“Teknologi tidak kehilangan arah dengan sendirinya. Manusialah yang dapat kehilangan orientasi transendensinya ketika menggunakan teknologi.”
KEHADIRAN buku PERADABAN: Not Just Civilization di panggung literasi nasional tidak sekadar menambah volume pustaka, melainkan menawarkan sebuah cara pandang baru dalam membaca hubungan antara manusia, kebudayaan, dan apa yang selama ini disebut civilization.
Dikurasi oleh Penerbit Buku KOMPAS yang dikenal ketat, buku ini mengawali langkahnya melalui format bedah buku yang radikal dan berani: Mahkamah Intelektual. Konsep persidangan pemikiran yang digagas oleh Adhie Massardi dkk. menuntut pertanggungjawaban teoretis langsung dari penulis di hadapan para "jaksa penuntut intelektual" (Prof. DR. Komaruddin Hidayat, DR. Yudi Latif, Kang Sobary).
Format ini sekaligus menunjukkan bahwa gagasan dalam buku ini tidak dimaksudkan untuk diterima sebagai dogma, melainkan untuk diuji.
Secara garis besar, tesis utama buku ini terletak pada pembedaan konseptual antara hasil-hasil kemajuan yang dibangun manusia dan kualitas manusia yang menggunakan seluruh hasil tersebut.
Civilization dapat menunjukkan kemajuan melalui kota, teknologi, institusi, ilmu pengetahuan, ekonomi, dan organisasi sosial. Tetapi bagi PERADABAN, semua itu belum dengan sendirinya menjadi ukuran terakhir kehidupan manusia.
Pertanyaan yang diajukan buku ini lebih mendasar: untuk apa semua kemajuan itu, dan manusia seperti apa yang dibentuk olehnya?
Di tengah dunia kontemporer yang bergerak sangat cepat, ketika kecanggihan teknologi tidak selalu berjalan seiring dengan kematangan moral, buku ini hadir sebagai alarm sekaligus alat diagnosis atas krisis kemanusiaan.
Metodologi Perbandingan: Menakar Posisi di Antara Pemikir IndonesiaUntuk memahami signifikansi pemikiran dalam buku ini, kita perlu meletakkannya dalam komparasi dengan beberapa arus penting dalam sejarah pemikiran Indonesia. Komparasi tersebut bukan untuk mencari siapa yang paling benar, melainkan untuk melihat pertanyaan baru apa yang dibawa oleh PERADABAN.
1. Komparasi dengan Klaster Ideologi dan Kebangsaan: Tan Malaka dan Soekarno
Pada era awal, pemikiran Indonesia banyak berhadapan dengan persoalan kolonialisme, pembebasan, identitas nasional, dan bagaimana membangun bangsa yang merdeka.
Tan Malaka melalui
Madilog menawarkan materialisme-dialektika sebagai perangkat berpikir untuk membebaskan masyarakat dari apa yang disebutnya "logika mistika". Soekarno, melalui pemikiran Pancasila, berusaha menemukan sintesis nilai yang dapat mempersatukan bangsa Indonesia yang plural.
Di mana posisi PERADABAN: Not Just Civilization?
Perbedaannya bukan semata-mata bahwa Tan Malaka dan Soekarno berbicara tentang Indonesia, sedangkan buku ini berbicara tentang dunia. Pemikiran keduanya memiliki cakupan dan konsekuensi yang jauh lebih luas daripada persoalan domestik semata. Distingsinya justru terletak pada lapisan pertanyaan yang diajukan.
Tan Malaka terutama bertanya bagaimana manusia membebaskan cara berpikirnya dari irasionalitas. Soekarno bertanya bagaimana bangsa yang plural dapat menemukan dasar bersama bagi kehidupan bernegara.
PERADABAN mengajukan pertanyaan yang mendahului sekaligus melampaui keduanya: dengan ukuran apa seluruh hasil pembebasan, pembangunan, ilmu pengetahuan, teknologi, dan tata kehidupan manusia harus dinilai agar benar-benar memuliakan manusia?
