Berita

Ilustrasi (Foto: Net)

Bisnis

Risiko Geopolitik Angkat ICP Agustus ke 89,43 Dolar AS per Barel

JUMAT, 11 SEPTEMBER 2026 | 13:48 WIB | LAPORAN: SARAH ALIFIA SURYADI

Harga Minyak Mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) naik 7,75 Dolar AS per barel pada Agustus 2026 menjadi 89,43 Dolar AS per barel. Kenaikan tersebut dipengaruhi meningkatnya risiko geopolitik dan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan di jalur distribusi minyak internasional.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Laode Sulaeman mengatakan, kenaikan tersebut ditetapkan melalui Keputusan Menteri ESDM Nomor 352.K/MG.03/MEM.M/2026.

“Rata-rata ICP Agustus 2026 yang naik menjadi 89,43 Dolar AS per barel akibat dinamika pasar global yang dipengaruhi oleh tingginya risiko geopolitik serta potensi gangguan pasokan di jalur-jalur krusial,” ujar Laode di Jakarta, Jumat, 11 September 2026.


Menurutnya, ketegangan di kawasan Selat Hormuz dan Laut Merah, termasuk serangan terhadap kapal tanker dan fasilitas kilang, turut memicu kekhawatiran pasar terhadap pasokan minyak dunia.

Kenaikan ICP tersebut sejalan dengan pergerakan harga minyak mentah utama di pasar internasional selama Agustus 2026. Harga Brent (ICE) naik dari 83,97 menjadi 88,08 Dolar AS per barel, sedangkan WTI (Nymex) meningkat dari 79,22 menjadi 82,45 Dolar AS per barel.

Dated Brent juga naik dari 83,41 menjadi 90,84 Dolar AS per barel. Selain risiko gangguan jalur maritim, sanksi politik dan ekonomi serta kebuntuan diplomasi internasional turut membatasi peluang penurunan harga minyak dunia.

Memasuki September 2026, ICP diproyeksikan masih berada pada level tinggi, yakni di kisaran 83,00 hingga 87,00 Dolar AS per barel. Proyeksi tersebut dipengaruhi kendala pasokan di Selat Hormuz serta perkiraan penurunan cadangan minyak di Amerika Serikat.

Pemerintah menyatakan akan terus memantau pergerakan harga minyak mentah dunia untuk menjaga ketahanan energi nasional. Formula ICP juga disebut tetap transparan dan mencerminkan dinamika pasar internasional agar akuntabel bagi keuangan negara serta industri hulu migas.

“Berbagai ketegangan di kawasan Selat Hormuz dan Laut Merah, termasuk serangan terhadap kapal tanker dan fasilitas kilang, telah memicu kekhawatiran pasar terhadap pasokan minyak dunia,” pungkas Laode.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

UPDATE

Terbuka Peluang Duetkan Pramono-AHY di 2029

Jumat, 11 September 2026 | 06:21

Komnas Palestina Salurkan 300.000 Liter Air Bersih ke Gaza

Jumat, 11 September 2026 | 06:08

Buku 'Islam Ala Prabowo' Bukan Produk MUI

Jumat, 11 September 2026 | 05:31

Tak Ada Alasan MK Menolak Gugatan Denny Indrayana Cs

Jumat, 11 September 2026 | 05:14

Kemenhaj Tutup Celah Jual Beli Antrean Haji Khusus

Jumat, 11 September 2026 | 05:04

Tiket Termurah Persija vs Persib Rp150 Ribu, Termahal Rp1,5 Juta

Jumat, 11 September 2026 | 04:24

Pansus Papua DPD RI Harus Bongkar Akar Konflik

Jumat, 11 September 2026 | 04:00

Perampasan Aset: Keharusan Hukum vs Kecemasan Publik

Jumat, 11 September 2026 | 03:39

Kudu Yakin Persib Libas Persija 2-0

Jumat, 11 September 2026 | 03:18

Terima Aspirasi Buruh

Jumat, 11 September 2026 | 03:00

Selengkapnya