Berita

Ilustrasi Apa Itu Perairan Masalembo yang Dijuluki Segitiga Bermuda Indonesia (Sumber: Gemini Generated Image)

Nusantara

Apa Itu Perairan Masalembo yang Dijuluki Segitiga Bermuda Indonesia?

MINGGU, 20 SEPTEMBER 2026 | 17:50 WIB | OLEH: TIFANI

Perairan Masalembo kembali menjadi sorotan setelah KM Virgo Transport 8 hilang kontak dalam pelayaran dari Surabaya menuju Banjarmasin, Minggu (13/9/2026). Kapal tersebut mengalami kecelakaan di perairan Kalimantan Selatan dan hingga kini masih dalam proses pencarian serta evakuasi oleh tim SAR gabungan.

Insiden tersebut kembali mengingatkan pada kawasan Masalembo yang selama ini dikenal dengan julukan “Segitiga Bermuda Indonesia”. Julukan itu muncul karena sejumlah kecelakaan kapal pernah terjadi di kawasan perairan sekitar Kepulauan Masalembo.

Sejumlah penelitian justru mengaitkan karakter perairan Masalembo yang kompleks.


Letak Perairan Masalembo

Kepulauan Masalembo berada di antara Laut Jawa, Selat Makassar dan Laut Flores. Secara administratif, wilayah kepulauan ini termasuk Kabupaten Sumenep, Jawa Timur.

Kepulauan Masalembo terdiri atas Pulau Masalembo, Masakambing, Karamian, serta Pulau Kambing yang tidak berpenghuni. Kawasan tersebut berada di jalur perairan yang menghubungkan sejumlah wilayah di Indonesia sehingga aktivitas pelayaran menjadi salah satu kegiatan penting di sekitarnya.

Mengutip laman resmi Kabupaten Sumenep, nama Masalembo diambil dari nama kepulauan yang ada di perairan tersebut yaitu Kepulauan Masalembu. Pulau yang semula masih tanpa nama tersebut dahulu penuh dengan hewan jenis sapi atau lembu.

Orang-orang Bugis kemudian menyebut pulau tersebut dengan sebutan Nusa Lembu (pulau sapi). Lama kelamaan penyebutan Nusa Lembu berubah menjadi Masalembu, dari kata masa yang berarti banyak dan lembu yang bermakna sapi.

Sementara ustilah “Segitiga Masalembo” merujuk pada kawasan perairan yang secara geografis berada di antara beberapa wilayah laut tersebut. Penelitian tentang Masalembo menyebut kawasan ini sebagai daerah pertemuan arus dari Laut Jawa, Laut Flores, Selat Bali dan Selat Makassar.

Kondisi yang unik di Perairan Masalembo pernah dijelaskan dalam penelitian LIPI berjudul Menguak Mitos Segitiga Masalembo dalam Perspektif Oseanografi (2016). Salah satu faktor yang membuat perairan Masalembo menarik dari sisi oseanografi adalah keberadaan Arus Lintas Indonesia atau Arlindo.

Arlindo merupakan sistem arus yang membawa massa air dari Samudra Pasifik menuju Samudra Hindia melalui perairan Indonesia. Selat Makassar menjadi salah satu jalur utama sistem arus tersebut. 

Penelitian mengenai struktur Arlindo di Selat Makassar menunjukkan arus kuat berada pada lapisan termoklin dan bergerak ke arah selatan hingga barat daya di bagian utara selat. Di sekitar Segitiga Masalembo, karakter arus tersebut berinteraksi dengan arus musiman di Laut Jawa. 

Pertemuan massa air dengan karakter dan arah pergerakan berbeda dapat membentuk dinamika arus yang kompleks, termasuk turbulensi dan pusaran atau eddy. Kondisi inilah yang kemudian banyak dibahas sebagai salah satu faktor yang memengaruhi kondisi pelayaran di kawasan tersebut.

Selain arus laut, kondisi Masalembo juga dipengaruhi perubahan angin muson. Indonesia mengalami perubahan pola angin secara musiman yang kemudian ikut memengaruhi pergerakan massa air di sejumlah wilayah perairan.

Penelitian tentang kawasan Laut Jawa-Selat Makassar-Laut Flores menunjukkan wilayah tersebut dilalui jalur musiman yang berkaitan dengan sistem monsun dan Arlindo. Karakter arus juga dapat berubah mengikuti musim dan kondisi oseanografi setempat.

Kombinasi antara arus laut, angin, kondisi dasar laut dan perubahan cuaca membuat perairan di sekitar Masalembo memiliki dinamika yang perlu diperhatikan dalam pelayaran. Kondisi tersebut membuat kawasan Masalembo menjadi salah satu wilayah yang menarik perhatian dalam kajian kelautan, terutama terkait dinamika arus, perubahan musim dan keselamatan pelayaran.

Populer

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

Janggal, Purbaya Dipecat Setelah Mencopot Ratusan Pejabat Kemenkeu

Senin, 14 September 2026 | 21:57

Menkeu Baru Angkat Bicara Soal Perombakan Pejabat Bea Cukai dan Dirjen Pajak

Senin, 14 September 2026 | 17:28

UPDATE

Suahasil Puji Bea Cukai Setelah Purbaya Tersingkir, Ada Apa Nih?

Minggu, 20 September 2026 | 19:41

Tim Qonun Asasi Sebut Wacana Muktamar Ulang NU Tak Punya Dasar

Minggu, 20 September 2026 | 19:29

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Rusia Gelar Pemilu Parlemen di Wilayah Ukraina yang Diduduki

Minggu, 20 September 2026 | 18:48

Negosiasi dengan Houthi, Solusi Arab Saudi

Minggu, 20 September 2026 | 18:43

Datangi Pospera, Ratusan Warga Minta Turunkan Desil

Minggu, 20 September 2026 | 18:18

Honor Play 11 Resmi Meluncur, Bawa Baterai Jumbo 8.300 mAh

Minggu, 20 September 2026 | 18:06

Timur Tengah Memanas, Trump Cepat-cepat Tinggalkan Camp David

Minggu, 20 September 2026 | 17:50

Apa Itu Perairan Masalembo yang Dijuluki Segitiga Bermuda Indonesia?

Minggu, 20 September 2026 | 17:50

BNI dan Unpad Perkuat Ekosistem Kampus melalui Layanan Digital Terintegrasi

Minggu, 20 September 2026 | 17:28

Selengkapnya