Dengan demikian, buku ini tidak menawarkan ideologi baru untuk menggantikan Tan Malaka atau Pancasila. Ia menawarkan lapisan pengujian terhadap hasil seluruh ikhtiar manusia.
Apakah pembangunan membuat manusia semakin bermartabat? Apakah teknologi memperluas kemerdekaan manusia atau justru memperbudaknya? Apakah kekuasaan menghasilkan keadilan atau hanya memperbesar kemampuan untuk menguasai?
Di sinilah cakrawala buku ini bergerak dari persoalan apa yang harus dibangun menuju persoalan manusia seperti apa yang dibentuk oleh apa yang dibangunnya.
2. Komparasi dengan Filsafat Kultural: Franz Magnis-Suseno dan Tradisi Filsafat Nusantara
Klaster berikutnya dalam tradisi filsafat Indonesia berusaha membaca manusia dan kebudayaan melalui struktur nilai yang hidup dalam masyarakat.
Franz Magnis-Suseno, misalnya, melalui kajiannya tentang etika Jawa, membedah pandangan hidup, keselarasan, dan prinsip-prinsip etis yang bekerja dalam kebudayaan Jawa. Tradisi filsafat Pancasila dan pemikiran kultural lainnya juga berusaha menemukan serta menyistematisasikan nilai-nilai yang hidup dalam pengalaman masyarakat Indonesia.
Lalu di mana posisi PERADABAN: Not Just Civilization?
Perbedaannya tidak terutama terletak pada lokal dan global, melainkan pada titik keberangkatan analisisnya. Etika terutama bertanya: apa yang seharusnya dilakukan manusia?
PERADABAN bergerak satu lapis lebih awal: dari mana manusia memperoleh orientasi nilai untuk menentukan apa yang seharusnya dilakukan?
Di sinilah konsep nilai transenden menjadi penting.
Dalam buku ini, nilai transenden tidak diperlakukan sebagai milik eksklusif agama atau kebudayaan tertentu. Ia dipahami sebagai kesadaran kognitif manusia akan adanya sesuatu yang lebih besar dan lebih kuat daripada dirinya, yang kemudian menjadi sumber orientasi bagi kehidupan.
Ketika nilai tersebut tidak berhenti sebagai keyakinan, melainkan menjelma ke dalam cara manusia berpikir, bersikap, bertindak, dan membangun kehidupan bersama, lahirlah adab.
Dan di sinilah salah satu rumusan paling penting buku ini menemukan tempatnya: Adab adalah cara nilai transenden menjelma menjadi kehidupan manusia.
Dari titik itu, PERADABAN tidak mengurung dirinya dalam romantisme suatu tradisi lokal. Ia menggunakan pengalaman manusia yang universal untuk mengajukan pertanyaan yang dapat dibawa ke berbagai kebudayaan: apakah seluruh hasil kebudayaan benar-benar digunakan untuk meningkatkan harkat dan memuliakan martabat manusia?
3. Komparasi dengan Eksplorasi Teoretis Kontemporer: Driyarkara, Kuntowijoyo, dan Yudi Latif
Dalam ranah akademis kontemporer, sejumlah pemikir Indonesia menawarkan metodologi analisis yang mempertemukan manusia, kebudayaan, nilai, dan transendensi.
N. Driyarkara menawarkan gagasan tentang hominisasi dan humanisasi dalam filsafat manusia. Kuntowijoyo menggagas Strukturalisme Transendental dan ilmu sosial profetik. Yudi Latif mengembangkan pembacaan atas Pancasila, termasuk gagasan Rasionalitas Pancasila, sebagai kerangka kehidupan kebangsaan.
Di sinilah komparasi dengan
PERADABAN: Not Just Civilization menjadi menarik.
Driyarkara terutama berbicara tentang proses menjadi manusia dan bagaimana manusia harus terus dihumanisasikan.
PERADABAN mengambil pertanyaan itu ke tingkat yang lebih luas: bagaimana seluruh kebudayaan yang diciptakan manusia dapat diuji berdasarkan dampaknya terhadap kemanusiaan?
