iran ini hampir sepenuhnya menguasai Selat Bab el-Mandab. Koridor utama pengiriman
crude oil-LNG, dan perdagangan global antara Asia-Timteng-Eropa.
Selat yang dibagi dua jalur oleh Pulau Perim ini, memiliki panjang 130 km, dan lebar berinterval 26-32 kilometer. Sangat merisaukan Arab Saudi, AS, dan sekutu Teluk-nya. Arab Saudi "berteriak", namun AS tak lagi berani masuk ke 'arena' palagan.
Tak kurang dari 12 persen perdagangan global melewati jalur air ini. Sehingga, penguasaan Pulau Perim oleh Houthi, praktis telah mengepung seluruh lalu lintas menuju Terusan Suez, hingga Laut Mediterania dan Eropa.
AS seharusnya sudah menyerang Houthi, seperti yang pernah dilakukannya, ketika Houthi menyerang Israel dalam membela Gaza (2023-2025). Saat itu Houthi menggunakan rudal, hingga ke kota-kota Israel.
Ketika sejumlah kapal membawa kepentingan AS-Israel terganggu di Selat Bab el-Mandeb, dengan garang AS mengebom Houthi di pelabuhan Hodeidah. Parsial bernegosiasi dengan Houthi, dan sintesisnya: AS tak menyerang Houthi, dan Houthi akomodatif ke kapal AS. AS tak berselera lagi serang Houthi?
Seharusnya AS tidak ragu, bila mengikuti pola
patron-client terhadap Arab Saudi. Penutupan Selat Hormuz oleh Iran, rusaknya pipa 'East-West' dari bom
proxy Iran di Irak, dan kini Selat Bab el-Mandeb nyaris dalam penguasaan penuh Houthi. Kemana lagi distribusi minyak Arab Saudi harus dialirkan?
Kerusakan pipa sepanjang 745 dari tepi Selat Hormuz ke
storage Pelabuhan Yanbu (Tepi Laut Merah), bila dihitung perbaikan selama satu bulan ke depan. Dapat mereduksi pasokan minyak global sebanyak 120 juta barel. Itu pun belum jaminan tak diserang lagi.
Sementara, Houthi yang menguasai Bab el-Mandeb, men-
declared, kapal Arab Saudi akan dihalangi melewati selat strategis ini. Bagi Saudi, setelah Selat Hormuz ditutup, Selat Bab el-Mandeb dalam penguasaan Houthi, pipa East-West rusak, pilihannya tinggal ke jalur Utara (Tanjung Harapan).
Mengangkut minyak lewat jalur Utara, jauh lebih lambat dan lebih mahal untuk menuju Pasar Asia. Sayangnya, ini pun tidak menjamin keamanan ekspor minyak Arab Saudi dari serangan Houthi.
Pilihan Arab Saudi, bila memang AS tak berani 'masuk', mundur teratur dari membela pemerintahan sah di Yaman Selatan. Resikonya, Houthi dipastikan akan mengalahkan pemerintahan sah (Yaman Selatan), dan Houthi di Utara bakal menguasai seluruh Yaman.
Pilihannya tinggal satu, Uni Arab Emirat (UAE) kembali masuk mengisi kekosongan Arab Saudi, namun motifnya tidak lagi sama. Gerakan kemerdekaan dengan nama Dewan Transisi Selatan (STC) yang secara: finansial, politik, dan militer didukung UAE, ingin membentuk negara baru, bernama Arab Selatan, di Yaman Selatan.
UAE memiliki motif strategis memerdekakan Yaman Selatan, yang berbeda dengan motif Arab Saudi untuk unifikasi Utara-Selatan. UAE ingin mengamankan pelabuhan-pelabuhan krusial di sepanjang Teluk Aden, Laut Merah, Pulau Socotra-Perim.
Kebingungan Arab Saudi, bukan tanpa alasan. Dengan produksi historis 9-11 juta barel per hari, dan dari catatan
trading economic saat ini, berdasar dinamika geopolitik mencapai 6,2 juta
barrel per day (bpd). Ekspor minyak Arab Saudi mengalami kebuntuan distribusi.
Perang AS-Iran, memaksa Arab Saudi bergantung penuh pada pengiriman '
crude oil di jalur alternatif ke pelabuhan Yanbu (Laut Merah). Sayangnya, langkah Arab Saudi membom bandara Sana'a (wilayah Houthi) di Yaman Utara, memberi spirit pada
proxy Iran ini menaikkan eskalasi lebih agresif.
Bila Arab Saudi ingin menyalahkan, mengapa Houthi bertambah kuat, dan bertambah semangat hingga dapat menguasai areal strategis Laut Merah, tentu Trump yang harus dipersalahkan.
