Gedung BCA. (Foto: Dok BCA)
Obligasi dan reksa dana pasar uang menjadi instrumen investasi yang paling banyak tumbuh di kalangan nasabah PT Bank Central Asia Tbk (BCA).
EVP Wealth Management, Indrawan B mengungkapkan kedua instrumen tersebut sejak awal menjadi pilihan kuat nasabah BCA yang memiliki karakter konservatif.
“Jadi dari awal itu kita memang sangat strong di bonds, di obligasi, kemudian kalau kita bicara mutual fund juga kita sangat strong di money market. Jadi memang tumbuhnya di situ,” kata Indrawan dalam konferensi pers BCA Wealth Summit 2026 di Jakarta, dikutip Kamis, 10 September 2026.
Menurut Indrawan, dua instrumen yang dominan itu bukan semata-mata karena adanya gejolak di pasar saham. Komposisi tersebut memang sudah menjadi karakter investasi nasabah BCA sejak awal.
“Sebenarnya sih bukan pergeseran ya, karena memang dari awal, dari awal itu DNA nasabah BCA itu memang lebih konservatif,” katanya.
Ia mengatakan kondisi pasar saham yang sempat bergejolak memang berdampak terhadap kinerja instrumen berbasis ekuitas. Namun, perubahan portofolio nasabah dari saham ke instrumen lain tidak terlalu terlihat lantaran porsi investasi pada ekuitas memang tidak besar.
“Kalau lihat pergeserannya mungkin nggak terlalu kelihatan karena memang belum banyak yang di equity. Jadi memang kondisi sekarang ini sesuai dengan profil nasabah kita yang konservatif. Jadi memang tumbuhnya lebih banyak di bonds dan money market,” ujar dia.
Indrawan juga mengingatkan investor agar tidak terlalu fokus mencari momentum terbaik untuk masuk ke pasar. Menurutnya, kondisi pasar sulit diprediksi sehingga investasi secara berkala dapat menjadi pilihan untuk mengurangi risiko salah menentukan waktu.
“Market kan berubah. Kita juga nggak pernah tahu kapan posisinya naik, kapan posisinya turun. Kalau tahu kan kita semua jadi orang kaya. Pas posisi turun kita beli, pas posisi naik kita jual,” ujarnya.
Ia menyarankan masyarakat menerapkan strategi averaging dengan berinvestasi secara rutin, termasuk melalui nominal kecil.
“Paling aman sebenarnya bagaimana? Di averaging. Jadi kita tiap, ya misalnya kasarnya tiap hari beli aja Rp10 ribu, Rp10 ribu, Rp10 ribu,” kata Indrawan.
Menurutnya, investasi juga tidak perlu menunggu adanya dana yang tersisa. Masyarakat justru perlu menjadikan investasi sebagai bagian dari alokasi keuangan rutin.
“Investasi itu tidak harus menunggu uangnya sisa. Kadang-kadang kan ada yang berprinsip kalau ada duit sisa, duit lebih bolehlah kita investasikan. Harusnya dibalik,” tuturnya.
Meski demikian, pemilihan instrumen tetap perlu disesuaikan dengan profil risiko dan jangka waktu investasi masing-masing investor.
Sementara itu, BCA mencatat aset under management (AUM) mencapai Rp339 triliun hingga Juni 2026, tumbuh 16 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Direktur BCA Haryanto T. Budiman mengatakan pertumbuhan tersebut menunjukkan semakin banyak masyarakat yang mulai memahami pentingnya investasi.
Menurutnya, pertumbuhan tersebut mencerminkan tingginya kepercayaan nasabah terhadap BCA dalam mengelola dan mengembangkan dana mereka.
Nasabah tidak hanya menempatkan dana dalam produk simpanan seperti rekening giro, tabungan, dan deposito, tetapi juga mulai memanfaatkan berbagai instrumen investasi yang tersedia.
"Ini adalah yang kita inginkan. Kita gak pernah ada set target seperti apa, tapi faktanya menunjukkan memang selalu meningkat," ujarnya.