Kuntowijoyo membawa transendensi ke dalam pembacaan ilmu sosial dan kehidupan profetik. PERADABAN menjadikan nilai transenden sebagai orientasi dasar untuk membaca hasil kebudayaan secara keseluruhan—dari teknologi, ilmu pengetahuan, ekonomi, politik, hukum, sampai tata kehidupan sosial.
Sementara Yudi Latif menunjukkan bagaimana Pancasila dapat dibaca sebagai rasionalitas dan dasar kehidupan bangsa Indonesia, PERADABAN mengajukan pertanyaan yang lebih universal: apa pun sistem nilai, institusi, atau produk kebudayaan yang dibangun manusia, dengan ukuran apa ia harus dinilai?
Karena itu, hubungan antara Pancasila dan PERADABAN tidak perlu ditempatkan sebagai pertentangan. Pancasila dapat menjadi dasar kehidupan kebangsaan Indonesia; sementara PERADABAN menawarkan horizon untuk membaca apakah kehidupan yang dibangun berdasarkan nilai tersebut benar-benar menghasilkan manusia yang semakin bermartabat.
Di titik ini, buku Adhie Massardi tidak sekadar menawarkan teori tentang Indonesia. Ia mengajukan alat baca yang dapat dibawa keluar dari batas geografis dan kebudayaan tertentu.
Ujian Empiris: Human Rights sebagai Ekstraksi Adab UniversalKekuatan dan sifat universalitas pemikiran dalam buku ini semakin nyata ketika Adhie Massardi membedah
Human Rights (HAM) sebagai salah satu pencapaian tertinggi peradaban modern. Dengan mengangkat kasus Palestina sebagai batu uji empirisnya, buku ini dengan tangkas menepis kecurigaan bahwa HAM adalah sekadar ideologi Barat atau alat hegemonik.
Sebagaimana ditegaskan pada halaman 86:
“
...human rights memperlihatkan makna historis dan filosofisnya yang paling dalam. Semua agama dan tradisi besar umat manusia sejatinya telah memiliki etika, norma, dan standar moral tentang martabat manusia. Akan tetapi, nilai-nilai tersebut baru mencapai bentuk kesatuan global ketika ia diekstraksi dari konteks teologis dan kulturalnya ke dalam bahasa bersama yang dapat dipahami lintas iman, bangsa, dan peradaban. Bahasa itu adalah human rights. Ia bukan agama baru, bukan pula ideologi Barat, melainkan ekstraksi prinsip absolut adab ke dalam bentuk normatif global.”
Melalui pembacaan ini, Adhie Massardi memperlihatkan bahwa ketika penderitaan di Palestina hanya dibingkai sebagai konflik identitas, etnis, atau agama, dunia akan terfragmentasi. Namun ketika dipahami sebagai pelanggaran universal terhadap harkat dan martabat manusia, dunia menemukan kesatuan kompas moralnya. Di sinilah buku ini membuktikan bahwa adab bukan sekadar teori, melainkan jawaban atas krisis kemanusiaan global
Menguji Empat Kerangka Besar tentang PeradabanDalam lanskap pemikiran global, terdapat sejumlah teori besar yang berusaha menjelaskan bagaimana masyarakat dan peradaban lahir, berkembang, menghadapi tantangan, dan mengalami kemunduran. Di antara nama yang paling berpengaruh adalah Ibn Khaldun, Oswald Spengler, Arnold Toynbee, dan Samuel Huntington.
PERADABAN: Not Just Civilization tidak perlu dipahami sebagai usaha untuk sekadar "mematahkan" teori-teori tersebut. Yang lebih menarik adalah melihat bagaimana buku ini mengajukan ukuran yang berbeda terhadap pertanyaan yang sama.
Ibn Khaldun: Energi Sosial dan Arah KekuasaanIbn Khaldun menjelaskan dinamika masyarakat dan kekuasaan melalui konsep
asabiyyah, solidaritas kelompok yang memungkinkan suatu masyarakat membangun kekuatan politik dan peradaban.
