Berita

Ilustrasi. (Foto: Generate AI)

Bisnis

Rupiah Tertekan, The Fed Buka Peluang Kerek Bunga Lagi

KAMIS, 17 SEPTEMBER 2026 | 10:28 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Rupiah kembali tertekan terhadap Dolar AS hingga menembus level Rp17.746 per Dolar AS pada perdagangan Kamis, 17 September 2026.

Mengutip data Bloomberg, Rupiah melemah 50 poin atau 0,28 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Andalas, Prof Syafruddin Karimi menilai tekanan terhadap mata uang Garuda berpotensi semakin besar menyusul perubahan arah kebijakan moneter Amerika Serikat.


Menurutnya, kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) sebesar 25 basis poin menjadi 3,75-4,00 persen bukan sekadar pengetatan moneter biasa. Pasar juga harus mencermati sinyal kenaikan suku bunga lanjutan hingga akhir 2026.

Sebanyak 16 dari 18 pembuat kebijakan The Fed memperkirakan setidaknya satu kali kenaikan suku bunga lagi sebelum tahun ini berakhir, sehingga membuat Rupiah semakin tertekan.

“Ancaman bagi rupiah bukan satu Fed hike, melainkan perubahan rezim dari higher-for-longer menjadi higher-again,” kata Syafruddin dalam risetnya.

Ia menjelaskan, kombinasi inflasi Amerika Serikat yang masih tinggi dan kondisi ekonomi yang relatif kuat membuat ruang pengetatan moneter tetap terbuka.

Inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) AS diproyeksikan mencapai 3,7 persen pada 2026 dan baru kembali ke target 2 persen pada 2029. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi diperkirakan sebesar 2,3 persen dengan tingkat pengangguran 4,1 persen.

Kondisi tersebut menunjukkan perekonomian AS masih cukup kuat untuk menghadapi kebijakan suku bunga ketat. Situasi ini sekaligus menjadi tantangan bagi negara berkembang, termasuk Indonesia.

Syafruddin menuturkan, kenaikan suku bunga The Fed dapat meningkatkan daya tarik aset berbasis Dolar AS di mata investor global.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun bahkan berada di kisaran 4,96 persen sesaat setelah keputusan The Fed.

“Investor akan membandingkan potensi keuntungan dari aset Rupiah dengan aset Dolar AS, termasuk memperhitungkan risiko pergerakan nilai tukar,” tuturnya.

Jika selisih imbal hasil semakin menyempit dan risiko pelemahan Rupiah meningkat, investor berpotensi mengalihkan modal ke aset berdenominasi Dolar AS.

“Dolar menguat, permintaan lindung nilai meningkat, dan tekanan terhadap rupiah dapat membesar. Karena itu, perubahan ekspektasi jalur Fed dapat memengaruhi rupiah bahkan sebelum kenaikan berikutnya benar-benar diumumkan kepada pasar,” tandasnya.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

UPDATE

Bos Danantara Ungkap Proses Pangkas BUMN Tak Mudah

Rabu, 07 Oktober 2026 | 12:11

Hingga Siang Nusron Belum Hadir, KPK Masih Menunggu

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:53

PJBS Direvisi, Porsi Saham Bayan Resources yang Dibeli Haji Isam Bertambah Jadi 10,08 Miliar

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:44

Nasib Gibran Kini Tergantung Prabowo

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:37

Empat WNI Pulang ke Tanah Air usai Enam Bulan Disandera Bajak Laut Somalia

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:31

PDIP: Kebohongan Gibran Lulus SMA Sederajat Tercatat dalam Putusan Negara!

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:31

Putusan MK soal Gibran Buka Perdebatan Demokrasi

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:21

DPR Minta Pemerintah Percepat Huntara bagi Korban Gempa Flores

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:19

Rita Widyasari Kembali Diperiksa KPK

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:17

Badai Dekati Amerika, Harga Minyak Naik Lagi

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:01

Selengkapnya