Serangan 28 Februari AS-Israel yang menewaskan pemimpin Iran Ayatollah Ali Khamenei, menjadikan kepentingan Houthi semakin selaras dengan perjuangannya membela Hamas di Jalur Gaza. Terlepas Houthi memang proxi-nya Iran.
Luka Iran, bercampur luka 70.000 lebih korban rakyat Palestina di Gaza, berkelindan dengan 'utopia' Houthi untuk membebaskan Masjidil Aqsa di Yerusalem Timur dari tangan Israel. Jerusalem Timur (Tepi Barat) merupakan wilayah Palestina yang direbut Israel dalam Perang 1967.
Kecerdikan Houthi, kemajuan di medan tempur serta kemampuannya merebut sejumlah wilayah strategis di sekitar Laut Merah, tak membuat AS responsif. Trump telah menolak permintaan bantuan Arab Saudi melawan Houthi. Sementara Houthi juga men-
declared hanya menyasar Arab Saudi (Tidak AS).
Membayangkan Arab Saudi yang belum menandatangani Abraham Accord, sementara UAE telah menandatanganinya tahun 2020, bisa saja AS ingin memberi "trade-off gambit" pada Arab Saudi. Ikut Abraham Accord, atau Trump lebih memilih mendorong UAE untuk membela separatis kemerdekaan Yaman Selatan.
Kemajuan yang dicapai Houthi tidaklah main-main, dan mencengangkan. Di saat proxi Iran di Lebanon (Hizbullah) tengah mengalami kemunduran, dan
proxy Gaza (Hamas) banyak kehilangan pemimpinnya, Houthi di Yaman justru melengkapi rencana Iran mencekik distribusi 'crude oil' di tiga zona: Selat Hormuz, Selat Bab el-Mandeb, dan Pipa East-West (dari Selat Hormuz ke Yanbu).
Negosiasi PenuhHouthi jelas sangat mengejutkan. Kemajuan yang mereka capai di samping jalur minyak, juga menyasar ke Pangkalan AS di Djibouti. Gerak maju pasukan Houthi, mengitari Laut Merah, Selat Bab el-Mandeb dan terus menuju sisi Tanduk Afrika (Afrika Timur).
Djibouti merupakan negara, di mana terdapat Pangkalan Militer AS, China, dan Jepang. Berbatasan antara Teluk Aden (Yaman) dan Laut Merah, akan membuat keamanan kawasan menjadi rawan.
Penolakan AS masuk arena konflik Arab Saudi-Houthi, tak lepas dari pertimbangan Trump yang diperkirakan terkait pula dengan posisinya di Djibouti.
Mau, tidak mau, Arab Saudi kini dihadapkan pada pilihan: bernegosiasi dengan Houthi yang makin berani mengajukan tuntutan maksimalis sebagai harga perdamaian. Atau lanjut berperang dengan skala penuh (
The Guardian, 17 September 2026).
Hentikan blokade terhadap Bandara Sana'a, hentikan operasi militer yang mendukung pemerintahan sah Yaman, dan jangan gunakan Pangkalan militer AS di Arab Saudi untuk menyerang Houthi. Prasyarat Houthi ini berat, namun Arab Saudi tak punya pilihan untuk keluar dari kecamuk Yaman.
Betul, Arab Saudi masih punya pilihan melanjutkan perang dengan Houthi, menggunakan Pakta Pertahanan Mekkah bersama Turki dan Pakistan. Namun, kerjasama defensif ini menjadi dilematis bagi Turki-Pakistan.
Menggunakan Pakta Mekkah berperang dengan Houthi, akan membuat Israel tertawa. Karena akan memperluas konflik Timur Tengah, ke Asia Selatan (Pakistan) dan NATO (Turki). Padahal, semua keributan yang kini merebak, berawal dari 7 Oktober 2023 dan 28 Februari 2026. Sumbunya ada di AS-Israel.
Jadi, dari mana perang Arab Saudi-Houthi ini harus diakhiri? Jawabnya cuma satu. Merdeka kan bangsa Palestina. Arab Saudi beserta seluruh anggota Liga Arab kembali ke khittah awal perjuangan. Seragamkan kembali cita-cita (utopia).
Bila tidak, Timur Tengah dan negara Arab Maghribi, akan terus terkoyak. Tanpa tahu, ke arah mana kebenaran harus dituju. Meminta bantuan China mengerem Houthi (lewat Iran), bukanlah solusi komprehensif.
Sabpri Piliang Direktur Eksekutif Arab Maghreb and Middle East (AMMES)