PERADABAN tidak menolak pentingnya energi sosial tersebut. Tetapi ia mengajukan pertanyaan lanjutan: Kemana energi sosial itu diarahkan?
Solidaritas dapat membangun masyarakat, tetapi solidaritas juga dapat digunakan untuk memperbesar kekuasaan kelompok. Karena itu, energi sosial saja belum cukup menjadi ukuran peradaban.
Yang diuji adalah arah penggunaannya.
Di sinilah adab menjadi penting: energi sosial yang tidak diarahkan oleh nilai yang memuliakan manusia dapat menghasilkan organisasi dan kekuasaan, tetapi belum tentu menghasilkan PERADABAN.
Spengler: Siklus dan FatalismeOswald Spengler melihat kebudayaan dan peradaban dalam pola organik: lahir, tumbuh, menua, dan akhirnya mengalami keruntuhan. PERADABAN menawarkan pembacaan yang berbeda.
Jika ukuran peradaban bukan semata-mata usia, kekuatan, atau ekspansi sebuah sistem, melainkan kualitas manusia dan nilai yang mengarahkannya, maka masa depan peradaban tidak harus diterima sebagai takdir biologis atau historis.
Selama manusia masih mampu menjaga orientasi nilainya dan menggunakan hasil kebudayaannya untuk memuliakan kehidupan, selalu terdapat ruang bagi pembaruan.
Toynbee: Challenge and ResponseArnold Toynbee melihat dinamika peradaban melalui hubungan antara
challenge and response. PERADABAN menerima pentingnya kemampuan manusia merespons tantangan. Namun respons yang berhasil secara teknis belum otomatis merupakan respons yang beradab.
Sebuah masyarakat dapat memenangkan tantangan teknologi, ekonomi, atau militer, tetapi sekaligus kehilangan orientasi kemanusiaannya. Karena itu, pertanyaan PERADABAN terhadap Toynbee menjadi: Respons seperti apa yang membuat manusia tetap menjadi manusia?
Huntington: Clash of CivilizationsSamuel Huntington menggeser perhatian dunia kepada kemungkinan benturan antarkelompok peradaban yang berbeda. Di sini PERADABAN menawarkan koreksi yang sangat penting.
Jika PERADABAN dipahami sebagai kehidupan manusia yang berorientasi pada nilai-nilai yang memuliakan kehidupan, maka yang sesungguhnya berbenturan bukanlah "hakikat peradaban" itu sendiri.
Yang berbenturan adalah kepentingan, kekuasaan, identitas, tafsir, dan hasrat hegemoni manusia yang mengatasnamakan peradaban.
Dengan demikian, problem dunia tidak harus dibaca sebagai takdir benturan antarperadaban. Ia dapat dibaca sebagai krisis makna ketika manusia kehilangan kompas moral dalam menggunakan identitas, kekuasaan, dan hasil kebudayaannya.
Ketika Produk Kebudayaan Menjadi UjianDi sinilah salah satu kekuatan konseptual buku ini menjadi nyata. PERADABAN tidak menganggap teknologi sebagai musuh. Teknologi adalah produk kebudayaan. Ilmu pengetahuan adalah produk kebudayaan. Institusi adalah produk kebudayaan. Demokrasi, hukum, ekonomi, seni, dan berbagai sistem kehidupan yang diciptakan manusia juga merupakan produk kebudayaan.
Karena itu, yang menentukan tinggi-rendahnya PERADABAN bukanlah tingkat kecanggihan produk tersebut. Ujiannya adalah ketika produk itu diterapkan dalam kehidupan.
Teknologi nuklir, misalnya, dapat digunakan sebagai sumber energi yang aman, membantu menyediakan kehidupan yang lebih bersih dan efisien, sekaligus menjaga sumber daya bumi. Tetapi teknologi yang sama dapat dikembangkan menjadi senjata yang mengancam keberlangsungan kehidupan.
