Berita

Ilustasi (RMOL/Reni Erina)

Bisnis

Bursa Eropa Bangkit saat Pasar Tunggu Gebrakan The Fed

KAMIS, 17 SEPTEMBER 2026 | 07:15 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Bursa saham Eropa berbalik menguat pada akhir perdagangan Rabu 16 September 2026 waktu setempat, setelah merosot ke level terendah dalam tiga bulan pada sesi sebelumnya. 

Pergerakan positif didorong meredanya reli harga minyak yang kembali meningkatkan minat investor terhadap aset berisiko menjelang keputusan kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed).

Indeks pan-Eropa STOXX 600 ditutup naik 0,46 persen atau 2,91 poin ke level 637,09, 


Penguatan juga terjadi pada sejumlah indeks utama. DAX Jerman naik 0,53 persen atau 135,47 poin menjadi 25.537,75. FTSE 100 Inggris bertambah 0,28 persen atau 30,34 poin ke 10.688,47, sedangkan CAC 40 Prancis menguat 0,62 persen atau 50,31 poin menjadi 8.140,59.

Perhatian investor kini tertuju pada keputusan The Fed. Pelaku pasar memperkirakan bank sentral Amerika Serikat tersebut akan menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya sejak 2023.

Berdasarkan FedWatch Tool CME Group, probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin mencapai 93 persen. Jika terealisasi, kenaikan tersebut akan menjadi yang pertama sejak Kevin Warsh menjabat sebagai Chairman The Fed.

Selain kebijakan The Fed, investor juga mencermati risiko inflasi yang dipicu konflik Iran. Kekhawatiran tersebut kembali memengaruhi prospek suku bunga global, mendorong imbal hasil obligasi di sejumlah negara dan menekan aset berisiko.

Di Eropa, Bank Sentral Eropa (ECB) disebut telah menaikkan suku bunga untuk kedua kalinya tahun ini pada pekan sebelumnya. Data LSEG menunjukkan pasar masih memperkirakan ECB akan kembali menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin sebelum akhir tahun.

Namun, tekanan upah di zona euro mulai mereda. Pertumbuhan upah kembali melambat pada kuartal terakhir, sementara kesepakatan upah yang telah dinegosiasikan hanya mengindikasikan kenaikan moderat pada tahun depan. Kondisi ini memberi ruang bagi pembuat kebijakan untuk menilai bahwa tekanan harga masih terkendali.

Dari pasar komoditas, harga minyak turun hampir 1 persen setelah data menunjukkan persediaan minyak mentah Amerika Serikat melonjak jauh di atas perkiraan. Pelemahan harga minyak terjadi di tengah gangguan pasokan yang masih berlangsung di Timur Tengah.

Penurunan harga minyak menekan saham sektor energi yang menjadi salah satu pemberat utama STOXX 600. Sebaliknya, sektor perjalanan dan rekreasi melonjak 1,2 persen karena ekspektasi biaya bahan bakar yang lebih rendah memberi sentimen positif bagi industri tersebut.

Imbal hasil obligasi pemerintah Eropa juga turun dari level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir. Imbal hasil surat utang pemerintah Inggris tenor pendek bahkan diperkirakan mencatat penurunan harian terbesar sejak 20 Mei, dengan penurunan lebih dalam dibandingkan sejumlah negara Eropa lainnya.

Pasar juga mencermati data inflasi Inggris yang meningkat menjadi 3,1 persen pada Agustus dari 2,9 persen pada Juli. Data tersebut dirilis sehari sebelum keputusan kebijakan Bank of England (BoE), yang secara luas diperkirakan mempertahankan suku bunga.

Sementara itu, saham perbankan Eropa menguat 0,5 persen dan memulihkan sebagian kerugian pada perdagangan Selasa.

Di antara saham individual, produsen material semikonduktor Soitec menjadi salah satu penguat terbesar di STOXX 600 dengan lonjakan 13,4 persen. Kenaikan terjadi setelah JPMorgan menaikkan rekomendasi saham perusahaan tersebut menjadi "overweight" dari sebelumnya "neutral".

Saham Barratt Redrow juga melambung 11,7 persen setelah perusahaan membukukan laba sebelum pajak yang disesuaikan sebesar 771,5 juta Dolar AS untuk tahun berjalan, melampaui ekspektasi pasar. Meski demikian, perusahaan memangkas target penyelesaian pembangunan rumah untuk tahun fiskal hingga Juni 2027.

Saham Pan African Resources naik 5,5 persen setelah perusahaan pertambangan tersebut menyatakan pendapatan setahun penuh meningkat lebih dari dua kali lipat.

Adapun saham Babcock International, perusahaan pertahanan dan rekayasa asal Inggris, menguat 2,8 persen setelah mempertahankan proyeksi kinerja tahunannya.

Populer

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Jusuf Hamka Siapkan Rp5 Triliun untuk Borong Saham

Minggu, 18 Oktober 2026 | 11:21

UPDATE

Wakil Bupati Bogor Jaro Ade Dipanggil KPK

Selasa, 27 Oktober 2026 | 12:31

Bisnis Ritel MAP Tumbuh Dua Digit, Laba Bersih Capai Rp2,1 Triliun

Selasa, 27 Oktober 2026 | 12:30

Konser Ye Sumbang Perputaran Ekonomi Rp600 Miliar, UMKM Ikut Kecipratan

Selasa, 27 Oktober 2026 | 12:20

Cari Pemimpin Baru, Kadin Jaktim akan Gelar Mukota VII

Selasa, 27 Oktober 2026 | 12:20

Ekosistem Baterai Makin Maju, Toyota Didorong Garap Full EV

Selasa, 27 Oktober 2026 | 12:16

KPK Panggil Sejumlah Tenaga Ahli dan Kepala Biro BNPB

Selasa, 27 Oktober 2026 | 12:01

Periksa Suhu

Selasa, 27 Oktober 2026 | 12:00

Dony Oskaria Kumpulkan Petinggi BUMN, Ada Apa?

Selasa, 27 Oktober 2026 | 11:51

Bank Mandiri Buka-bukaan Soal Kredit Rp40 Triliun ke Haji Isam, Beberkan Agunan Saham JARR-PGUN

Selasa, 27 Oktober 2026 | 11:41

Sempat Mangkir, KPK Bakal Panggil Ulang Suami Fadia Arafiq

Selasa, 27 Oktober 2026 | 11:26

Selengkapnya