Demikian pula kecerdasan buatan (
Artificial Intelligence). Ia merupakan produk kebudayaan yang dirancang untuk meningkatkan harkat dan martabat kemanusiaan.
AI dapat digunakan untuk mengambil alih pekerjaan mekanikal dan repetitif sehingga manusia memiliki lebih banyak waktu untuk melakukan hal-hal yang lebih produktif sebagai manusia. Tetapi jika manusia menyerahkan seluruh tanggung jawab berpikir, memilih, dan memutuskan kepada mesin, teknologi yang semula dimaksudkan untuk membebaskan manusia justru dapat mengikis kemanusiaannya.
Maka pertanyaan PERADABAN bukan: Seberapa canggih teknologi yang berhasil kita ciptakan? Melainkan: Manusia seperti apa yang dibentuk oleh teknologi itu? Di sinilah buku ini menyentuh persoalan yang jauh lebih dalam daripada sekadar kritik terhadap materialisme.
Kekuatan Utama: Applicability Tanpa Batas SejarahSalah satu kekuatan utama
PERADABAN: Not Just Civilization terletak pada daya gunanya sebagai alat baca.
Buku ini tidak berhenti pada sejarah sebuah bangsa atau kebudayaan tertentu. Ia menawarkan sebuah kerangka yang dapat digunakan untuk membaca berbagai keadaan manusia: masyarakat tradisional maupun industri, negara maju maupun berkembang, masyarakat religius maupun sekuler, dunia yang sangat teknologis maupun masyarakat yang masih bergulat dengan persoalan dasar kehidupan.
Hal ini dimungkinkan karena titik berangkatnya bukan bentuk kebudayaan, melainkan manusia dan nilai yang mengarahkan kebudayaan. Dengan kerangka tersebut, seorang pembaca di Eropa, Asia, Timur Tengah, Afrika, maupun Amerika dapat mengajukan pertanyaan yang sama terhadap masyarakatnya sendiri: Apakah seluruh kemajuan yang kami bangun membuat manusia semakin bermartabat?
Jika jawabannya ya, maka kebudayaan sedang menjalankan fungsi peradabannya. Jika tidak, maka kecanggihan yang dicapai justru perlu dipertanyakan. Dengan demikian, PERADABAN bukan sekadar teori tentang masa lalu. Ia adalah alat untuk membaca masa kini sekaligus menguji arah masa depan.
Dari Indonesia untuk DuniaDi sinilah arti penting buku ini bagi tradisi pemikiran Indonesia. Selama ini pemikir Indonesia kerap ditempatkan sebagai penerima, penafsir, atau pengadaptasi gagasan yang lahir dari pusat-pusat pemikiran dunia.
PERADABAN: Not Just Civilization menunjukkan kemungkinan yang berbeda. Ia berangkat dari sebuah kata yang memiliki sejarah panjang dalam khazanah bahasa dan kebudayaan kita, PERADABAN, lalu membongkar kembali makna yang dikandungnya dan menempatkannya dalam percakapan universal tentang manusia.
Karena itu, buku ini tidak sedang menawarkan terjemahan baru bagi
civilization. Ia justru mempertanyakan apakah keduanya memang harus diperlakukan sebagai kata yang identik.
Civitas melahirkan sebuah tradisi pemikiran tentang kota, kewargaan, tata kehidupan sipil, dan organisasi masyarakat. Dalam perjalanan sejarahnya,
civilization kemudian berkembang menjadi salah satu cara untuk membaca kemajuan masyarakat.
PERADABAN memiliki titik keberangkatan yang berbeda: adab. Yang menjadi pusatnya bukan kota, bukan negara, dan bukan institusi, melainkan manusia yang beradab. Dari sinilah perbedaan itu menjadi epistemologis.
Civilization cenderung bertanya: Apa yang telah berhasil dibangun manusia? PERADABAN bertanya: Manusia seperti apa yang sedang dibentuk oleh seluruh bangunan itu?
Pertanyaan pertama menilai hasil. Pertanyaan kedua menguji arah. Dan pada akhirnya, ukuran itu kembali kepada manusia: apakah seluruh hasil ciptaannya digunakan untuk meningkatkan harkat dan memuliakan martabat kehidupan.
Menempatkan Pemikiran Indonesia di Kancah GlobalMelalui
PERADABAN: Not Just Civilization, Adhie M Massardi tidak sekadar menawarkan sebuah buku tentang perbedaan istilah. Ia menawarkan sebuah cara membaca ulang manusia dan hasil kebudayaannya.
Buku ini mengingatkan bahwa manusia dapat menciptakan teknologi paling canggih, membangun kota paling megah, membentuk institusi paling kompleks, dan menguasai kekayaan alam dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Namun semua itu belum dengan sendirinya menjawab pertanyaan paling mendasar: Apakah manusia menjadi semakin manusia?
Di sinilah konsep adab memperoleh tempat sentral. Adab bukan sekadar tata krama, etiket, atau kesopanan. Ia adalah ketika nilai yang lebih tinggi daripada kepentingan diri menjelma menjadi orientasi kehidupan.
Adab adalah cara nilai transenden menjelma menjadi kehidupan manusia. Dengan pengertian itu, PERADABAN tidak memusuhi teknologi, ilmu pengetahuan, ekonomi, demokrasi, ataupun institusi modern. Sebaliknya, PERADABAN memberi semuanya kompas moral.
Sebab teknologi tidak menentukan tinggi-rendahnya peradaban. Kekayaan tidak menentukan tinggi-rendahnya peradaban. Kekuatan negara tidak menentukan tinggi-rendahnya peradaban.
Yang menentukan adalah bagaimana semua itu digunakan untuk menghadirkan kehidupan yang semakin adil, sejahtera, bermartabat, dan manusiawi.
Karena itu, kontribusi paling penting buku ini mungkin justru bukan jawabannya, melainkan pertanyaan yang ditinggalkannya: Jika seluruh kemajuan yang dibangun manusia pada akhirnya justru merendahkan harkat dan martabat manusia, masih layakkah semua itu disebut peradaban?
Pertanyaan tersebut membuat buku ini relevan bukan hanya bagi Indonesia, tetapi bagi dunia yang sedang menghadapi paradoks kemajuan: semakin besar kemampuan manusia menguasai alam dan teknologi, semakin besar pula tanggung jawabnya untuk memastikan bahwa kemampuan itu tidak berbalik menghancurkan kehidupan.
Dengan demikian,
PERADABAN: Not Just Civilization dapat dibaca sebagai sebuah pernyataan percaya diri bahwa pemikiran yang lahir dari Indonesia tidak harus berhenti menjadi penafsir teori-teori dunia. Ia dapat ikut menawarkan konsep untuk dibicarakan dunia.
Buku ini lahir dari sebuah kata yang tidak perlu dipaksa mencari padanan sempurna dalam bahasa lain. PERADABAN adalah PERADABAN.
Bukan sekadar karena tidak ada terjemahannya, melainkan karena kata itu membawa beban sejarah, pengalaman, dan cara pandang tertentu tentang manusia yang tidak seluruhnya dapat dipindahkan ke kata lain.
Dan mungkin justru di situlah sumbangan paling menarik buku ini: bukan meminta dunia mengganti
civilization, tetapi mengajak dunia melihat bahwa ada sesuatu yang belum selesai ketika kehidupan manusia hanya diukur dari apa yang berhasil dibangunnya.
Sebab pada akhirnya, yang paling menentukan bukan sebesar apa dunia yang berhasil dibangun manusia, melainkan seberapa manusiawi kehidupan yang berlangsung di dalamnya.
Buku PERADABAN: Not Just Civilization adalah karya universal yang lahir dari rahim pemikiran bangsa Indonesia.
Pengajar mata kuliah Hubungan Internasional dan Kebudayaan UIN Syarif Hidayatullah, mantan Wakil Rektor Universitas Bung Karno (UBK).